Pascabanjir Sumatra, Menag Pastikan Madrasah Tetap Berjalan 100 Persen

Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan pendidikan keagamaan tidak boleh terhenti akibat bencana. Pascabanjir di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, seluruh siswa madrasah dipastikan tetap mendapatkan layanan pembelajaran, baik secara normal maupun melalui sistem darurat.

Pascabanjir Sumatra, Menag Pastikan Madrasah Tetap Berjalan 100 Persen
Menteri Agama Nasaruddin Umar saat Rapat Koordinasi bersama Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Pemerintah di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (18/2/2026). (Sumber: Kemenag)

RINGKASAN BERITA:

  • Pemerintah memastikan 100 persen siswa madrasah tetap belajar pascabanjir di Sumatra.

  • Sebanyak 84 persen madrasah dan 75 persen pesantren terdampak telah kembali beroperasi.

  • Kemenag mengusulkan anggaran hampir Rp703 miliar untuk percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi.

RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Pemerintah memastikan keberlangsungan pendidikan keagamaan tetap terjaga pascabanjir yang melanda wilayah Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa seluruh siswa madrasah di daerah terdampak saat ini tetap mengikuti proses pembelajaran.

Penegasan tersebut disampaikan Menag saat Rapat Koordinasi bersama Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Pemerintah di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (18/2/2026).

“Pendidikan tidak boleh berhenti karena bencana. Berdasarkan data per 11 Februari 2026, kami pastikan 100 persen siswa madrasah tetap belajar,” ujar Menag di Kompleks Parlemen.

Menag merinci, sebanyak 90,5 persen siswa sudah kembali belajar secara normal di madrasah masing-masing.

Sementara sisanya mengikuti pembelajaran melalui sistem bergilir, memanfaatkan ruang darurat, tenda pendidikan, maupun menumpang di fasilitas lain yang memungkinkan.

Selain memastikan layanan pendidikan, Kementerian Agama juga mencatat kemajuan signifikan dalam pemulihan sarana prasarana.

Dari total 773 madrasah yang terdampak banjir, sebanyak 651 unit atau sekitar 84 persen telah kembali beroperasi.

Pemulihan juga terjadi di lingkungan pesantren. Dari 1.173 pondok pesantren terdampak, sebanyak 883 pesantren atau 75 persen telah kembali menjalankan aktivitas pendidikan dan pembinaan santri.

“Pemulihan aspek spiritual menjadi perhatian utama kami. Saat ini, 97 persen rumah ibadah atau 1.553 unit dari 1.593 rumah ibadah terdampak telah difungsikan kembali oleh masyarakat,” jelas Nasaruddin.

Menag menambahkan, capaian tersebut merupakan hasil kerja cepat relawan dan jajaran Kemenag di lapangan yang melakukan penanganan darurat, mulai dari penyediaan ruang kelas sementara hingga bantuan langsung kepada pengelola madrasah, pesantren, dan rumah ibadah.

Untuk mempercepat pemulihan secara menyeluruh, Kementerian Agama mengusulkan dukungan anggaran melalui Rincian Output Khusus Direktif Presiden senilai Rp702,98 miliar yang bersumber dari Rupiah Murni.

Anggaran tersebut direncanakan untuk rehabilitasi gedung pendidikan dan rumah ibadah yang mengalami kerusakan sedang hingga berat, termasuk relokasi fasilitas di wilayah rawan bencana.

“Kami ingin memastikan dukungan anggaran ini benar-benar dirasakan masyarakat agar kehidupan sosial, pendidikan, dan keagamaan di Sumatra dapat kembali berjalan normal,” pungkas Menag.

Rapat koordinasi tersebut turut dihadiri jajaran pimpinan Satgas DPR RI, perwakilan kementerian dan lembaga Kabinet Merah Putih, serta anggota Satgas DPR RI. (*)