Kemenhaj Siagakan Tim Mobile Crisis Rescue di Jamarat untuk Lindungi Jemaah Haji

Kementerian Haji dan Umrah menyiagakan tim Mobile Crisis Rescue (MCR) di kawasan Jamarat, Mina, guna memperkuat perlindungan jemaah saat pelaksanaan lontar jumrah. Sebanyak 1.356 petugas disebar di titik strategis untuk mengantisipasi kepadatan dan menangani kondisi darurat selama fase Armuzna.

Kemenhaj Siagakan Tim Mobile Crisis Rescue di Jamarat untuk Lindungi Jemaah Haji
Jemaah Calon Haji. (Sumber: Kemenhaj)

RINGKASAN BERITA: 

  • Kemenhaj menyiagakan tim Mobile Crisis Rescue di kawasan Jamarat selama fase Mina.
  • Sebanyak 1.356 Petugas Satgas Mina ditempatkan di titik strategis untuk mengatur arus jemaah.
  • Jemaah diimbau mematuhi jadwal lontar jumrah dan menjaga kondisi kesehatan di tengah cuaca panas.

RIAUCERDAS.COM, MINA - Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Republik Indonesia memperkuat sistem perlindungan jemaah haji di kawasan Mina dengan menyiagakan tim Mobile Crisis Rescue (MCR) selama pelaksanaan lontar jumrah pada hari-hari Tasyrik.

Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan keselamatan dan kenyamanan jemaah di tengah tingginya mobilitas massa saat fase Armuzna, terutama di kawasan Jamarat.

Juru Bicara Kemenhaj, Maria Ulfa Assegaf, mengatakan tim MCR disiagakan di sejumlah titik strategis guna mempercepat respons terhadap kondisi darurat yang dialami jemaah.

MCR atau Mobile Crisis Rescue adalah tim khusus dan posko dari Petugas Penyelenggara Ibadah Haji yang disiagakan di kawasan Jamarat, Mina."

"Tim ini bertugas memberikan pertolongan pertama, melakukan evakuasi darurat, dan membantu mengurai kepadatan jemaah selama puncak ibadah haji,” ujar Maria dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (29/5/2026).

Menurutnya, petugas MCR akan menangani berbagai kondisi darurat, mulai dari jemaah pingsan, tersesat, kelelahan ekstrem, hingga membantu evakuasi jemaah lanjut usia dan penyandang disabilitas.

Kemenhaj menilai penguatan layanan perlindungan menjadi sangat penting karena kawasan Jamarat merupakan titik dengan pergerakan jemaah yang sangat padat selama pelaksanaan lontar tiga jamarah, yakni Ula, Wustha, dan Aqabah.

“Pelindungan jemaah adalah prioritas. Karena itu, petugas tidak hanya berada di tenda-tenda jemaah, tetapi juga disiagakan di jalur pergerakan, pos pantau, dan titik-titik yang berpotensi terjadi kepadatan. Setiap jemaah yang membutuhkan bantuan harus bisa segera ditangani,” tutur Maria.

Selain menyiagakan MCR, Kemenhaj juga menempatkan 1.356 Petugas Satgas Mina di berbagai lokasi strategis, seperti jalur menuju Jamarat, pos pengarah arus jemaah, hingga titik koordinasi tanazul.

Petugas tersebut bertugas mengatur arus pergerakan jemaah, mengantisipasi kepadatan, serta membantu jemaah yang mengalami kesulitan selama pelaksanaan lontar jumrah.

Kemenhaj juga mengimbau jemaah untuk mematuhi jadwal resmi lontar jumrah sesuai pengaturan masing-masing kloter dan tidak bergerak sendiri menuju Jamarat.

“Kami mengimbau jemaah untuk tidak terburu-buru dan tidak memaksakan diri. Ikuti jadwal, gunakan jalur resmi, dan jangan memisahkan diri dari rombongan. Keselamatan jemaah harus menjadi perhatian bersama,” ujar Maria.

Selain itu, jemaah diminta menjaga kondisi kesehatan dengan memperbanyak minum air putih, mengurangi aktivitas fisik berlebihan, dan menggunakan pelindung kepala saat berada di luar tenda karena cuaca panas di Mina.

Kemenhaj memastikan layanan selama fase Mina mencakup seluruh aspek, mulai dari transportasi, konsumsi, kesehatan, akomodasi, bimbingan ibadah, hingga perlindungan jemaah sampai seluruh rangkaian Armuzna selesai. (*)