Kanker Banyak Ditemukan Stadium Akhir, Dokter UGM Tekankan Pentingnya Deteksi Dini

Tingginya angka kematian akibat kanker di Indonesia masih dipicu oleh keterlambatan deteksi. Dokter bedah onkologi RSA UGM menegaskan bahwa skrining dan kesadaran masyarakat menjadi kunci meningkatkan peluang kesembuhan dan kualitas hidup pasien kanker

Kanker Banyak Ditemukan Stadium Akhir, Dokter UGM Tekankan Pentingnya Deteksi Dini
Ilustrasi penanganan kanker. (Sumber: Dokumentasi RSA UGM)

RINGKASAN  BERITA: 

  • Kanker menjadi penyebab kematian tertinggi ketiga di Indonesia dengan 234 ribu kematian per tahun
  • Sebagian besar pasien kanker datang ke rumah sakit pada stadium lanjut
  • Deteksi dini memungkinkan tindakan bedah kuratif dengan peluang hidup lebih baik

RIAUCERDAS.COM, YOGYAKARTA - Keterlambatan deteksi masih menjadi persoalan utama dalam penanganan kanker di Indonesia.

Data menunjukkan kanker menempati peringkat ketiga penyakit paling mematikan setelah stroke dan jantung, dengan angka kematian mencapai 234 ribu kasus setiap tahun.

Berdasarkan data Globocan 2020, terdapat sekitar 66 ribu kasus kanker payudara di Indonesia, dengan tingkat kematian mencapai 79 persen.

Tingginya angka tersebut disebabkan mayoritas kasus baru terdeteksi pada stadium lanjut sehingga penanganan menjadi lebih kompleks.

Dokter Spesialis Bedah Subspesialis Onkologi Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada (RSA UGM), dr. R. Wahyu Kartiko Tomo, Sp.B., Subsp.Onk(K), mengatakan kondisi ini berdampak langsung terhadap pilihan terapi dan peluang kesembuhan pasien.

“Sebagian besar pasien datang pada stadium lanjut, sehingga tindakan bedah yang dilakukan sering kali lebih kompleks dan berisiko,” ujar Tomo dilansir dari Portal UGM, Kamis (5/2/2026).

Menurutnya, jenis kanker yang paling sering memerlukan tindakan bedah di Indonesia antara lain kanker payudara, kolorektal, tiroid, kepala dan leher, serta kanker ginekologi.

Banyak di antaranya menyerang usia produktif, sehingga berdampak luas secara sosial dan ekonomi.

Tomo menegaskan, deteksi dini memegang peranan sangat penting dalam keberhasilan penanganan kanker.

Pada stadium awal, kanker masih bersifat terlokalisasi dan memungkinkan tindakan bedah kuratif dengan risiko komplikasi yang lebih rendah.

“Pada stadium awal, kanker memungkinkan tindakan bedah kuratif dengan peluang hidup yang jauh lebih baik,” katanya.

Ia juga mengungkapkan tantangan lain dalam praktik bedah onkologi, seperti kondisi fisik pasien yang sudah menurun saat datang berobat, faktor psikologis pasien dan keluarga, hingga keterbatasan fasilitas serta koordinasi lintas disiplin.

Selain itu, masih kuatnya ketakutan masyarakat terhadap operasi kanker menjadi hambatan tersendiri.

Mitos bahwa operasi dapat mempercepat penyebaran kanker, menurut Tomo, perlu diluruskan melalui edukasi berbasis bukti ilmiah.

“Operasi dengan indikasi dan teknik yang tepat justru menjadi salah satu pilar utama penyembuhan kanker,” tegasnya.

Seiring perkembangan teknologi kedokteran, praktik bedah onkologi kini didukung teknik minimal invasif dan pendekatan multimodal yang meningkatkan keselamatan serta kualitas hidup pasien.

Memperingati Hari Kanker Sedunia, Tomo mengajak masyarakat lebih peduli terhadap kesehatan dengan mengenali gejala awal dan melakukan skrining secara rutin.

“Deteksi dini menyelamatkan nyawa, memberi peluang terapi yang lebih efektif, dan membuka harapan hidup yang lebih panjang bagi pasien kanker,” pungkasnya. (*)