Sekolah Kurikulum Cambridge Gunakan TKA untuk Ukur Standar Nasional
TKA dimanfaatkan sekolah berkurikulum internasional sebagai alat ukur capaian siswa sesuai standar nasional. Pemerintah menegaskan pentingnya evaluasi untuk meningkatkan mutu pendidikan.
RINGKASAN BERITA:
- Sekolah berkurikulum Cambridge mulai gunakan TKA untuk ukur standar nasional.
- Orang tua antusias memantau capaian belajar anak melalui hasil TKA.
- TKA jadi alat evaluasi menyeluruh, dari guru hingga fasilitas pendidikan.
RIAUCERDAS.COM, SURABAYA - Tes Kemampuan Akademik (TKA) kini tidak hanya dimanfaatkan sekolah berkurikulum nasional, tetapi juga menjadi acuan penting bagi satuan pendidikan berbasis internasional dalam mengukur capaian belajar siswa sesuai standar nasional.
Hal ini terlihat di SD Intan Permata Hati Surabaya yang menggunakan kurikulum Cambridge.
Kepala sekolah, Dewa Made, menilai TKA menjadi instrumen penting untuk menyelaraskan capaian siswa dengan standar pendidikan nasional.
“Harapannya TKA ini bisa terus berjalan sehingga kami bisa mengukur kemampuan murid sesuai standar kurikulum pemerintah,” ujarnya, Rabu (22/4/2026).
Menurutnya, pelaksanaan TKA juga mendapat respons positif dari orang tua.
Mereka memanfaatkan hasil asesmen untuk mengetahui sejauh mana kemampuan anak sesuai tolok ukur nasional.
Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menegaskan bahwa peningkatan mutu pendidikan harus menjadi orientasi utama seluruh satuan pendidikan, baik yang menggunakan kurikulum nasional maupun internasional.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, menekankan bahwa kualitas pembelajaran menjadi tujuan utama dalam sistem pendidikan.
“Yang perlu terus dilakukan adalah mewujudkan visi misi dari Kemendikdasmen, yaitu untuk mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua. Jadi, orientasinya pada kualitas pembelajaran, kualitas hasil pendidikan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa TKA berfungsi sebagai alat evaluasi untuk mengidentifikasi berbagai aspek yang perlu ditingkatkan dalam pendidikan, mulai dari kompetensi guru hingga fasilitas pendukung.
“TKA adalah untuk mengevaluasi apa yang kurang yang harus ditingkatkan. Tujuannya sama supaya pendidikan lebih berkualitas, karena tanpa evaluasi kita tidak akan pernah bisa mengetahui kekurangannya di mana. Apa kekurangannya dari para guru, kemudian juga metode pembelajarannya apa bahkan juga fasilitas yang harus tersedia itu juga kita evaluasi. Oleh karena itu, dilakukan monitoring dan evaluasi (monev) pelaksanaan TKA,” jelasnya.
Selain aspek akademik, Atip juga menyoroti pentingnya lingkungan sekolah dalam mendukung kualitas belajar siswa. Ia menekankan konsep lingkungan ASRI sebagai standar pendukung pendidikan bermutu.
“Fasilitas yang harus tersedia untuk menuju pendidikan bermutu adalah lingkungan sekolah yang ASRI. Jadi kita menyebutnya Aman, Sehat, Resik, dan Indah. Kita tingkatkan agar semua sekolah memiliki lingkungan yang ASRI semuanya karena itu sangat berpengaruh penting untuk tercapainya pendidikan yang bermutu,” pesannya.
Sementara itu, perwakilan bagian kurikulum SD Intan Permata Hati, Fani, menyebut TKA tidak hanya bermanfaat bagi siswa, tetapi juga bagi guru sebagai bahan refleksi pembelajaran.
“TKA ini untuk mengevaluasi pembelajaran murid sehingga kami berharap mereka bisa memberikan yang terbaik dan guru-guru juga bisa mengevaluasi jika nanti nilainya ada yang perlu dibantu, kami bisa memberikan lebih lagi,” jelasnya.
Pemanfaatan TKA oleh sekolah berkurikulum internasional menunjukkan bahwa asesmen ini semakin relevan sebagai alat ukur nasional yang mampu menjembatani berbagai sistem pendidikan dalam meningkatkan mutu pembelajaran. (*)


