KM Jelatik: Tetap Eksis di Tengah Perkembangan Transportasi Publik

Bagi warga Selat Panjang atau yang tinggal di daerah pesisir Riau, KM Jelatik adalah nama besar. Kapal ini pernah menjadi transportasi utama yang penting perannya menghubungkan Riau daratan dengan Riau pesisir. Kini, KM Jelatik tetap eksis.

Jan 8, 2022 - 11:03
Jan 8, 2022 - 12:02
 1
KM Jelatik: Tetap Eksis di Tengah Perkembangan Transportasi Publik
Suasana di dalam KM Jelatik. Penumpang duduk di lantai di dalam bilik-bilik kecil yang dipisahkan sekat seadanya. (Riau Cerdas/Khamidi Setyobudi)

KAPAL Motor (KM) Jelatik satu-satunya kapal pengangkut orang yang terbuat dari kayu yang tetap menjadi idola masyarakat Pekanbaru yang akan berpergian menuju Selat Panjang, Kepulauan Meranti dan sejumlah daerah pesisir di sekitarnya. Meski sempat beberapa bulan lalu dilarang untuk beroperasi ketika penerapan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Level 3 dampak adanya penumpang terjangkit virus Corona, KM Jelatik kini tetap saja eksis.

Kini, KM Jelatik bisa beroperasi kembali setelah melakukan sterilisasi dan mengikuti protol kesehatan (Prokes) yang diterapkan pihak pelabuhan dengan mendatangkan tenaga medis. Seluruh calon penumpang pun wajib menunjukan surat telah divaksin serta menerapkan protokol kesehatan Covid-19 seperti, mencuci tangan, menjaga jarak, dan memakai masker. 

KM Jelatik secara waktu tempuh memang tergolong lambat dibandingkan kapal motor cepat lainnya. Waktu tempuh dengan KM Jelatik dari pelabuhan Sungai Duku Pekanbaru menuju Pelabuhan Selat Panjang bisa memakan waktu 16 jam. Sedangkan dengan kapal cepat bisa ditempuh 6-7 jam saja.

KM jelatik secara fasilitas juga jauh dibandingkan kapal cepat modern lainnya. Di KM Jelatik, tidak tersedia tempat duduk khusus penumpang. Bahkan penumpang hanya bisa duduk atau berbaring di dalam kamar atau bilik kecil bersekat kayu saja di dalam kapal yang berlantai empat ini. KM Jelatik juga tidak memiliki pendingin ruangan (Air Conditioner) layaknya dimiliki kapal cepat.

Secara harga tiket jauh dibandingkan dengan kapal cepat yang kini di kisaran Rp160 ribu-Rp180 ribu. Sementara, harga tiket KM Jelatik hanya Rp100 ribu per orang, dan Rp120 ribu untuk yang dapat kamar. Kamar yang dimaksud adalah bilik beralas kayu dan bersekat yang berada di dalam lambung kapal. 

Meski sangat sederhana, justru kondisi ini menjadi ciri khas KM Jelatik. Meskipun minim fasilitas dan lambat KM Jelatik tetap menjadi pilihan masyarakat. Terlebih jika bertepatan dengan libur panjang atau hari besar keagamaan, banyak warga Pekanbaru yang akan  mudik atau berkegiatan ke daerah pesisir Provinsi Riau. Kapal kayu inilah yang kerap mengantarkan mereka.

Dari Pekanbaru, KM Jelatik berlayar setiap Selasa, Kamis dan Sabtu. Kapal ini hanya mengangkut 180 penumpang termasuk Anak Buah Kapal (ABK), serta barang penumpang dan paling besar bisa mengangkut sepeda motor. (*)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow