Pakar ITB Ungkap Penyebab Korsleting Listrik Pemicu Kebakaran Rumah

Korsleting listrik masih menjadi penyebab dominan kebakaran rumah tinggal, khususnya di kawasan padat penduduk. Pakar ketenagalistrikan ITB menjelaskan bahwa kerusakan isolasi kabel, sambungan tidak standar, dan proteksi listrik yang tidak memadai menjadi faktor utama terjadinya hubungan arus pendek yang berujung kebakaran.

Pakar ITB Ungkap Penyebab Korsleting Listrik Pemicu Kebakaran Rumah
Ilustrasi kebakaran rumah akibat korsleting listrik. (Sumber: Gambar diolah dengan AI)

RINGKASAN BERITA : 

  • Pakar ITB menyebut korsleting terjadi akibat rusaknya isolasi kabel yang memicu lonjakan arus dan suhu ekstrem.
  • Sambungan tidak standar, MCB tidak sensitif, dan instalasi lawas menjadi pemicu utama kebakaran rumah.
  • Deteksi dini dan literasi ketenagalistrikan penting untuk mencegah korsleting berkembang menjadi bencana.

RIAUCERDAS.COM, BANDUNG - Korsleting listrik masih menjadi salah satu penyebab utama kebakaran rumah tinggal di Indonesia, terutama di kawasan permukiman padat.

Meski sering berawal dari gangguan sederhana seperti kabel terkelupas atau sambungan longgar, korsleting dapat berkembang menjadi kebakaran besar apabila tidak dikenali dan ditangani sejak dini.

Dosen dan Peneliti Kelompok Keahlian Teknik Ketenagalistrikan, Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB, Dr. Ir. Kevin Marojahan Banjarnahor, S.T., M.T., menjelaskan bahwa korsleting listrik terjadi ketika dua konduktor yang seharusnya tidak bersentuhan justru terhubung akibat kerusakan isolasi.

“Secara teknis, korsleting listrik adalah kondisi ketika konduktor bertegangan bersentuhan dengan konduktor yang tidak bertegangan, misalnya karena isolasi kabel rusak akibat gigitan tikus,” jelas Dr. Kevin dilansir dari portal resmi ITB.

Menurutnya, saat hubungan singkat terjadi, arus listrik akan melonjak tajam melebihi kapasitas kabel. Lonjakan arus ini memicu peningkatan suhu secara cepat pada penghantar dan titik sambungan instalasi.

Dr. Kevin menambahkan bahwa percikan listrik yang muncul dapat mencapai suhu ekstrem. “Percikan listrik bisa mencapai lebih dari 3.000 derajat Celsius. Jika mengenai material mudah terbakar, api bisa langsung menyambar, terlebih jika MCB tidak bekerja optimal,” ujarnya.

Bahaya korsleting kerap tidak disadari karena instalasi listrik banyak tersembunyi di balik dinding atau plafon.

Gangguan seperti rembesan air hujan, kelembapan tinggi, atau gigitan hewan sering kali tidak terdeteksi hingga muncul percikan api.

Berdasarkan pengamatan dan kajian teknis, Dr. Kevin mengungkapkan sejumlah faktor yang paling sering memicu korsleting listrik di rumah tinggal.

Di antaranya isolasi kabel yang rusak akibat usia atau panas berlebih, sambungan kabel yang tidak sesuai standar, penggunaan stopkontak dan ekstensi berkualitas rendah, serta pemakaian peralatan listrik dalam ruangan di area luar yang rentan terkena air.

Selain itu, penggunaan MCB atau sekring dengan rating terlalu besar juga menjadi masalah serius karena tidak sensitif terhadap gangguan arus.

Banyak rumah, menurutnya, masih menggunakan instalasi lama yang tidak memenuhi standar Peraturan Umum Instalasi Listrik (PUIL), termasuk tidak dilengkapi sistem grounding dan proteksi tambahan yang memadai.

Ia juga menekankan pentingnya mengenali tanda-tanda awal korsleting sebelum berkembang menjadi kebakaran.

Beberapa indikasi yang perlu diwaspadai antara lain stopkontak atau kabel terasa panas, bau gosong, lampu berkedip, MCB sering turun, hingga isolasi kabel yang terlihat menghitam atau meleleh.

“Sebelum korsleting besar terjadi, biasanya muncul percikan listrik yang sifatnya intermiten. Percikan inilah yang sering menjadi sumber awal api,” kata Dr. Kevin.

Dalam kondisi darurat, penanganan cepat menjadi kunci keselamatan. Ia menyarankan penghuni rumah segera memutus aliran listrik melalui MCB, menggunakan alat pemadam api ringan (APAR) yang sesuai, serta tidak menyiram api listrik dengan air.

Pemeriksaan instalasi oleh teknisi bersertifikat juga wajib dilakukan sebelum listrik dinyalakan kembali.

Di tengah meningkatnya risiko korsleting, terutama saat musim hujan dan di kawasan padat penduduk, Dr. Kevin menegaskan bahwa kebakaran akibat listrik tidak terjadi secara tiba-tiba.

 Peristiwa tersebut hampir selalu diawali oleh gangguan kecil yang diabaikan.

Literasi ketenagalistrikan, menurutnya, menjadi kunci utama pencegahan.

Semakin masyarakat memahami cara kerja instalasi listrik dan potensi gangguannya, semakin kecil kemungkinan risiko korsleting berkembang menjadi bencana kebakaran. (+)

Grafis pada konten ini diolah menggunakan AI dengan tetap melalui proses verifikasi.