Penelitian: Mikroba Usus Ibu Berperan Cegah Keguguran dan Dukung Kehamilan Sehat

Penelitian terbaru mengungkap mikroba usus berperan melatih sistem imun ibu agar mentoleransi janin, sehingga membantu mencegah keguguran dan meningkatkan peluang kehamilan sehat.

Penelitian: Mikroba Usus Ibu Berperan Cegah Keguguran dan Dukung Kehamilan Sehat
Ilustrasi wanita hamil. (Sumber: Diolah dengan AI)

RINGKASAN BERITA:

  • Bakteri baik menghasilkan metabolit yang membantu sistem imun ibu mengenali janin sebagai bagian tubuh, bukan ancaman.
  • Kekurangan mikroba tertentu dikaitkan dengan meningkatnya risiko keguguran akibat reaksi imun berlebihan.
  • Peneliti membuka peluang pengembangan suplemen berbasis mikrobioma untuk meningkatkan peluang kehamilan sehat.

RIAUCERDAS.COMMikroba usus kemungkinan memainkan peran penting dalam melatih sistem kekebalan ibu agar beradaptasi dengan janin yang sedang berkembang selama kehamilan, menurut studi praklinis oleh peneliti Weill Cornell Medicine.

Temuan yang dipublikasikan pada 17 Desember di jurnal Cell menunjukkan bahwa bakteri usus yang bermanfaat membantu mencegah reaksi sistem imun yang dapat menyebabkan keguguran pada tikus.

Para peneliti menunjukkan bahwa metabolit yang dihasilkan mikroba usus mendorong perekrutan dua jenis sel imun pelindung, yakni myeloid-derived suppressor cells (MDSCs) dan sel T regulator RORyt+ (pTregs), ke plasenta serta membantu sistem imun ibu belajar mentoleransi janin.

“Selama kehamilan sangat penting sistem imun ibu dilatih untuk mengenali bahwa janin tidak berbahaya,” kata penulis senior Melody Zeng, profesor madya imunologi pediatrik dan anggota Gale and Ira Drukier Institute for Children’s Health di Weill Cornell Medicine.

“Hal itu mencegah sistem imun ibu menyerang janin, yang dapat menyebabkan keguguran berulang atau lahir mati,” tuturnya dikutip dari situs Cornell University, Sabtu (14/2/2026).

Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists, lebih dari setengah perempuan yang mengalami keguguran berulang belum diketahui penyebab pastinya.

Studi sebelumnya mengaitkan gangguan mikrobiota usus dengan disfungsi sistem imun atau kondisi peradangan, namun mekanisme pastinya masih belum jelas.

Zeng dan timnya meneliti potensi peran mikrobiota usus dalam toleransi imun ibu-janin dan hasil kehamilan.

Dr. Virginia Pascual, Direktur Gale and Ira Drukier Children’s Health Research sekaligus Ronay Menschel Professor of Pediatrics di Weill Cornell Medicine, serta Gregory Sonnenberg, wakil ketua bidang riset Departemen Kedokteran dan Henry R. Erle, M.D.-Roberts Family Professor of Medicine, turut berkontribusi dalam proyek kolaboratif multidisipliner ini.

Zeng dan rekan-rekannya meneliti respons imun ibu selama kehamilan pada dua model tikus: tikus yang dibesarkan di lingkungan steril tanpa paparan bakteri, jamur, dan virus (germ-free mice); serta tikus yang diberi antibiotik untuk mengganggu bakteri bermanfaat.

Mereka menemukan bahwa tikus germ-free dan tikus yang diberi antibiotik mengalami peradangan berlebihan di plasenta yang menyebabkan kematian janin dibandingkan tikus dengan mikrobioma usus sehat.

Secara khusus, tikus tersebut menghasilkan jumlah berlebihan sel T penghasil interferon-gamma dan antibodi yang dapat menyerang janin.

Sebaliknya, tikus hamil dengan mikrobioma usus sehat menghasilkan kedua jenis sel imun pelindung, MDSCs dan pTregs, yang membantu membangun toleransi terhadap janin.

Tim menemukan bahwa cairan amnion pada tikus hamil dengan mikrobioma usus sehat mengandung metabolit turunan asam amino triptofan yang dihasilkan mikroba usus tertentu.

Metabolit ini mempertahankan sel imun pelindung di antarmuka ibu-janin untuk meningkatkan toleransi imun.

Pemberian metabolit triptofan, atau bakteri penghasilnya, pada tikus germ-free meningkatkan tingkat kelangsungan hidup janin dari 50% menjadi 95%.

Sebaliknya, pemberian bakteri usus yang tidak terkait jalur ini tidak memperbaiki hasil kehamilan.

Selanjutnya, tim meneliti sampel jaringan yang luruh dari rahim setelah akhir kehamilan, yang disebut jaringan desidua, dari perempuan yang mengalami keguguran berulang.

Mereka menemukan kadar metabolit turunan triptofan yang lebih rendah serta jumlah MDSCs dan pTregs yang lebih sedikit.

“Sel imun yang sama yang kami identifikasi pada tikus tampaknya juga penting dalam kehamilan manusia,” kata penulis pertama studi ini, Julia Brown, peneliti pascadoktoral bidang pediatri di Weill Cornell Medicine.

“Kami perlu melakukan studi tambahan untuk memastikan peran sel imun ini dan metabolit triptofan pada kehamilan manusia.”

Tim akan menyelidiki lebih lanjut peran mikroba usus dalam meningkatkan toleransi imun selama kehamilan dan menggunakan temuan ini untuk mengembangkan terapi yang lebih terarah.

Pada akhirnya, mereka berencana bekerja sama dengan dokter untuk mengevaluasi suplemen atau intervensi yang meningkatkan mikroba usus bermanfaat atau metabolitnya guna meningkatkan peluang kehamilan cukup bulan yang berhasil.

“Penelitian kami memberikan wawasan baru tentang faktor-faktor dari mikrobioma yang mendukung toleransi imun selama kehamilan,” kata Zeng.

“Kami berharap suatu hari dapat memanfaatkan wawasan ini untuk mengembangkan terapi yang mendukung toleransi imun selama kehamilan dan membantu perempuan yang mengalami infertilitas atau keguguran berulang tanpa penyebab jelas.”

Penelitian ini sebagian didukung oleh Eunice Kennedy Shriver National Institute of Child Health and Human Development, National Heart, Lung and Blood Institute, dan National Cancer Institute yang merupakan bagian dari National Institutes of Health.

Dukungan tambahan diberikan oleh Hartwell Foundation; Starr Cancer Consortium; hibah perintis dari Friedman Center for Nutrition and Inflammation dan Jill Roberts Institute for Research in IBD di Weill Cornell Medicine; Weill Cornell Children’s Health Council; serta dukungan awal dari Gale and Ira Drukier Institute for Children’s Health di Weill Cornell Medicine. (*)