Kemendikdasmen Salurkan Bantuan Laboratorium IPA ke 100 SMA

Kemendikdasmen menyalurkan bantuan sarana laboratorium IPA kepada 100 SMA terpilih di Indonesia pada 2026. Program ini ditujukan untuk memperkuat budaya sains, meningkatkan keterampilan eksperimen siswa, serta mendukung penerapan pembelajaran mendalam berbasis praktik di sekolah.

Kemendikdasmen Salurkan Bantuan Laboratorium IPA ke 100 SMA
Suasana penyerahan bantuan pemerintah sarana laboratorium IPA jenjang SMA. (Sumber: Kemendikdasmen)

RINGKASAN BERITA: 

  • 100 SMA terpilih di seluruh Indonesia menerima bantuan sarana laboratorium IPA dari Kemendikdasmen
  • Bantuan ini upaya pemerintah memperkuat ekosistem pembelajaran berbasis eksperimen
  • Praktikum di sekolah dianggap sejalan dengan deep learning.

RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memperkuat pembelajaran sains di sekolah melalui penyaluran bantuan sarana laboratorium IPA kepada 100 SMA terpilih di seluruh Indonesia pada tahun 2026.

Program tersebut diharapkan mampu mendorong lahirnya budaya berpikir ilmiah dan meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami berbagai fenomena melalui praktik langsung.

Bantuan tersebut disertai pelaksanaan Bimbingan Teknis Bantuan Pemerintah Sarana Laboratorium IPA Jenjang SMA yang digelar di Tangerang Selatan, Senin (22/6/2026).

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat ekosistem pembelajaran berbasis eksperimen dan literasi sains di sekolah.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, menegaskan bahwa laboratorium memiliki peran penting dalam proses pembelajaran karena memungkinkan peserta didik mengalami langsung proses memperoleh pengetahuan.

“Sekolah tanpa laboratorium tidak punya makna pembelajaran. Dia hanya sekolah, hanya schooling, bukan learning. Bantuan ini sebenarnya upaya untuk memperkuat ekosistem pembelajaran anak-anak kita,” ujar Fajar.

Menurutnya, keberadaan laboratorium tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas penunjang, tetapi menjadi ruang yang membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan memanfaatkan pengetahuan untuk memahami persoalan di lingkungan sekitar.

Ia menjelaskan bahwa literasi sains menjadi kebutuhan penting di tengah derasnya arus informasi yang dihadapi generasi muda saat ini.

Karena itu, siswa perlu dibekali kemampuan untuk menganalisis dan menguji informasi secara rasional.

“Literasi sains itu dipahami ketika anak mampu menggunakan informasi atau pengetahuan yang dia miliki untuk melihat fenomena yang terjadi di lingkungannya. Bukan sekadar dia mengerti, tetapi dia tahu bagaimana menggunakan pengetahuan yang dimiliki untuk melihat fenomena yang berkembang tadi,” ujarnya.

Fajar menilai aktivitas praktikum di laboratorium juga sejalan dengan konsep Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) yang saat ini dikembangkan Kemendikdasmen.

Melalui pendekatan tersebut, peserta didik tidak hanya menerima teori di ruang kelas, tetapi juga melakukan pengujian dan pembuktian secara langsung.

“Praktikum di laboratorium dan proses bekerja sains di laboratorium itu mencerminkan praktik pembelajaran mendalam. Ketika di kelas anak diberi teori, di laboratorium anak diminta untuk menguji teori,” tutur dia.

Ia pun mengajak seluruh sekolah penerima bantuan untuk menjadikan laboratorium sebagai pusat pengembangan rasa ingin tahu, keberanian bertanya, dan budaya berpikir ilmiah yang kuat di kalangan peserta didik.

“Yang harus kita bangun adalah budaya berpikir ilmiah. Murid kita tidak hanya menjadi konsumen teori atau konsumen informasi. Dia harus didorong untuk bisa mengalami pengetahuan itu. Jadi kata kuncinya, pengetahuan itu harus dialami, bukan hanya diketahui,” ujar Fajar.

Sementara itu, Direktur SMA Kemendikdasmen, Yuli Haryanto, mengatakan bantuan sarana laboratorium IPA tahun 2026 merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sains di tingkat SMA.

Selain menyediakan peralatan praktikum, program tersebut juga dibarengi dengan pelatihan bagi sekolah agar mampu merencanakan, mengelola, memanfaatkan, dan merawat laboratorium secara efektif dan aman.

Yuli mengungkapkan tingginya minat sekolah terhadap program tersebut. Dalam masa pengusulan sekitar satu minggu, sebanyak 1.834 SMA mengajukan permohonan bantuan melalui Sistem Informasi Manajemen Sarana dan Prasarana (Simaspras).

Namun, karena kuota yang tersedia hanya 100 paket bantuan, proses seleksi dilakukan secara ketat dengan mempertimbangkan sejumlah prioritas, termasuk sekolah yang menerima revitalisasi, sekolah terdampak bencana, wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), serta sekolah yang menjadi model pembelajaran mendalam, koding, dan kecerdasan artifisial.

“Kami ingin meningkatkan kapasitas sekolah dalam merancang kegiatan pembelajaran praktikum yang bermakna, relevan dengan kurikulum, dan mendorong keterampilan eksperimen siswa,” ujar Yuli.

Melalui program ini, Kemendikdasmen berharap laboratorium tidak hanya menjadi fasilitas pendukung, tetapi menjadi sarana utama dalam membangun generasi yang memiliki kemampuan berpikir ilmiah, kritis, dan siap menghadapi tantangan masa depan. (*)