Kemendikdasmen Tegaskan TKA SD–SMP Humanis dan Berintegritas, 97 Persen Sekolah Sudah Berpartisipasi
Kemendikdasmen memperkuat implementasi Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SD dan SMP dengan pendekatan humanis dan berorientasi pada kesiapan mental siswa. Dalam sosialisasi di Depok, ditegaskan bahwa asesmen bukan tujuan akhir, melainkan sarana meningkatkan kualitas pembelajaran.
RINGKASAN BERITA:
-
Partisipasi TKA SD dan SMP telah mencapai sekitar 97 persen satuan pendidikan.
-
TKA ditegaskan sebagai instrumen peningkatan mutu pembelajaran, bukan sekadar ujian penentu hasil.
-
Semangat “TKA Jujur dan Gembira” diusung untuk menanamkan integritas dan menjaga kesiapan mental siswa.
RIAUCERDAS.COM, DEPOK - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memastikan pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SD dan SMP berjalan dengan pendekatan humanis, menjunjung integritas, serta memperhatikan kesejahteraan psikologis peserta didik.
Hingga saat ini, partisipasi satuan pendidikan dalam TKA telah mencapai sekitar 97 persen.
Komitmen tersebut mengemuka dalam Sosialisasi TKA bertema “Sekolah sebagai Ruang Aman: Strategi Mengelola Kesiapan Mental Siswa Menghadapi TKA” yang digelar Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemendikdasmen bekerja sama dengan Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP), di Pusat Pelatihan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Kemendikdasmen, Depok, Jawa Barat, Rabu (4/3/2026) kemarin.
Penasihat DWP Kemendikdasmen, Masmidah Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa TKA merupakan bagian dari sistem asesmen nasional yang dirancang untuk mendorong peningkatan mutu pembelajaran secara berkelanjutan.
Ia menekankan bahwa asesmen tidak boleh dipahami sebagai tujuan akhir pendidikan.
“Tes Kemampuan Akademik dirancang sebagai bagian dari sistem asesmen yang mendorong peningkatan kualitas pembelajaran. Namun perlu kita tegaskan bahwa asesmen bukanlah tujuan akhir. Asesmen adalah sarana untuk memahami proses belajar siswa, menetapkan kebutuhan mereka, dan memperbaiki layanan pendidikan agar semakin relevan dan bermakna,” ujarnya.
Menurutnya, peserta didik harus dipandang sebagai individu yang tengah bertumbuh, bukan sekadar objek pengukuran capaian akademik.
Ia mengingatkan agar asesmen tidak menjadi sumber tekanan berlebihan.
“Kita tidak boleh membiarkan asesmen menjadi sumber tekanan yang berlebihan. Sebaliknya, asesmen harus menjadi pengalaman belajar yang memperkuat mental, karakter, dan daya juang mereka,” tegas Masmidah.
Pendekatan humanis tersebut diwujudkan melalui sinergi sekolah dan keluarga.
Guru berperan tidak hanya sebagai penyampai materi, tetapi juga pembina karakter dan motivator belajar.
Di sisi lain, orang tua menjadi fondasi awal dalam menanamkan kepercayaan diri, ketekunan, dan kejujuran.
Kolaborasi ini diharapkan membuat pelaksanaan TKA berfokus pada proses belajar yang sehat, bukan semata-mata hasil akhir.
Kepala BSKAP, Toni Toharudin, menambahkan bahwa TKA bukan sekadar ujian tambahan, melainkan instrumen strategis untuk memetakan kemampuan akademik siswa secara objektif, khususnya dalam aspek literasi, numerasi, dan penalaran.
“Ketika kita berbicara tentang Tes Kemampuan Akademik, kita sebenarnya sedang berbicara tentang budaya belajar yang sehat. TKA membantu kita melihat secara lebih jujur bagaimana proses belajar terjadi di ruang kelas dan apa yang perlu kita perbaiki bersama,” katanya.
Ia menekankan semangat “TKA Jujur dan Gembira” sebagai nilai dasar pelaksanaannya.
Kejujuran, menurutnya, merupakan fondasi asesmen yang bermartabat. Sementara suasana gembira penting agar pendidikan tidak menjadi sumber ketakutan bagi anak.
“Jika hasil asesmen dimanipulasi atau tekanan membuat kejujuran dikorbankan, maka kita kehilangan makna pendidikan itu sendiri. Di sisi lain, pendidikan tidak boleh menjadi sumber ketakutan. Anak-anak harus datang ke sekolah dengan rasa siap dan percaya diri,” tuturnya.
Dengan pendekatan tersebut, TKA diharapkan mampu menumbuhkan budaya integritas sejak dini sekaligus memperkuat rasa percaya diri peserta didik dalam menghadapi berbagai bentuk evaluasi pembelajaran.
Sementara itu, Ketua DWP Kemendikdasmen, Marlina Hafidz Muksin, dalam laporannya menyampaikan bahwa sosialisasi ini merupakan bagian dari program kerja bidang pendidikan DWP untuk memperluas pemahaman kebijakan asesmen di lingkungan keluarga dan masyarakat.
Kegiatan tersebut diikuti perwakilan dari 20 sekolah di sekitar PPSDM, yang terdiri atas kepala sekolah, guru, guru bimbingan dan konseling, komite sekolah, serta perwakilan dinas pendidikan. (*)