Harimau Sumatera Dekati Permukiman di Pelalawan, BBKSDA Riau Lakukan Penggiringan Induk dan Anak

Balai Besar KSDA Riau menurunkan tim mitigasi ke Desa Pulau Muda, Pelalawan, setelah video penampakan anak harimau viral di media sosial. Hasil pemantauan menunjukkan harimau berada dekat permukiman dan diduga merupakan induk beserta anaknya. Tim gabungan kini melakukan penggiringan agar satwa kembali ke habitat hutan, disertai sosialisasi kepada masyarakat demi mencegah konflik manusia dan satwa.

Harimau Sumatera Dekati Permukiman di Pelalawan, BBKSDA Riau Lakukan Penggiringan Induk dan Anak
Ilustrasi harimau Sumatra. (Sumber: Diolah dengan AI)

RINGKASAN BERITA:

  • Kemunculan harimau terdeteksi hanya berjarak sekitar 200–300 meter dari rumah warga.
  • Tim menduga harimau yang muncul merupakan satu keluarga: induk dan anak usia 4–5 bulan.
  • BBKSDA fokus menggiring satwa kembali ke hutan serta mengimbau warga tidak menyebarkan video.

RIAUCERDAS.COM, PELALAWAN - Aktivitas harimau Sumatera yang terekam kamera warga di Desa Pulau Muda, Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan, mendorong Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau turun langsung ke lapangan.

Tim mitigasi dikerahkan menyusul viralnya video yang diduga menampilkan anak harimau di sekitar wilayah permukiman, Senin (19/1/2026).

Kepala Balai Besar KSDA Riau, Supartono, mengatakan hasil identifikasi awal menunjukkan keberadaan harimau berada di zona perbatasan kawasan hutan yang selama ini dikenal sebagai jalur pergerakan alami satwa tersebut.

“Dari pemantauan terakhir, lokasi kemunculan relatif dekat dengan aktivitas warga, berkisar 200 sampai 300 meter dari permukiman,” ujar Supartono, Selasa (20/1/2026).

Tim di lapangan menemukan sejumlah jejak yang mengindikasikan lebih dari satu individu harimau.

Berdasarkan karakteristik dan pola pergerakan, satwa tersebut diduga merupakan satu kelompok keluarga yang terdiri atas seekor induk dan anak harimau berusia sekitar empat hingga lima bulan.

Supartono menjelaskan, pada usia tersebut anak harimau masih sangat bergantung pada induknya dan umumnya belum mampu bertahan hidup sendiri.

Kondisi ini menjadi perhatian khusus tim dalam menentukan langkah penanganan.

“Fokus kami adalah memastikan induk dan anaknya dapat bergerak kembali ke dalam kawasan hutan yang lebih aman dan jauh dari permukiman,” katanya.

Upaya mitigasi melibatkan unsur TNI, Polri, pihak Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) terdekat, serta masyarakat setempat.

Tim melakukan pemantauan intensif sekaligus penggiringan secara bertahap agar kawanan harimau menjauh dari wilayah aktivitas warga.

Selain langkah teknis, BBKSDA Riau juga melakukan sosialisasi kepada masyarakat.

Warga diimbau tidak merekam maupun menyebarluaskan konten penampakan harimau untuk menghindari kepanikan dan potensi informasi menyesatkan.

Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama saat beraktivitas pada waktu fajar dan malam hari, menjaga ternak agar tidak dilepas di area terbuka, serta segera melapor kepada petugas jika menemukan tanda-tanda keberadaan harimau.

“Penanganan kami mengedepankan keselamatan manusia sekaligus perlindungan satwa yang dilindungi. Tim akan tetap berada di lokasi sampai situasi benar-benar kondusif,” tutup Supartono. (*)