Orasi Ilmiah Wisuda UIN Suska Riau Soroti Pentingnya Belajar Sepanjang Hayat di Era AI

Orasi ilmiah pada wisuda hari kedua UIN Suska Riau menekankan bahwa ancaman terbesar masa depan adalah berhenti belajar. Para lulusan didorong untuk terus mengembangkan kompetensi agar mampu menghadapi perubahan teknologi dan dunia kerja.

Orasi Ilmiah Wisuda UIN Suska Riau Soroti Pentingnya Belajar Sepanjang Hayat di Era AI
Sebanyak 600 wisudawan dan wisudawati dikukuhkan pada hari kedua wisuda UIN Suska Riau Tahun 2026, Kamis (6/8/2026). (Sumber: UIN Suska Riau)

RINGKASAN BERITA:

  • Orasi ilmiah menegaskan ancaman terbesar masa depan bukan AI atau krisis ekonomi, melainkan ketika seseorang berhenti belajar.
  • Lulusan didorong menguasai siklus learn, relearn, dan unlearn agar mampu beradaptasi dengan perubahan dunia kerja.
  • Sebanyak 600 wisudawan dan wisudawati dikukuhkan pada hari kedua wisuda UIN Suska Riau Tahun 2026.

RIAUCERDAS.COM, PEKANBARU - Budaya belajar sepanjang hayat menjadi pesan utama dalam Sidang Senat Terbuka Wisuda hari kedua Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim (Suska) Riau.

Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan perubahan dunia kerja, para lulusan diingatkan agar terus mengembangkan kemampuan serta tidak berhenti belajar setelah menyelesaikan pendidikan tinggi.

Pesan tersebut disampaikan dalam orasi ilmiah oleh Muhammad Fauzan Ansyari, S.Pd.I., M.Sc., Ph.D., pada wisuda Program Doktor ke-75, Magister ke-107, serta Program Sarjana dan Diploma ke-128 yang digelar di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) UIN Suska Riau, Pekanbaru, Kamis (6/8/2026).

Dalam orasinya yang bertajuk Berhenti Belajar Ancaman Tersembunyi Masa Depan, Fauzan menegaskan bahwa ancaman terbesar bagi masa depan bukan berasal dari krisis ekonomi, konflik geopolitik, maupun perubahan iklim, melainkan ketika seseorang memutuskan untuk berhenti belajar.

Ia menjelaskan dunia saat ini telah memasuki era learning economy atau ekonomi berbasis pembelajaran.

Menurutnya, prosesi pemindahan kuncir toga saat wisuda bukanlah akhir dari proses pendidikan, melainkan awal pembelajaran di dunia nyata.

Berdasarkan data UNESCO dan OECD yang dipaparkannya, kerugian global akibat generasi muda yang tidak memiliki keterampilan dasar mencapai 180.000 triliun, lebih besar dibandingkan investasi di sektor pendidikan yang mencapai 117 triliun.

Fauzan juga mengingatkan para lulusan agar siap menghadapi tiga tantangan utama, yakni perubahan kebutuhan kompetensi yang berlangsung sangat cepat, disrupsi teknologi kecerdasan buatan yang mengubah dunia kerja, serta risiko lambat beradaptasi terhadap berbagai inovasi.

Menurutnya, proses belajar harus terus berlangsung melalui pendidikan formal, nonformal, dan informal.

Ketiga bentuk pembelajaran tersebut saling melengkapi dalam membangun kemampuan beradaptasi melalui siklus learn, relearn, dan unlearn.

Dalam orasi tersebut, Fauzan juga mengutip pandangan futurolog Alvin Toffler yang menyebut bahwa kebodohan di abad ke-21 bukan lagi ketidakmampuan membaca dan menulis, melainkan ketidakmauan untuk terus belajar, meninggalkan pola pikir lama, dan memperbarui diri di tengah perubahan.

Sebagai penutup, ia mengajak para lulusan berani keluar dari zona nyaman dengan mengutip pepatah Belanda, "Je kunt nooit een oceaan oversteken, als je niet het lef hebt om de kust uit het zicht te verliezen", yang bermakna seseorang tidak akan mampu menyeberangi lautan menuju kesuksesan tanpa keberanian meninggalkan kenyamanan yang telah dimiliki.

Sementara itu, Rektor UIN Suska Riau Prof. Dr. Hj. Leny Nofianti, M.S., S.E., M.Si., Ak., CA dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada 600 wisudawan dan wisudawati yang dikukuhkan pada hari kedua wisuda.

Ia mengingatkan para lulusan agar tidak berhenti pada pencapaian gelar akademik, tetapi mampu menjadi agen perubahan yang menghadirkan solusi bagi masyarakat serta membawa nilai-nilai keislaman dan kebangsaan dalam kehidupan bermasyarakat.

Prosesi wisuda hari kedua tersebut dibuka secara resmi oleh Ketua Senat UIN Suska Riau, Prof. Dr. Zaitun, M.Ag., dan mengukuhkan sebanyak 600 lulusan dari Program Doktor, Magister, Sarjana, dan Diploma. (*)