BRIN: Banjir Bandang Bukan Sekadar Hujan Ekstrem, Tanda Keruntuhan Ekosistem Hutan

Peneliti BRIN menyebut banjir bandang yang berulang merupakan tanda keruntuhan ekosistem hutan, bukan semata akibat hujan ekstrem. Kerusakan sistemik hutan dinilai memicu bencana yang makin cepat dan destruktif.

BRIN: Banjir Bandang Bukan Sekadar Hujan Ekstrem, Tanda Keruntuhan Ekosistem Hutan
Tim BNPB meninjau lokasi pemasangan jembatan bailey di Kabupaten Bieruen, pada Kamis (11/12/2025) lalu. Peneliti BRIN menyebut banjir bandang melainkan alarm serius keruntuhan ekosistem hutan. (Sumber: BNPB)

RINGKASAN BERITA:

  • Banjir bandang disebut alarm ekologis akibat runtuhnya fungsi hutan.

  • Kerusakan terjadi bertahap melalui fragmentasi hingga hilangnya fragmen hutan.

  • Pemulihan butuh pendekatan lintas sektor dan perubahan paradigma pengelolaan hutan.

RIAUCERDAS.COM, CIBINONG - Banjir bandang yang kian sering terjadi di berbagai wilayah disebut bukan lagi sekadar dampak hujan ekstrem, melainkan alarm serius keruntuhan ekosistem hutan.

Peneliti ahli utama dari BRIN menegaskan, bencana ini menandakan fungsi hutan sebagai penyangga kehidupan mulai runtuh secara sistemik.

Peneliti Konservasi Keanekaragaman Hayati BRIN, Prof. Hendra Gunawan, menyebut hujan lebat di wilayah tropis sejatinya fenomena alami.

Namun ketika hutan kehilangan kemampuan mengatur tata air dan menstabilkan tanah, curah hujan singkat dapat berubah menjadi aliran destruktif yang membawa lumpur, kayu, dan batu hingga merusak permukiman serta infrastruktur.

“Banjir bandang bukan lagi kejadian alam biasa, melainkan sinyal bahwa ekosistem hutan di banyak bentang alam telah berada pada kondisi kritis,” jelas Hendra dikutip dari situs BRIN, Sabtu (14/2/2026).

Ia menjelaskan deforestasi memang berperan, tetapi bukan satu-satunya penjelasan.

Menurutnya, kerusakan yang terjadi bersifat sistemik karena hutan merupakan jaringan kompleks yang melibatkan tanah, air, tumbuhan, satwa, mikroorganisme, dan iklim mikro yang saling bergantung.

Ketika tekanan berlangsung terus-menerus, daya lenting ekosistem melemah hingga akhirnya runtuh.

Pada fase ini, fungsi ekologis berhenti bekerja optimal. Air hujan tak lagi terserap, stabilitas lereng melemah, pengendalian iklim mikro terganggu, dan habitat keanekaragaman hayati menyusut drastis.

Dalam konteks tersebut, banjir bandang menjadi konsekuensi logis dari runtuhnya sistem alam.

Hendra menuturkan keruntuhan ekosistem tidak terjadi seketika, melainkan melalui proses bertahap yang kerap luput dari perhatian.

Ia memaparkan lima proses perubahan lanskap, mulai dari fragmentasi hutan, pembelahan akibat infrastruktur, munculnya lubang-lubang pembukaan lahan, penyusutan fragmen, hingga hilangnya fragmen kecil secara total.

“Perubahan lanskap hutan itu gradual. Awalnya mungkin terlihat kecil, tetapi dampaknya terakumulasi,” ujarnya.

Ia menambahkan, tanda awal degradasi dapat dikenali dari terganggunya spesies kunci.

Di Sumatera, meningkatnya konflik satwa dengan manusia dinilai sebagai indikator habitat yang kian terfragmentasi dan tidak lagi sehat.

Hendra juga mengkritik cara pandang reduksionis yang menganggap hutan sekadar kumpulan pohon.

Menurutnya, solusi instan seperti penanaman massal tanpa pendekatan ekologis berisiko menghasilkan “hutan semu” yang rapuh dan miskin keanekaragaman hayati.

“Menanam pohon tidak otomatis memulihkan ekosistem,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa penghentian eksploitasi hutan saja tidak cukup.

Ekosistem yang telah rusak memerlukan pemulihan sistematis berbasis bentang alam dan kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah, dunia usaha, akademisi, hingga masyarakat.

Lebih jauh, ia menilai paradigma eksploitatif terhadap hutan perlu dievaluasi. Jika hutan terus dipandang semata sebagai sumber ekonomi, siklus kerusakan dan bencana akan terus berulang.

Sebaliknya, menempatkan hutan sebagai sistem penyangga kehidupan dinilai mampu menjaga resiliensi ekosistem sekaligus keberlanjutan kesejahteraan manusia.

Melalui perspektif ilmiah ini, BRIN mengajak seluruh pemangku kepentingan membaca banjir bandang sebagai refleksi kondisi sistem alam, bukan peristiwa insidental.

“Sudah saatnya kita belajar dari alam, sebelum alarm ekologis ini berubah menjadi keruntuhan yang tidak lagi dapat dipulihkan,” pungkas Hendra. (*)