Ribuan Buku Disalurkan ke Sekolah Terdampak Banjir Solok
Pemerintah melalui Kemendikdasmen kembali menyalurkan bantuan pemulihan pendidikan bagi sekolah-sekolah terdampak banjir di Kabupaten Solok. Bantuan berupa ribuan buku bacaan dan dukungan dana pendidikan ini difokuskan untuk menghidupkan kembali kegiatan belajar sekaligus memulihkan kondisi psikologis peserta didik pascabencana.
RINGKASAN BERITA:
- Kemendikdasmen salurkan 1.476 buku bacaan ke tiga sekolah terdampak banjir di Solok
- Program pemulihan pendidikan menjangkau 242 sekolah di Sumatra Barat
- Literasi dipilih sebagai pendekatan pemulihan akademik dan psikososial siswa
RIAUCERDAS.COM, SOLOK - Upaya pemulihan pendidikan pascabanjir di Sumatra Barat terus diperkuat.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa bersama Balai Bahasa Provinsi Sumatra Barat menyalurkan bantuan pendidikan ke sejumlah sekolah terdampak banjir di Kabupaten Solok, Rabu (4/2/2026).
Pada tahap ini, sebanyak 1.476 buku bacaan diserahkan kepada SDN 09 Selayo, SDN 05 Selayo, dan SMPN 1 Kubung.
Selain buku, sekolah penerima juga memperoleh bantuan dana pendidikan untuk mendukung keberlanjutan proses belajar mengajar, khususnya dalam pemulihan fasilitas pendukung pembelajaran yang rusak akibat banjir.
Kepala SDN 05 Selayo, Erlinawati, menyampaikan bahwa bantuan buku sangat dibutuhkan karena banyak koleksi bacaan sekolah yang rusak dan terbawa arus banjir.
Kehadiran buku baru dinilai membantu menghidupkan kembali aktivitas belajar siswa di sekolah.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Solok, Nila Kesumawati, menekankan bahwa buku merupakan kebutuhan mendasar dalam proses pembelajaran.
Menurutnya, keterbatasan sarana fisik masih dapat disiasati, namun tanpa buku kegiatan belajar akan sulit berjalan optimal.
Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumatra Barat, Rahmat, menjelaskan bahwa penyaluran buku bacaan merupakan bagian dari pendekatan pemulihan pendidikan yang bersifat menyeluruh.
Tidak hanya menyasar aspek akademik, bantuan ini juga ditujukan untuk membantu pemulihan kondisi psikologis anak-anak agar kembali merasa aman dan nyaman di lingkungan sekolah.
Hal senada disampaikan Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra, Dora Amalia.
Ia berharap bantuan tersebut mampu membangkitkan kembali motivasi belajar peserta didik serta menegaskan kehadiran negara dalam mendampingi anak-anak di wilayah terdampak bencana.
Program pemulihan pendidikan di Sumatra Barat sendiri menjangkau 242 sekolah terdampak bencana.
Hingga kini, bantuan yang telah disalurkan mencakup 3.756 eksemplar buku bacaan serta voucer pendidikan senilai total Rp340 juta.
Setiap sekolah menerima bantuan antara Rp5 juta hingga Rp25 juta, disesuaikan dengan tingkat kerusakan dan dampak bencana yang dialami.
Penyaluran dilakukan secara bertahap pada akhir Januari hingga awal Februari 2026.
Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz Muksin, menegaskan bahwa literasi menjadi salah satu strategi utama dalam pemulihan pendidikan pascabencana.
Aktivitas membaca dinilai mampu membantu anak-anak menenangkan emosi, mengurangi dampak traumatis, dan kembali beradaptasi dengan rutinitas belajar.
Menurut Hafidz, buku tidak hanya berfungsi sebagai sumber belajar, tetapi juga sebagai media pendampingan psikologis yang menumbuhkan rasa aman, harapan, dan semangat baru bagi peserta didik.
Melalui pendekatan ini, Kemendikdasmen berupaya memastikan pemulihan pendidikan berjalan secara berkelanjutan dan menyentuh kebutuhan anak secara utuh. (*)