Mahasiswa KUKERTA Unri Kenalkan Vertikultur untuk Dukung Kemandirian Pangan di Desa Puo Raya
Program budidaya kangkung dan bayam metode vertikultur yang digagas mahasiswa KUKERTA Universitas Riau di Desa Puo Raya mendapat respons positif dari masyarakat. Perangkat desa memberikan sejumlah masukan agar metode budidaya juga menggunakan media tanah sehingga lebih ekonomis dan mudah diterapkan oleh warga.
RINGKASAN BERITA:
- Perangkat Desa Puo Raya mengapresiasi program Kukerta Unri sekaligus mengusulkan budidaya menggunakan media tanah agar lebih ekonomis bagi masyarakat.
- Mahasiswa melakukan monitoring intensif hingga minggu ketiga dengan penyiraman setiap dua jam untuk menjaga pertumbuhan kangkung dan bayam.
- Program vertikultur diharapkan mendorong pemanfaatan pekarangan rumah menjadi sumber pangan mandiri yang berkelanjutan.
RIAUCERDAS.COM, ROKAN HULU - Program budidaya kangkung dan bayam dengan metode vertikultur yang dilaksanakan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KUKERTA) Reguler Universitas Riau (Unri) Tahun 2026 di Desa Puo Raya, Kecamatan Tandun, Kabupaten Rokan Hulu, memperoleh apresiasi sekaligus sejumlah masukan dari perangkat desa.
Warga berharap teknik budidaya yang diperkenalkan tidak hanya mengandalkan sistem hidroponik, tetapi juga memanfaatkan media tanah agar lebih terjangkau bagi masyarakat.
Kegiatan penanaman tersebut dilaksanakan pada Jumat (3/7/2026) sebagai bagian dari program kerja bertajuk "Memanfaatkan Pekarangan Warga melalui Budidaya Kangkung dan Bayam Metode Vertikultur untuk Meningkatkan Kemandirian Pangan Rumah Tangga."
Program ini bertujuan mengoptimalkan pemanfaatan lahan pekarangan rumah sebagai sumber pangan keluarga melalui penerapan metode vertikultur.
Pelaksanaan kegiatan melibatkan perangkat desa dan masyarakat setempat.
Mahasiswa memperkenalkan pemanfaatan lahan terbatas melalui sistem vertikultur untuk mendukung kemandirian pangan rumah tangga di Desa Puo Raya.
Dalam pelaksanaannya, dilakukan revitalisasi penanaman menggunakan media tanah yang ditempatkan pada pot vertikultur dengan memanfaatkan tanaman hidroponik.
Bibit yang ditanam terdiri dari kangkung dan bayam. Memasuki minggu ketiga, tanaman yang dibudidayakan telah menunjukkan perkembangan.
Tim mahasiswa juga melakukan pemantauan secara berkala sejak awal penanaman hingga minggu ketiga.
Selama masa perawatan, penyiraman dilakukan setiap dua jam setiap hari untuk menjaga kelembapan media tanam, memenuhi kebutuhan air tanaman, sekaligus mengurangi risiko bibit mengalami kekeringan.
Selain penyiraman, kondisi tanaman terus diamati untuk mengetahui kemungkinan adanya hambatan pertumbuhan maupun serangan hama.
Langkah tersebut dilakukan agar tindakan perawatan dapat segera diberikan sehingga tanaman dapat tumbuh sehat dan menghasilkan panen yang optimal.
Mahasiswa Kukerta Unri, Novira Ramadani Sapitri, turut meminta perangkat desa dan masyarakat memberikan kritik serta saran terhadap program yang telah dijalankan.
Masukan tersebut diharapkan menjadi bahan evaluasi guna meningkatkan kualitas pelaksanaan program pengabdian kepada masyarakat pada kegiatan berikutnya.
Sekretaris Desa Puo Raya, Prabudi, Ak., menilai program yang dijalankan mahasiswa sudah berjalan dengan baik.
Namun, ia menyarankan agar budidaya tanaman juga dicontohkan menggunakan media tanah di pekarangan warga.
Program kerja yang dilaksanakan sudah sangat baik.
Namun, Prabudi menyarankan agar selain menggunakan metode hidroponik, budidaya tanaman juga dicontohkan menggunakan media tanah di lahan pekarangan.
Hal ini karena sistem hidroponik memerlukan biaya yang relatif lebih besar sehingga belum tentu dapat diterapkan oleh seluruh masyarakat.
Dengan memanfaatkan media tanah, masyarakat dapat menanam dengan biaya yang lebih terjangkau, tetapi tetap memperoleh hasil yang optimal.
"Masyarakat Desa Puo Raya pada umumnya lebih memilih metode budidaya yang ekonomis dengan pengeluaran seminimal mungkin dan hasil yang maksimal," ujarnya.
Sementara itu, Pendamping Lokal Desa (PLD), Joko Wahyudi, S.T., juga memberikan masukan terkait penggunaan media tanam.
Menurutnya, tanah hitam lebih sesuai karena mampu menyimpan air lebih lama.
"Media tanam sebaiknya menggunakan tanah hitam karena lebih subur dan mampu menyimpan air dengan lebih baik. Media tanam yang digunakan saat ini memungkinkan air cepat meresap ke bawah sehingga tanaman berpotensi mengalami kekurangan air," ujarnya.
Selama kegiatan berlangsung, perangkat desa dan masyarakat tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian program, mulai dari pengenalan metode vertikultur hingga praktik penanaman secara langsung.
Kegiatan tersebut memberikan pemahaman baru mengenai pemanfaatan pekarangan yang sempit menjadi lahan produktif untuk mendukung kemandirian pangan rumah tangga.
Ketua Tim Kukerta Unri Desa Puo Raya, Samuel Peres Tungkir, mengatakan kegiatan budidaya tersebut merupakan bentuk kontribusi mahasiswa dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemanfaatan lahan pekarangan secara produktif dan berkelanjutan.
"Kami berharap masyarakat Desa Puo Raya dapat memanfaatkan pekarangan rumah sebagai sumber pangan mandiri melalui budidaya tanaman sederhana seperti kangkung dan bayam," kata Samuel.
Melalui metode vertikultur ini, masyarakat dapat tetap bercocok tanam meskipun memiliki keterbatasan lahan.
"Selain mendukung ketersediaan pangan rumah tangga, kegiatan ini juga diharapkan dapat diterapkan secara berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi masyarakat," ujarnya.
Program tersebut dilaksanakan di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Dr. Astrid Faradisty, S.E., M.Ak., Ak., sebagai bagian dari pengabdian mahasiswa kepada masyarakat melalui KUKERTA Universitas Riau.
Tim Kukerta Unri Desa Puo Raya terdiri atas 10 mahasiswa yang diketuai Samuel Peres Tungkir dengan anggota Akmal, Feby Asyera Maharani Manihuruk, Grace Thofani Tambunan, Harun Suryadi Pandiangan, Novira Ramadani Sapitri, Nurhalimah Adjis, Rehan Syah Putra, Trisha Renata Silaen, dan Vioni Sindhi Nurfajri.
Melalui program tersebut, mahasiswa berharap masyarakat semakin memahami pentingnya pemanfaatan lahan pekarangan sebagai sumber pangan rumah tangga yang produktif serta mampu menerapkan metode vertikultur secara mandiri untuk mendukung kemandirian pangan secara berkelanjutan. (rls)