147.770 Buku Disalurkan Kemendikdasmen untuk Percepat Pemulihan Pendidikan di Sumbar
Selain menyalurkan bantuan buku pembelajaran, pemerintah juga melakukan sosialisasi panduan pembelajaran darurat serta memantau fasilitas TIK untuk memastikan proses pemulihan pendidikan berjalan adaptif dan berkelanjutan.
RINGKASAN BERITA :
- Ratusan ribu buku pembelajaran disalurkan untuk sekolah terdampak bencana di Sumatra.
- Kemendikdasmen turun langsung ke sekolah-sekolah di Sumatra Barat memastikan hak belajar tetap terpenuhi.
- Fasilitas TIK ikut dipantau agar transformasi digital pendidikan tetap berjalan inklusif
RIAUCERDAS.COM, PADANG - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mempercepat pemulihan layanan pendidikan di wilayah terdampak bencana dengan menyalurkan 147.770 eksemplar buku pembelajaran serta melakukan kunjungan langsung ke sejumlah sekolah di Provinsi Sumatra Barat pada 7–8 Januari 2026.
Langkah ini dilakukan melalui Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) sebagai bentuk komitmen pemerintah untuk memastikan hak belajar peserta didik tetap terpenuhi meskipun berada dalam situasi darurat kebencanaan.
Dalam kunjungan tersebut, BSKAP menyalurkan bantuan buku pembelajaran melalui Pusat Perbukuan Kemendikdasmen kepada sekolah-sekolah terdampak.
Bantuan ini ditujukan untuk menjawab keterbatasan akses terhadap sumber belajar, khususnya pada satuan pendidikan yang mengalami kerusakan infrastruktur dan belum dapat mengoptimalkan pembelajaran digital.
Sekolah yang dikunjungi meliputi SDN 05 Batang Anai dan SMAN 1 Batang Anai di Kabupaten Padang Pariaman, SDN 49 Batang Kabung, SDN 16 Air Tawar, serta SMAN 9 Kota Padang di Kota Padang, dan SMPN 1 Kubung di Kabupaten Solok.
Secara keseluruhan, penyaluran buku penanganan bencana sepanjang 2025 di wilayah Sumatra mencapai 147.770 eksemplar.
Jumlah tersebut terdiri atas 91.100 Buku Teks Utama untuk jenjang PAUD hingga SMA, serta 56.670 Buku Nonteks Pelajaran untuk jenjang PAUD, SD, SMP/SMA, dan pendidikan khusus.
Bantuan ini menjangkau Provinsi Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara.
Selain distribusi buku, BSKAP juga melaksanakan sosialisasi Petunjuk Teknis Panduan Pembelajaran pada Satuan Pendidikan Terdampak Bencana.
Panduan ini menjadi acuan bagi kepala sekolah, pendidik, dan pemangku kepentingan dalam menyelenggarakan pembelajaran adaptif pascabencana, dengan tetap mengedepankan keselamatan, kesehatan, dan pemulihan psikososial peserta didik.
Kepala BSKAP, Toni Toharudin, menegaskan bahwa panduan tersebut dirancang fleksibel dan berpihak pada kondisi satuan pendidikan. “Panduan ini kami susun agar menjadi pegangan yang praktis, kontekstual, dan mudah diterapkan, tanpa membebani guru maupun peserta didik,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan bahwa penyaluran buku menjadi bagian penting dari strategi pemulihan pendidikan.
Menurutnya, buku merupakan sumber belajar yang paling siap digunakan di berbagai kondisi, terutama ketika infrastruktur digital belum sepenuhnya pulih.
Selama kunjungan, tim BSKAP berdialog langsung dengan kepala sekolah dan guru untuk menyerap berbagai tantangan di lapangan, mulai dari keterbatasan ruang belajar, kondisi psikologis peserta didik, hingga kebutuhan pendampingan pembelajaran dalam situasi darurat.
Masukan ini akan digunakan sebagai bahan penyempurnaan kebijakan dan langkah tindak lanjut.
Di sisi lain, pemantauan fasilitas Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) turut dilakukan, termasuk kondisi keamanan dan perangkat Papan Digital Interaktif di sekolah-sekolah terdampak.
Pemantauan ini bertujuan memastikan transformasi digital pendidikan tetap berjalan inklusif dan sesuai dengan kondisi nyata di lapangan.
Staf Khusus Menteri Bidang Transformasi Digital dan Kecerdasan Buatan, Muhammad Muchlas Rowi, menyampaikan bahwa hasil pemantauan menunjukkan perlunya pendekatan adaptif dalam penguatan pembelajaran berbasis teknologi.
“Pemantauan ini penting agar transformasi digital berjalan selaras dengan kondisi riil satuan pendidikan dan tidak menambah beban baru bagi sekolah,” ujarnya.
Kemendikdasmen menegaskan bahwa pemulihan pendidikan tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga penguatan kebijakan, pendampingan satuan pendidikan, serta penyediaan sumber belajar yang relevan.
Kehadiran BSKAP diharapkan dapat memberikan semangat bagi pendidik dan peserta didik untuk bangkit dan kembali menjalankan proses pembelajaran.
Sebagai tindak lanjut, BSKAP akan melakukan pemantauan berkala terhadap penerapan Petunjuk Teknis Panduan Pembelajaran pada Satuan Pendidikan Terdampak Bencana.
Hasil pemantauan ini akan menjadi dasar penyempurnaan kebijakan dan penyusunan rekomendasi lanjutan yang lebih kontekstual dengan kebutuhan daerah terdampak. (*)