Menag Dorong Madrasah Jadi Rumah Literasi, Siswa Diajak Biasakan Membaca 15 Menit Setiap Hari
Menteri Agama Nasaruddin Umar meminta madrasah menjadi rumah literasi yang menghadirkan ruang membaca, diskusi, riset, menulis, dan kolaborasi digital. Ia juga mengajak siswa membiasakan membaca buku nonpelajaran selama 15 menit setiap hari untuk memperkuat nalar kritis dan karakter.
RINGKASAN BERITA:
- Menag meminta madrasah menjadi rumah literasi yang menghadirkan ruang membaca, diskusi, riset, menulis, dan kolaborasi digital.
- Peserta didik diajak membiasakan membaca buku nonpelajaran selama 15 menit setiap hari untuk memperkuat wawasan dan kecintaan terhadap ilmu.
- Literasi madrasah ditegaskan tidak hanya soal membaca, tetapi juga membangun nalar kritis, etika digital, dan kemampuan membedakan fakta dari hoaks.
RIAUCERDAS.COM, TERNATE - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mendorong madrasah di seluruh Indonesia menjadi rumah literasi yang tidak hanya menyediakan perpustakaan, tetapi juga membangun budaya membaca, berdiskusi, meneliti, menulis, dan berkolaborasi secara digital.
Pesan tersebut disampaikan saat membuka Festival Gerakan Literasi Madrasah (GALATAMA) II Tahun 2026 di Lapangan Ngara Lamo Salero, Ternate, Maluku Utara, Senin (6/7/2026).
Menurut Nasaruddin, literasi perlu dimaknai lebih luas daripada sekadar kemampuan membaca dan menulis.
Literasi juga mencakup kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, menganalisis persoalan, hingga mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari.
“Madrasah harus mampu menjadi rumah literasi. Setiap sudut madrasah perlu menghadirkan ruang membaca, ruang diskusi, ruang riset, dan ruang menulis, hingga ruang kolaborasi digital,” ujar Menag.
Ia menegaskan, Gerakan Literasi Madrasah harus menjadi upaya membangun kemampuan peserta didik dalam mengolah informasi menjadi pemikiran kritis yang bermanfaat untuk memecahkan masalah.
“Festival Gerakan Literasi Madrasah ini haruslah kita maknai lebih luas, bukan hanya meningkatkan minat membaca di kalangan para siswa, tetapi juga upaya meningkatkan kemampuan siswa untuk memahami, menganalisis, dan mengolah informasi menjadi hal-hal kritis untuk memecahkan masalah dan mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.
Menag menilai madrasah memiliki keunggulan karena mampu mengintegrasikan ilmu pengetahuan, teknologi, dan akhlak.
Di tengah derasnya arus informasi digital, peserta didik dituntut mampu memilah informasi secara kritis dan bertanggung jawab.
Ia mengingatkan tantangan pendidikan saat ini bukan lagi kekurangan informasi, melainkan kemampuan membedakan fakta dan hoaks, ilmu dan opini, serta informasi yang benar dan menyesatkan.
Karena itu, literasi di madrasah harus dibarengi dengan penguatan etika digital dan pembentukan karakter.
Menurut Nasaruddin, peserta didik madrasah perlu dibiasakan menyaring informasi sebelum menyebarkannya, berdialog tanpa kebencian, serta memanfaatkan ruang digital untuk menyebarkan ilmu dan nilai-nilai keagamaan yang membawa kemaslahatan.
Ia berharap GALATAMA tidak berhenti sebagai agenda tahunan, melainkan berkembang menjadi gerakan membangun ekosistem ilmu di madrasah.
Keberhasilan literasi, kata Menag, tidak hanya diukur dari jumlah buku yang dibaca, tetapi juga dari lahirnya gagasan, penelitian, karya, inovasi, dan solusi bagi masyarakat.
“Ukuran keberhasilan literasi tidak dilihat dari banyaknya buku yang dibaca, melainkan dari banyaknya gagasan yang ditulis, penelitian yang dilakukan, karya yang dihasilkan, inovasi yang diciptakan, dan solusi yang dihasilkan,” ujar Menag.
Dalam kesempatan itu, Menag juga mengajak seluruh madrasah membiasakan peserta didik membaca buku nonpelajaran selama 15 menit setiap hari untuk memperluas wawasan dan menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu.
“Marilah kita terus jaga dan tingkatkan semangat Gerakan Literasi Madrasah dengan menerapkan kebiasaan membaca buku non-pelajaran selama 15 menit setiap hari,” ucapnya. (*)