FIKOM Umri Ingatkan Bahaya Love Scam Berbasis AI, Mahasiswa Diminta Tingkatkan Literasi Digital

Dekan FIKOM Universitas Muhammadiyah Riau, Jayus, mengingatkan perkembangan Artificial Intelligence (AI) membuat modus love scam semakin sulit dikenali. Pelaku kini memanfaatkan foto, suara, hingga video hasil rekayasa AI untuk membangun kepercayaan korban sebelum melakukan penipuan.

FIKOM Umri Ingatkan Bahaya Love Scam Berbasis AI, Mahasiswa Diminta Tingkatkan Literasi Digital
Foto bersama saat Serial Bincang Literasi #38 bertema

RINGKASAN BERITA:

  • FIKOM Umri mengingatkan AI membuat modus love scam semakin sulit dikenali karena pelaku dapat merekayasa foto, suara, hingga video.
  • Mahasiswa diajak memahami red flags penipuan digital, pentingnya verifikasi identitas, serta menjaga data pribadi di media sosial.
  • Dekan FIKOM Umri menegaskan kemampuan berpikir kritis dan literasi digital menjadi benteng utama menghadapi kejahatan siber di era AI.
RIAUCERDAS.COM, PEKANBARU - Kemajuan teknologi Artificial Intelligence (AI) membuat modus penipuan digital, khususnya love scam, semakin canggih dan sulit dideteksi.
Masyarakat pun diingatkan agar tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga memiliki literasi digital dan kemampuan berpikir kritis untuk menghindari manipulasi identitas di media sosial.

Peringatan tersebut disampaikan Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Riau (FIKOM Umri), Jayus, S.Sos., M.I.Kom., saat menjadi narasumber dalam Serial Bincang Literasi #38 bertema "Sosial Media dan Jerat Love Scam" yang digelar UPT Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Riau (Umri), Kamis (16/7/2026).

Kegiatan yang diikuti lebih dari 100 mahasiswa dari berbagai fakultas itu turut dihadiri Kepala UPT Perpustakaan Umri, Dwi Hastuti, S.E., M.M., bersama sejumlah dosen. Diskusi dipandu oleh Refnil Dalita, S.Pd sebagai moderator, sementara Kartika Puspita Sari, S.IP., M.A bertindak sebagai User Education.

Dalam paparannya, Jayus menjelaskan bahwa perubahan pola komunikasi di media sosial telah dimanfaatkan pelaku kejahatan siber untuk membangun hubungan emosional dengan calon korban sebelum melancarkan aksi penipuan.

Menurutnya, pelaku love scam umumnya tidak langsung meminta uang, melainkan terlebih dahulu menciptakan kedekatan melalui komunikasi intensif, perhatian, dan empati hingga korban menaruh kepercayaan.

"Love scam tidak dimulai dengan permintaan uang, tetapi dimulai dengan membangun rasa percaya. Pelaku memahami bagaimana komunikasi dapat memengaruhi emosi seseorang. Ketika hubungan emosional sudah terbentuk, korban akan lebih mudah mempercayai apa pun yang disampaikan pelaku," kata Jayus.

Ia menambahkan, perkembangan AI membuat modus tersebut semakin sulit dikenali.

Jika sebelumnya pelaku hanya menggunakan foto curian dari internet, kini mereka mampu menciptakan wajah realistis, meniru suara (voice cloning), hingga membuat video palsu (deepfake) yang tampak autentik.

Artificial Intelligence, kata dia membawa banyak manfaat bagi kehidupan manusia.

Namun di sisi lain, AI juga membuka peluang yang lebih besar bagi pelaku kejahatan digital.

Kini foto, suara, bahkan video dapat direkayasa sehingga identitas seseorang semakin sulit diverifikasi.

"Karena itu, masyarakat tidak cukup hanya melek teknologi, tetapi juga harus memiliki literasi digital dan kemampuan berpikir kritis agar tidak mudah terjebak dalam manipulasi di media sosial,” jelasnya.

Jayus juga mengungkapkan bahwa pelaku kerap mencatut profesi yang memiliki tingkat kepercayaan tinggi di masyarakat, seperti anggota Polri, TNI, dokter, pilot, pekerja pertambangan, hingga pebisnis sukses.

Menurutnya, yang dimanfaatkan bukan profesi tersebut, melainkan citra positif yang melekat sehingga calon korban lebih mudah percaya.

Selain membahas berbagai modus love scam, peserta juga mendapat materi mengenai tanda-tanda (red flags) penipuan digital, pentingnya menjaga data pribadi, cara memverifikasi identitas akun media sosial, hingga langkah yang harus dilakukan apabila menjadi korban kejahatan siber.

Diskusi berlangsung interaktif dengan banyak pertanyaan dari mahasiswa mengenai pemanfaatan AI dalam kejahatan digital dan cara membedakan akun asli dengan akun palsu.

Sementara itu, Kepala UPT Perpustakaan UMRI, Dwi Hastuti, mengatakan kegiatan Serial Bincang Literasi menjadi salah satu upaya meningkatkan budaya literasi yang relevan dengan perkembangan teknologi.

“Literasi di era digital tidak lagi hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan memahami, memverifikasi, serta menggunakan informasi secara bijak dan bertanggung jawab. Kami berharap kegiatan ini dapat meningkatkan kesadaran mahasiswa agar lebih kritis dalam menghadapi berbagai tantangan di ruang digital,” kata dia.

Menutup pemaparannya, Jayus mengajak mahasiswa membiasakan prinsip "percaya setelah memverifikasi" saat berinteraksi di media sosial.

“Media sosial bukanlah musuh. Yang harus kita waspadai adalah manipulasi identitas dan manipulasi emosi.

Karena itu, tuturnya, jangan mudah percaya hanya karena foto profil, seragam, atau kata-kata manis.

"Biasakan untuk selalu memverifikasi sebelum mempercayai seseorang. Di era AI, kemampuan berpikir kritis dan literasi digital menjadi benteng utama untuk melindungi diri dari berbagai bentuk kejahatan siber,” pungkasnya.

Melalui Serial Bincang Literasi #38, UPT Perpustakaan UMRI berharap mahasiswa semakin memahami pentingnya literasi digital sebagai bekal menghadapi tantangan komunikasi dan keamanan di era kecerdasan buatan. (*)