Kemenag Verifikasi Arah Kiblat Manfaatkan Rashdul Qiblat

Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat 2026 yang digelar Kementerian Agama mendapat respons luas dengan 725.669 titik lokasi terdaftar di seluruh Indonesia. Program ini memanfaatkan fenomena Rashdul Qiblat untuk memverifikasi arah kiblat sekaligus meningkatkan literasi ilmu falak di masyarakat.

Kemenag Verifikasi Arah Kiblat Manfaatkan Rashdul Qiblat
Kegiatan Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat yang memanfaatkan fenomena astronomi Rashdul Qiblat sebagai metode ilmiah untuk memverifikasi arah kiblat secara akurat. (Sumber: Kemenag)

RINGKASAN BERITA:

  • Sebanyak 725.669 titik di Indonesia mengikuti Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat 2026 untuk memverifikasi arah kiblat.
  • Verifikasi dilakukan menggunakan fenomena Rashdul Qiblat saat matahari tepat berada di atas Ka'bah dengan metode ilmiah yang akurat.
  • Selain pengecekan arah kiblat, program ini juga bertujuan meningkatkan literasi masyarakat tentang ilmu falak dan pelayanan keagamaan.

RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat 2026 yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama (Kemenag) mencatat partisipasi sebanyak 725.669 titik lokasi di berbagai wilayah Indonesia.

Program tersebut memanfaatkan fenomena astronomi Rashdul Qiblat sebagai metode ilmiah untuk memverifikasi arah kiblat secara akurat.

Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kemenag, Arsad Hidayat, mengatakan ratusan ribu lokasi tersebut terdiri atas berbagai fasilitas ibadah, rumah tinggal, hingga tempat umum.

"Kami mencatat ada 725.669 titik lokasi yang didaftarkan ikut dalam Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat 2026," terang Arsad, Jumat (17/7/2026).

Ia menjelaskan, lokasi yang mengikuti gerakan ini meliputi 67.867 masjid, 576.309 rumah, 49.680 musala, 233 restoran, 114 hotel, serta 31.466 lokasi lainnya.

Menurutnya, jumlah tersebut berpotensi lebih besar karena dalam satu titik verifikasi dapat dilakukan di beberapa lokasi sekaligus.

Pusat pemantauan Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat dipusatkan di Unit Percetakan Al-Qur'an (UPQ), Ciawi, Bogor.

Sebelum pelaksanaan gerakan, Kementerian Agama juga menggelar International Seminar on Islamic Astronomy yang menghadirkan pakar astronomi dari Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

Fenomena Rashdul Qiblat sendiri merupakan peristiwa ketika posisi matahari tepat berada di atas Ka'bah sehingga bayangan benda yang berdiri tegak lurus dapat dijadikan acuan menentukan arah kiblat dengan tingkat akurasi tinggi.

Pada 2026, fenomena tersebut berlangsung pada 15–16 Juli pukul 16.27 WIB atau 17.27 WITA.

Masyarakat cukup menempatkan tongkat atau benda tegak di area terbuka, kemudian mengamati arah bayangan yang terbentuk.

Garis dari ujung bayangan menuju pangkal tongkat menunjukkan arah Ka'bah dan dapat digunakan untuk mengecek ketepatan arah kiblat.

"Alhamdulillah Gerakan Nasional Rashdul Kiblat ini disambut antusias dengan keikutsertaan ratusan ribu pendaftar yang ingin mempraktikkan langsung metode ini," ujar Arsad.

Selain memastikan akurasi arah kiblat, program tersebut juga bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai ilmu falak sebagai bagian dari pelayanan keagamaan.

Kemenag berharap gerakan ini menjadi momentum edukasi publik sekaligus memperkuat ketepatan arah kiblat di masjid, musala, rumah, dan berbagai fasilitas umum.

Program tersebut turut mendapat apresiasi dari masyarakat.

Sekretaris PCNU Kota Semarang, Jumarno, menilai gerakan tersebut mudah diterapkan dan memberikan manfaat bagi umat Islam, terutama dalam proses verifikasi arah kiblat.

"Terima kasih atas program gerakan Indonesia Berkiblat yang diprakarsai oleh Direktorat Urusan Agama Islam dan Bina Syariah," tandasnya. (*)