UAS Isi Khotbah di Kemendikdasmen, Tekankan Pendidikan Lebih Berharga dari Harta
Ustaz Abdul Somad mengisi khutbah di Kemendikdasmen dengan pesan kuat tentang pentingnya pendidikan sebagai fondasi kemajuan bangsa dan integritas aparatur.
RINGKASAN BERITA:
-
UAS menegaskan pendidikan lebih utama daripada harta dalam perspektif Islam.
-
Kemendikdasmen dorong literasi keagamaan dan integritas ASN lewat kegiatan religius.
-
Peran guru dan organisasi Islam disebut krusial dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.
RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Lebih dari seribu jemaah memadati Masjid Baitut Tholibin, kompleks Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Jumat (27/2/2026), saat Ustaz Abdul Somad menyampaikan khutbah bertema urgensi pendidikan sebagai fondasi kemajuan bangsa dan martabat umat.
Usai salat Jumat, kegiatan dilanjutkan dengan bedah buku 35 Kisah Saat Maut Menjemput karya UAS yang digelar bersama kementerian terkait.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, mengapresiasi kehadiran ulama tersebut sekaligus menilai kegiatan literasi berbasis masjid penting untuk memperkuat literasi keagamaan.
"Ada bedah buku Ustaz Abdul Somad yang tadi sudah kita ikuti bersama-sama. Ini juga bagian dari upaya kita bersama untuk meningkatkan literasi, sosial literasi keagamaan dengan masjid sebagai sarananya. Ya, kami berharap agar kegiatan seperti ini nanti bisa terus kita laksanakan secara berkala," ujar Abdul Mu'ti usai acara.
Ia menegaskan, kegiatan keagamaan di lingkungan kementerian diharapkan mampu membangun suasana kerja yang religius dan berintegritas.
Nilai religiusitas, menurutnya, akan berdampak langsung pada kesalehan aparatur serta tanggung jawab dalam menjalankan tugas.
"Mereka agar bekerja dengan penuh tanggung jawab, menjauhkan diri dari semua hal yang bertentangan dengan hukum, terutama adalah menjauhkan diri dari perilaku dan jembatan korupsi serta tindakan yang lain-lainnya," tegasnya.
Dalam khutbahnya, UAS menyoroti pentingnya pendidikan dengan menyinggung kisah pada masa Nabi Muhammad SAW saat menangani tawanan Perang Badar.
Ulama asal Riau ini menjelaskan bahwa tawanan dibebaskan dengan syarat mengajarkan baca tulis kepada anak-anak Muslim.
“Islam lebih mengedepankan pendidikan daripada harta. Karena dengan pendidikan, seseorang dapat memperoleh harta. Namun, harta tanpa pendidikan yang baik hanya akan habis di tangan anak dan cucunya,” tegasnya.
Menurut UAS, pendidikan dalam Islam tidak terbatas pada ilmu agama, tetapi juga mencakup pengetahuan luas tentang alam semesta.
Ia menambahkan bahwa Ramadan menjadi momentum pendidikan panjang bagi umat Islam untuk melatih pengendalian diri, baik secara intelektual, emosional, maupun spiritual.
Ia juga menguraikan kemuliaan peran guru dalam Islam sebagai sosok teladan, bukan hanya pengajar ilmu, tetapi juga pembentuk adab dan penerus misi kenabian.
Guru, kata dia, menjadi figur yang diteladani dalam perkataan dan perbuatan sehari-hari.
UAS turut mengingatkan kontribusi para pendidik dalam sejarah kemerdekaan Indonesia, termasuk tokoh-tokoh seperti Jenderal Sudirman dan A.H. Nasution yang memiliki latar belakang sebagai guru sebelum berjuang di medan perang.
Ia juga menyinggung peran organisasi Islam seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Perti, dan Al-Washliyah dalam membangun pendidikan dan pergerakan sosial sebelum kemerdekaan.
Sebagai penutup, UAS mengingatkan agar warisan perjuangan pendidikan tidak dirusak oleh kepentingan duniawi.
“Apa yang sudah diperjuangkan melalui pendidikan, jangan pernah dirusak dengan pembodohan,” tutupnya. (*)