BRIN Ungkap Peluang Indonesia Ikut Misi Observatorium Astronomi di Bulan

Pengamatan astronomi tidak lagi hanya dilakukan dari bumi, tetapi juga berpotensi dilakukan langsung dari permukaan bulan. BRIN menyebut Indonesia memiliki peluang untuk berpartisipasi dalam misi observatorium astronomi internasional di bulan melalui kolaborasi riset global.

BRIN Ungkap Peluang Indonesia Ikut Misi Observatorium Astronomi di Bulan
Ilustrasi. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai Indonesia berpeluang berkolaborasi dalam misi eksplorasi antariksa internasional. (Sumber: Diolah dengan AI)

RINGKASAN BERITA:

  • BRIN menilai Indonesia berpeluang terlibat dalam misi observatorium astronomi di bulan melalui kolaborasi internasional.

  • Pengamatan dari bulan dinilai lebih akurat karena minim gangguan gelombang radio dan memiliki atmosfer sangat tipis.

  • Proyek International Lunar Observatory (ILO) tengah dikembangkan, termasuk rencana peluncuran ILO-1 dan ILO-2.

RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Pengamatan astronomi yang selama ini dilakukan dari bumi berpotensi berkembang dengan menempatkan instrumen observasi langsung di permukaan bulan.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai peluang tersebut dapat membuka ruang kolaborasi bagi Indonesia dalam misi eksplorasi antariksa internasional.

Kepala Pusat Riset Antariksa (PRA) BRIN, Emanuel Sungging Mumpuni, mengatakan pengembangan observatorium astronomi di bulan menjadi topik penting yang perlu dipelajari oleh para peneliti di Indonesia.

“Maka pada pagi ini, kita akan membuka wawasan terlebih dahulu dan mempelajari peluang-peluang itu,” ujar Emanuel, dikutip dari laman BRIN, Jumat (13/3/2026).

Diskusi tersebut menghadirkan pakar astronomi dari Kelompok Keilmuan Astronomi FMIPA Institut Teknologi Bandung (ITB), Chatief Kunjaya, yang juga menjabat sebagai anggota Board of Director International Lunar Observatory Association (ILOA).

Menurut Chatief, pengamatan astronomi dari bulan memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan pengamatan dari permukaan bumi.

Ia menjelaskan bahwa pengamatan gelombang radio dari bumi sering terganggu oleh berbagai intervensi gelombang radio lain yang berasal dari aktivitas manusia.

Sementara itu, jika observasi dilakukan dari bulan, gangguan tersebut dapat diminimalkan.

“Jika pengamatan ditempatkan di bulan, intervensi gelombang radio dari bumi akan terhalang olehnya,” jelasnya.

Selain itu, kondisi lingkungan di bulan dinilai lebih mendukung untuk kegiatan observasi astronomi.

Bulan memiliki kawasan yang gelap permanen di dasar kawah dengan suhu sangat rendah, sehingga perangkat kamera pengamatan tidak membutuhkan sistem pendingin tambahan.

Permukaan bulan yang relatif stabil juga memungkinkan pembangunan sistem observasi seperti Very Long Baseline Interferometer (VLBI) tanpa perlu penyesuaian posisi kamera secara rutin seperti di bumi.

Chatief menambahkan, atmosfer bulan yang sangat tipis membuat cahaya bintang dapat diamati lebih jelas dibandingkan dari orbit rendah bumi.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga memaparkan perkembangan proyek International Lunar Observatory (ILO), termasuk proyek ILO-X yang telah berhasil mendarat di bulan menggunakan wahana Nova-C.

“ILO-X terbukti sukses karena berhasil mendarat di bulan dan mampu mengirimkan hasil foto pengamatan. Namun saat mendarat salah satu kaki pesawat menabrak batu sehingga posisinya miring dan pengamatan menjadi kurang optimal,” jelasnya.

Meski demikian, proyek tersebut hanya merupakan tahap uji coba sebelum peluncuran proyek utama yaitu ILO-1 dan ILO-2 yang akan dikembangkan dengan teknologi lebih baik.

Saat ini, sistem kamera pada proyek tersebut masih bersifat statis sehingga arah pengamatan sangat bergantung pada posisi wahana yang membawanya.

“Ke depan dibutuhkan kamera yang dapat bergerak secara otomatis untuk mengoptimalkan pengambilan gambar pengamatan di bulan,” ujarnya.

Chatief juga menilai Indonesia memiliki peluang untuk berpartisipasi dalam program pengembangan observatorium bulan melalui kerja sama internasional.

Salah satunya adalah dengan berkontribusi dalam pengembangan teknologi kamera observasi yang akan digunakan pada proyek ILO-2.

Menurutnya, keterlibatan dalam program tersebut dapat membuka jalan bagi Indonesia untuk lebih aktif dalam eksplorasi antariksa global.

Ia menegaskan bahwa manfaat penelitian astronomi memang tidak selalu dirasakan secara langsung, tetapi memiliki dampak jangka panjang bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Indonesia perlu mempersiapkan diri, terutama dalam hal capacity building, karena ada potensi untuk berpartisipasi dalam misi observatorium astronomi di bulan,” pungkasnya. (*)