BRIN: Sumatra dan Kalimantan Jadi Jalur Penting Migrasi Manusia Purba di Nusantara
Peneliti BRIN mengungkap Sumatra dan Kalimantan menyimpan jejak penting migrasi manusia dan perkembangan budaya prasejarah di Nusantara. Temuan artefak hingga rangka manusia menunjukkan adanya perpindahan populasi serta kontak budaya antarkawasan Asia Tenggara sejak ribuan tahun lalu.
RINGKASAN BERITA:
- BRIN menyebut Sumatra dan Kalimantan menjadi jalur penting migrasi manusia purba di Nusantara.
- Temuan budaya Hoabinhian di Sumatra menunjukkan jejak manusia sejak 12 ribu tahun lalu.
- Situs gua di Pegunungan Meratus menyimpan artefak dan rangka manusia berusia sekitar 6.000 tahun.
RIAUCERDAS.COM - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap wilayah Sumatra dan Kalimantan memiliki peran strategis dalam sejarah migrasi manusia purba di Nusantara.
Berbagai temuan arkeologi di dua kawasan tersebut menunjukkan adanya perpindahan populasi sekaligus percampuran budaya sejak ribuan tahun lalu.
Peneliti Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah BRIN, Ketut Wiradnyana, mengatakan budaya Hoabinhian menjadi salah satu penanda awal migrasi manusia di Sumatra bagian utara sekitar 12.000 hingga 5.000 tahun lalu.
“Budaya tersebut ditandai dengan keberadaan bukit kerang atau shell midden, alat batu sumatralith, serta temuan rangka manusia di sejumlah situs di Aceh dan Sumatra Utara,” ujar Ketut dikutip dari laman BRIN, Jumat (29/5/2026).
Menurutnya, hasil analisis bioantropologi menunjukkan kelompok pendukung budaya awal itu termasuk Australomelanesid yang memiliki kemiripan dengan populasi Papua.
Pada periode berikutnya muncul kelompok Mongoloid yang diperkirakan membawa budaya Austroasiatik dan kemudian berkembang menjadi budaya Austronesia.
Ketut menjelaskan migrasi manusia purba tidak hanya memindahkan populasi, tetapi juga membawa tradisi budaya seperti tembikar, praktik penguburan, pengasahan gigi, hingga penggunaan sirih pinang.
Ia menambahkan sejumlah pola hias tembikar yang ditemukan memiliki kemiripan dengan artefak dari Thailand dan Sulawesi Barat, sehingga menunjukkan adanya hubungan budaya antarkawasan di Asia Tenggara.
“Beberapa pola hias tembikar memiliki kemiripan dengan tembikar dari Thailand dan Sulawesi bagian barat. Ini mengindikasikan adanya kontak budaya dan jalur migrasi antarkawasan,” ujarnya.
Sementara itu, peneliti BRIN lainnya, Bambang Sugiyanto, memaparkan hasil penelitian di Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan.
Menurut Bambang, kawasan perbukitan tersebut diduga menjadi jalur utama migrasi manusia prasejarah di Pulau Kalimantan.
Penelitian di sejumlah situs gua menemukan alat batu, gerabah, gambar cadas, hingga rangka manusia berusia sekitar 6.000 tahun.
“Temuan gambar cadas berwarna hitam di Kalimantan Selatan menjadi karakteristik unik yang berbeda dengan wilayah lain di Kalimantan,” ujarnya.
Selain menjadi jalur migrasi, gua-gua di Pegunungan Meratus juga digunakan sebagai tempat hunian, penguburan, hingga aktivitas ritual masyarakat prasejarah.
Namun, Bambang mengingatkan situs-situs tersebut kini menghadapi ancaman kerusakan akibat aktivitas perkebunan dan pengambilan tanah budaya.
Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra BRIN, Herry Yogaswara, menyebut forum diskusi tersebut menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem riset arkeologi nasional bersama Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia.
Sementara Ketua IAAI, Sektiadi, menilai penelitian migrasi manusia harus dilakukan secara multidisipliner agar dapat memetakan penyebaran budaya, teknologi, bahasa, hingga pembentukan identitas sosial masyarakat masa lalu.
Menurutnya, Sumatra dan Kalimantan memiliki posisi geografis penting dalam jalur migrasi purba Asia Tenggara. (*)