Kesejahteraan Psikososial Anak Jadi Perhatian Serius Pasca Wafatnya Murid SD di Ngada
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan untuk menginspirasi tindakan bunuh diri. Bila pembaca merasa memerlukan layanan konsultasi masalah kejiwaan atau pernah berkeinginanan mengakhiri hidup, jangan ragu bercerita, konsultasi atau memeriksakan diri ke pihak yang kompeten. Percayalah, semua masalah ada jalan keluar yang lebih baik dan kita tidak sendirian.
RINGKASAN BERITA:
-
Kemendikdasmen menyatakan duka cita dan keprihatinan mendalam atas wafatnya murid SD di Ngada, NTT, serta menilai peristiwa ini sebagai kejadian serius.
-
Pemenuhan hak anak tidak cukup secara finansial, tetapi harus disertai pendampingan psikososial dan lingkungan tumbuh kembang yang suportif.
-
Kemendikdasmen melalui BPMP NTT melakukan pendampingan dan koordinasi lintas sektor untuk mendukung keluarga korban dan memastikan akses layanan pendidikan serta sosial.
RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyatakan keprihatinan mendalam atas wafatnya seorang murid sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Atip Latipulhayat menyampaikan empati kepada keluarga korban, teman, guru, serta seluruh warga sekolah yang terdampak peristiwa tersebut.
Kemendikdasmen memandang peristiwa ini sebagai kejadian yang sangat serius.
Atip menekankan bahwa kesejahteraan psikososial anak merupakan persoalan yang kompleks karena kondisi emosional anak dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling terkait.
Oleh sebab itu, dibutuhkan perhatian dan dukungan berkelanjutan dari keluarga, sekolah, masyarakat, hingga negara.
Dalam keterangannya, Atip menjelaskan bahwa mendiang murid tercatat sebagai penerima manfaat Program Indonesia Pintar (PIP) yang dananya telah disalurkan sesuai mekanisme yang berlaku.
Namun, Kemendikdasmen menegaskan bahwa pemenuhan hak dan perlindungan anak, khususnya dari keluarga rentan, tidak cukup hanya melalui dukungan finansial, melainkan juga harus disertai pendampingan psikososial, perhatian moral, dan lingkungan tumbuh kembang yang suportif.
Saat ini, Kemendikdasmen melalui Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) NTT telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan perangkat terkait untuk melakukan pendampingan kepada keluarga korban.
Pendampingan tersebut termasuk menyiapkan dukungan keberlanjutan pendidikan bagi anggota keluarga lainnya, serta memastikan akses terhadap layanan sosial dan pendidikan yang dibutuhkan melalui koordinasi lintas sektor.
Atip menegaskan, peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya menghadirkan lingkungan yang aman, nyaman, dan suportif bagi tumbuh kembang anak.
Satuan pendidikan, orang tua, dan masyarakat diharapkan membangun komunikasi terbuka agar anak merasa aman mengekspresikan kerentanan, merasa didengar, dihargai, dan memperoleh pendampingan yang memadai.
Kemendikdasmen juga mengajak seluruh pihak, termasuk media dan masyarakat, untuk menyikapi informasi secara bijak serta menghindari penyebaran spekulasi yang berpotensi menambah beban psikologis keluarga dan komunitas sekolah.
Dukungan bersama dari sekolah, keluarga, masyarakat, serta pemerintah pusat dan daerah dinilai penting untuk mencegah peristiwa serupa di masa mendatang.
Buat Surat
Untuk diketahui, YBR (10) yang merupakan siswa kelas IV SD ditemukan tewas gantung diri di Kecamatan Jerebuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Saat mengevakuasi tubuh YBR, polisi menemukan sepucuk surat yang ditulis oleh YBR.
Dilansir Detik.com, YBR menulis surat menggunakan bahasa daerah Bajawa. Satu baris surat itu berisi ungkapan kekecewaan korban terhadap ibunya.
Dalam surat itu, YBR menyebut ibunya pelit. Selebihnya, surat itu berisi ungkapan perpisahan kepada ibunya.
Pada malam sebelum kejadian, YBR disebut meminta uang kepada ibunya untuk beli buku tulis dan pulpen. Namun, permintaan itu tak bisa dipenuhi ibunya karena kondisi ekonominya yang sulit.
Hal itu disampaikan Kepala Desa Naruwolo, Dion Roa. Dijelaskannya, YBR sehari-hari tinggal bersama neneknya. Rumah nenek dan ibunya berada di desa tetangga.
Malam sebelum kejadian, YBR menginap di rumah ibunya untuk meminta uang tersebut.
Kondisi ekonomi sang ibu memang sulit. Ia harus menanggung kebutuhan lima orang anak. Sementara ayah korban sudah berpisah sejak sekitar 10 tahun lalu. (*)