Penelitian Unand Ungkap Tepung Kacang Lima Berpotensi Aman Jadi Sumber Protein Nabati Alternatif
Penelitian Universitas Andalas menemukan tepung kacang lima yang telah melalui proses pengolahan menunjukkan profil keamanan yang baik pada uji konsumsi berulang selama 28 hari pada hewan uji. Meski demikian, peneliti menegaskan masih diperlukan penelitian lanjutan sebelum direkomendasikan untuk konsumsi jangka panjang pada manusia.
RINGKASAN BERITA:
- Penelitian Unand menunjukkan tepung kacang lima yang diolah dengan benar memiliki profil keamanan yang baik pada uji konsumsi 28 hari.
- Konsumsi tepung kacang lima tidak menimbulkan kerusakan signifikan pada organ hati dan ginjal hewan uji serta tidak menghambat pertambahan berat badan.
- Peneliti menegaskan masih dibutuhkan uji lanjutan sebelum kacang lima direkomendasikan sebagai pangan fungsional untuk konsumsi jangka panjang manusia.
RIAUCERDAS.COM - Penelitian yang dilakukan tim Universitas Andalas (Unand) membuka peluang pemanfaatan kacang lima (Phaseolus lunatus L.), atau dikenal sebagai kacang paga maupun kacang roti di Sumatra Barat, sebagai sumber protein nabati alternatif.
Hasil riset menunjukkan tepung kacang lima yang telah diolah memiliki profil keamanan yang menjanjikan berdasarkan uji konsumsi berulang pada hewan percobaan.
Riset tersebut dipimpin dosen Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Unand, Rita Maliza, bersama Prof. Fazal Jalil dari Abdul Wali Khan University Mardan, Pakistan, serta dua mahasiswa Departemen Biologi FMIPA, Reziq Marchellino Irwan dan Rafi Ramadhan Anwar.
Dalam penelitian tersebut, tikus Wistar jantan dan betina diberi tepung kacang lima setiap hari selama 28 hari.
Sebelum digunakan, biji kacang lima terlebih dahulu diolah melalui proses perendaman, perebusan, dan pengeringan untuk mengurangi kandungan senyawa antinutrisi.
Penelitian menggunakan empat tingkat dosis, yakni 500, 1.000, 1.500, dan 2.000 miligram per kilogram berat badan.
Selama masa pengujian, tim memantau pertambahan berat badan, kondisi organ hati, ginjal, dan pankreas, profil hematologi, hingga struktur jaringan organ melalui pemeriksaan mikroskopis.
Hasil pengamatan menunjukkan konsumsi tepung kacang lima hingga dosis tertinggi tidak menyebabkan perubahan bentuk organ, tidak menghambat pertambahan berat badan, serta tidak menimbulkan kerusakan jaringan yang signifikan pada hati maupun ginjal.
Kadar kreatinin sebagai indikator fungsi ginjal juga tetap berada dalam kisaran normal.
Ketua tim peneliti, Rita Maliza, mengatakan hasil tersebut menjadi dasar awal yang menunjukkan potensi keamanan tepung kacang lima setelah melalui proses pengolahan yang tepat.
"Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tepung kacang lima yang telah diolah melalui proses perendaman dan perebusan memiliki profil keamanan yang baik pada uji konsumsi berulang selama 28 hari. Temuan ini menjadi langkah awal yang penting dalam upaya pengembangan kacang lima sebagai sumber protein nabati alternatif yang aman dan bernilai tambah bagi masyarakat," kata dia dikutip dari laman Unand, Senin (20/7/2026).
Meski demikian, Rita menegaskan hasil penelitian tersebut belum dapat dijadikan acuan untuk menyatakan aman dikonsumsi manusia dalam jangka panjang.
"Masih diperlukan penelitian lanjutan, khususnya uji toksisitas subkronis dengan durasi yang lebih panjang, seperti 90 hari, serta kajian lainnya sebelum dapat disimpulkan aman untuk konsumsi jangka panjang pada manusia. Penelitian yang berkelanjutan akan memberikan dasar ilmiah yang lebih kuat bagi pemanfaatan kacang lima sebagai pangan fungsional di masa mendatang," kata dia.
Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan tepung kacang lima yang telah diproses dengan baik memiliki prospek sebagai bahan pangan alternatif.
Temuan tersebut diharapkan menjadi landasan bagi penelitian lanjutan sekaligus mendukung pengembangan diversifikasi pangan berbasis sumber daya lokal Indonesia.
Penelitian ini didanai oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Program EQUITY. (*)