Profesor Riset BRIN Ungkap Kimia Pendingin Jadi Kunci Keselamatan PLTN di Indonesia
Profesor Riset BRIN Geni Rina Sunaryo menegaskan tata kelola kimia pendingin merupakan fondasi keselamatan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Menurutnya, pengembangan PLTN dan Small Modular Reactor (SMR) tidak hanya bergantung pada desain reaktor, tetapi juga pada pengendalian sistem kimia pendingin yang mampu mendeteksi potensi gangguan sejak dini.
RINGKASAN BERITA:
- Profesor Riset BRIN menegaskan kimia pendingin merupakan fondasi utama keselamatan operasional PLTN.
- Air dalam reaktor berfungsi sebagai sistem kimia dinamis yang harus terus dipantau karena dipengaruhi radiasi, suhu tinggi, dan interaksi material.
- Parameter seperti pH, konduktivitas, oksigen terlarut, dan produk korosi menjadi indikator dini untuk mendeteksi potensi gangguan pada sistem reaktor.
RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di Indonesia dinilai tidak hanya bergantung pada kecanggihan desain reaktor atau sistem pengamannya.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan bahwa pengelolaan kimia pendingin reaktor menjadi salah satu faktor utama yang menentukan keselamatan operasional pembangkit nuklir.
Pandangan tersebut disampaikan Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Reaktor Nuklir BRIN, Geni Rina Sunaryo, dalam orasi ilmiah pengukuhan Profesor Riset berjudul "Tata Kelola Kimia Pendingin Reaktor Nuklir Menuju Era PLTN untuk Kemandirian Energi di Indonesia", di Auditorium Sumitro Djojohadikusumo, Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Kamis (30/7/2026).
Orasi itu merangkum hasil penelitiannya selama lebih dari 30 tahun di bidang kimia sistem pendingin reaktor, mencakup radiolisis air, degradasi material, kestabilan kimia pendingin, hingga keselamatan reaktor berbasis pendekatan prediktif.
Menurut Geni, di tengah upaya transisi energi nasional, teknologi nuklir kembali menjadi salah satu pilihan strategis.
Namun, kesiapan menuju pembangunan PLTN maupun Small Modular Reactor (SMR) harus dibangun tidak hanya melalui teknologi reaktor, tetapi juga melalui pengawasan sistem pendukung keselamatan.
Ia menjelaskan bahwa air di dalam reaktor bukan sekadar media perpindahan panas, melainkan sistem kimia yang terus mengalami perubahan akibat paparan radiasi, suhu tinggi, dan interaksi dengan material struktur reaktor.
"Kimia pendingin menjadi kritis, karena perubahan kecil di dalam air kemudian berkembang menjadi rangkaian degradasi material," ujar Geni dikutip dari laman BRIN.
Menurutnya, radiasi dapat menguraikan air menjadi berbagai spesies reaktif, radikal, dan oksidator yang memengaruhi kondisi redoks sehingga berpotensi mempercepat korosi pada material struktur reaktor.
Produk korosi yang terbawa aliran pendingin selanjutnya dapat mengalami aktivasi dan meningkatkan paparan radiasi sekunder terhadap para pekerja.
Karena itu, Geni menilai berbagai parameter kimia, seperti tingkat keasaman (pH), konduktivitas, kadar oksigen terlarut, hidrogen peroksida, hingga produk korosi harus dipandang sebagai indikator kesehatan sistem reaktor, bukan sekadar data laboratorium.
"Perubahan kecil kimia sekecil apa pun adalah sinyal awal anomali sistem," papar Geni.
Melalui orasi ilmiahnya, Geni menekankan bahwa tata kelola kimia pendingin merupakan fondasi penting dalam mendukung keselamatan reaktor sekaligus menjadi bagian dari kesiapan Indonesia menuju pemanfaatan PLTN untuk mendukung kemandirian energi nasional. (*)