Sekolah Pascabanjir di Bireuen Bertahan dengan Kelas Darurat, Siswa SMAN 1 Peusangan Belajar Duduk di Lantai

Pascabanjir yang melanda Aceh, SMAN 1 Peusangan Siblah Krueng, Kabupaten Bireuen, terpaksa menjalankan pembelajaran darurat dengan sistem penggabungan kelas dan pemanfaatan ruang seadanya. Meski sarana rusak parah, proses belajar mengajar tetap berjalan demi menjaga keberlanjutan pendidikan.

Sekolah Pascabanjir di Bireuen Bertahan dengan Kelas Darurat, Siswa SMAN 1 Peusangan Belajar Duduk di Lantai
Seluruh warga sekolah di SMAN 1 Peusangan Siblah Krueng membersihkan ruang kelas yang terdampak banjir. Pascabanjir, kelas darurat diterapkan di sekolah ini. (Sumber: Kemendikdasmen)

RINGKASAN BERITA:

  • Hanya satu ruang kelas layak pakai, sekolah manfaatkan perpustakaan hingga aula
  • 208 siswa tetap belajar meski tanpa meja dan kursi
  • Ribuan sekolah di Aceh masih menjalani pemulihan pascabanjir

RIAUCERDAS.COM, ACEH - Keterbatasan ruang dan fasilitas tidak menghentikan aktivitas belajar di SMAN 1 Peusangan Siblah Krueng, Kabupaten Bireuen, Aceh.

Pascabanjir, sekolah ini tetap membuka kegiatan pembelajaran dengan skema kelas darurat dan penggabungan rombongan belajar agar siswa tidak kehilangan waktu belajar.

Dari delapan ruang belajar yang dimiliki, hanya satu kelas yang dinyatakan benar-benar siap digunakan.

Kondisi ini memaksa pihak sekolah memanfaatkan sejumlah ruangan lain, seperti perpustakaan, ruang kepala sekolah, laboratorium TIK, aula, hingga ruang OSIS sebagai tempat belajar sementara.

SMAN 1 Peusangan Siblah Krueng memiliki 208 peserta didik dengan dukungan 38 guru dan lima tenaga kependidikan.

Sejak pekan kedua setelah banjir, seluruh warga sekolah terlibat membersihkan lingkungan sekolah secara gotong royong.

“Kami bersama-sama membersihkan sekolah sebisanya, meskipun banyak guru dan siswa juga terdampak langsung banjir dan longsor,” kata Kepala SMAN 1 Peusangan Siblah Krueng, Muhammad Rachmad Fadhli.

Kegiatan belajar kembali dimulai sejak Senin (19/1/2026). Namun proses pembelajaran masih berlangsung dalam kondisi terbatas. Meja dan kursi banyak yang rusak akibat terendam banjir, sehingga siswa mengikuti pelajaran dengan duduk di lantai beralas terpal.

“Untuk sementara, pembelajaran dilakukan tanpa mebelair. Anak-anak duduk di lantai,” ujarnya.

Selain pemulihan fisik sekolah, pihak sekolah juga menggelar kegiatan trauma healing bagi guru dan siswa sebagai bagian dari pemulihan psikososial pascabencana.

Fadhli menuturkan, dukungan berbagai pihak turut membantu percepatan pemulihan, mulai dari pemerintah daerah, TNI, Polri, Cabang Dinas Pendidikan, hingga mahasiswa.

Bantuan dana yang diterima langsung dialokasikan untuk pembersihan sekolah, termasuk penggunaan alat berat selama beberapa hari.

Sekolah juga telah menerima bantuan tenda untuk ruang belajar sementara dan mengajukan pembangunan kelas darurat yang direncanakan dipasang di lapangan futsal sekolah.

“Bangunan masih bisa digunakan, tetapi banyak bagian rusak. Dinding retak, cat mengelupas, pintu dan jendela rusak, bahkan lantai ada yang longsor karena air banjir sempat mencapai atap,” ungkap Fadhli.

Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah Kemendikdasmen, Gogot Suharwoto, mengapresiasi ketangguhan satuan pendidikan dalam menjaga keberlangsungan pembelajaran pascabencana.

“Dalam kondisi darurat, prioritas utama adalah memastikan anak-anak tetap bisa belajar dengan aman dan bermakna, meskipun harus menumpang, paralel, atau menggunakan ruang sementara,” ujarnya.

Kemendikdasmen memastikan akan terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, BPMP, dan pemangku kepentingan untuk mempercepat pemulihan layanan pendidikan di wilayah terdampak.

Berdasarkan data Kemendikdasmen per 5 Januari 2026, tercatat 2.639 sekolah terdampak bencana di Aceh.

Sebagian besar masih menjalani pembelajaran dengan sarana terbatas, termasuk ribuan sekolah yang menggunakan tenda darurat, menumpang, atau menerapkan sistem double shift.

Kabupaten Aceh Tamiang menjadi wilayah dengan dampak terparah, disusul Aceh Timur, Bener Meriah, Bireuen, Pidie Jaya, Gayo Lues, dan Nagan Raya. (*)