Kemendikdasmen Raih Popular Government Institution Award 2026

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) meraih Popular Government Institution Award 2026 pada ajang Indonesia Public Relations Summit (IPRS). Mendikdasmen Abdul Mu'ti menegaskan pentingnya komunikasi publik yang mengedepankan empati, akurasi, dan kemampuan mendengarkan di tengah derasnya arus informasi digital.

Kemendikdasmen Raih Popular Government Institution Award 2026
Mendikdasmen, Abdul Mu'ti menerima penghargaan Popular Government Institution Award 2026 pada ajang Indonesia Public Relations Summit (IPRS). (Sumber: Kemendikdasmen)

RINGKASAN BERITA : 

  • Kemendikdasmen meraih Popular Government Institution Award 2026 berkat komunikasi publik yang dinilai aktif, adaptif, dan bermanfaat.
  • Abdul Mu'ti menekankan pentingnya membedakan noise dan voice dalam pengambilan kebijakan di era banjir informasi digital.
  • Mendikdasmen mengajak insan komunikasi membangun budaya deep listening dan komunikasi yang empatik untuk memperkuat kepercayaan publik.

RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memperoleh penghargaan Popular Government Institution Award 2026 dalam ajang 7th Indonesia Public Relations Summit (IPRS) 2026 yang digelar di Jakarta, Kamis (6/8/2026).

Penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas komunikasi publik Kemendikdasmen yang dinilai aktif, adaptif, serta memberikan manfaat bagi masyarakat.

Usai menerima penghargaan, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menyampaikan apresiasi kepada penyelenggara IPRS yang dinilainya berkontribusi dalam mendorong peningkatan kualitas komunikasi publik di Indonesia.

Menurut Abdul Mu'ti, komunikasi publik saat ini tidak cukup hanya mengutamakan kecepatan penyampaian informasi.

Hal yang jauh lebih penting adalah membangun pemahaman sekaligus kepercayaan masyarakat terhadap setiap kebijakan yang disampaikan pemerintah.

Ia menilai derasnya arus informasi di era digital membuat setiap orang dapat memproduksi dan menyebarkan berbagai konten melalui beragam platform.

Kondisi tersebut menuntut komunikator publik mampu memilah informasi yang benar-benar bernilai dari sekadar kegaduhan di ruang digital.

"Kita harus mampu membedakan antara noise dan voice. Mana yang sekadar kegaduhan untuk menarik perhatian dan mana yang benar-benar menjadi suara substantif yang dapat menjadi masukan dalam pengambilan kebijakan," terangnya.

Abdul Mu'ti juga mengingatkan bahwa maraknya misinformasi dan disinformasi harus direspons dengan komunikasi yang berlandaskan akurasi, integritas, serta tanggung jawab.

Selain itu, ia menekankan pentingnya membangun komunikasi yang empatik dengan tetap menghormati martabat setiap individu.

Menurutnya, budaya berbahasa yang santun perlu terus ditanamkan, termasuk di lingkungan pendidikan.

"Bahasa menunjukkan bangsa, inilah yang coba terus kita bangun bagaimana (supaya masyarakat) mampu menggunakan bahasa-bahasa yang empatik, kemudian ekspresi-ekspresi ruang publik yang (diutamakan) menggambarkan kesantunan dan menggambarkan respek kepada orang lain. Itu harus kita bangun lebih luas," kata Andul Mu'ti.

Dalam kesempatan tersebut, Abdul Mu'ti turut menyoroti pentingnya kemampuan mendengarkan atau deep listening sebagai bagian dari komunikasi yang efektif.

Ia mengatakan, seorang komunikator tidak hanya dituntut mampu menyampaikan pesan dengan baik, tetapi juga memahami makna dari setiap masukan yang diterima.

"Menjadi pembicara yang baik memang penting dan banyak diajarkan, tapi bagaimana menjadi pendengar yang baik, sabar mendengarkan setiap kata, memberikan respons terhadap setiap gestur, dan kemudian mengambil makna dari yang disampaikan itu tidak selalu mudah. Termasuk kemampuan berempati selain how to deliver (yakni) bagaimana kita berbicara, (namun juga) how to listen, bagaimana mendengar (deep listening)," ungkapnya.

Sementara itu, Founder dan CEO The Iconomics, Bram S. Putro, menjelaskan bahwa tema "Komunikasi Empati, Narasi, dan Strategi" pada penyelenggaraan IPRS 2026 dipilih sebagai respons terhadap tantangan komunikasi di era keterbukaan informasi.

Menurut Bram, empati menjadi fondasi penting dalam membangun hubungan yang kuat antara institusi dan masyarakat.

"Komunikasi empati bukan sekadar teknik, melainkan filosofi interaksi. Di era transparansi yang semakin terbuka, empati menjadi modal utama untuk membangun kepercayaan publik, mengelola krisis, dan menciptakan hubungan yang bermakna. Karena itu, komunikasi harus diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan sekadar narasi," tandasnya. (*)