Alat Deteksi Pangan Super Cepat, Bisa Ungkap Makanan Palsu dalam Hitungan Detik

Dosen Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Dr. Widiastuti Setyaningsih, berhasil mengembangkan metode dan alat analisis cepat untuk mendeteksi keamanan, keaslian, dan kualitas pangan. Inovasi ramah lingkungan ini mampu memberikan hasil dalam hitungan menit bahkan detik, serta mengantarkannya meraih penghargaan internasional dari Hitachi Global Foundation.

Alat Deteksi Pangan Super Cepat, Bisa Ungkap Makanan Palsu dalam Hitungan Detik
Dosen Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Dr. Widiastuti Setyaningsih. (Sumber: ugm.ac.id)

RINGKASAN BERITA:

  • Dosen UGM kembangkan metode hijau untuk uji keamanan dan keaslian pangan super cepat
    Mampu mendeteksi mikotoksin, NAPZA, hingga kemurnian kopi luwak dan kakao
    Raih penghargaan internasional dari Hitachi Global Foundation

RIAUCERDAS.COM, YOGYAKARTA - Di tengah meningkatnya kekhawatiran publik terhadap keamanan dan keaslian pangan, dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Widiastuti Setyaningsih, S.T.P., M.Sc., menghadirkan terobosan melalui pengembangan metode deteksi cepat untuk menilai keamanan, keaslian, dan kualitas fungsional pangan.

Melalui riset bertajuk Green Analytical Method for Rapid Assessment of Food Safety, Authenticity, and Functional Quality in Diverse Food Systems, Widiastuti merancang pendekatan analisis kimia inovatif yang memungkinkan pengujian dilakukan hanya dalam hitungan menit bahkan detik.

Metode ini menjadi alternatif baru dari uji laboratorium konvensional yang selama ini memerlukan waktu berhari-hari.

“Inovasi ini dibangun di atas tiga fokus utama, yakni keamanan pangan, keaslian produk, dan kualitas fungsional,” ujar Widiastuti dilansir portal resmi UGM, Kamis (22/1/2026).

Pendekatan yang dikembangkan mengedepankan prinsip ramah lingkungan.

Ia memanfaatkan teknik ekstraksi modern seperti ultrasound-assisted extraction dan microwave-assisted extraction yang membutuhkan pelarut dalam jumlah sangat kecil. 

Selain mempercepat proses, metode ini juga meminimalkan penggunaan bahan kimia berbahaya.

Untuk mempercepat analisis, Widiastuti mengombinasikan teknik spektroskopi yang mampu membaca karakter kimia bahan tanpa proses panjang, bahkan pada beberapa kasus tidak merusak sampel.

Di sisi lain, ia juga mengembangkan metode kromatografi berkecepatan tinggi.

Dengan teknologi Ultra High Performance Liquid Chromatography (UPLC), waktu uji dapat dipangkas drastis dari sekitar 30 menit menjadi hanya sekitar tiga menit.

Metode ini tidak hanya digunakan untuk mengidentifikasi senyawa bioaktif yang bermanfaat bagi kesehatan, tetapi juga mampu mendeteksi zat berbahaya seperti aflatoksin, okratoksin, serta NAPZA yang berpotensi disalahgunakan dalam produk pangan.

Menurut Widiastuti, inovasi ini berpotensi besar untuk diadopsi oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta lembaga terkait guna memperkuat sistem pengawasan pangan nasional.

Lebih jauh, riset ini juga memungkinkan analisis kualitas fungsional pangan, seperti potensi antidiabetes dan antidepresan, pada berbagai sistem pangan.

Pengembangan dilakukan pada beragam komoditas, mulai dari bunga yang dapat dimakan, jamur, makroalga, hingga kakao.

Widiastuti bahkan mengembangkan aplikasi berbasis web yang memungkinkan laboratorium mengunggah data spektroskopi untuk langsung memperoleh hasil analisis, seperti tingkat kemurnian kakao, jenis makroalga, hingga indikasi campuran bahan.

“Platform ini terbuka dan bisa diakses secara global. Pengguna cukup mengunggah data, lalu sistem akan membaca apakah produk murni, tercampur, serta berapa persentasenya,” jelasnya.

Metode yang dikembangkannya juga mampu membedakan kopi luwak alami dan hasil penangkaran, serta mengidentifikasi keaslian bubuk kakao.

Selain bahan mentah, teknologi ini juga diterapkan pada produk olahan, seperti kue kering dan selai, untuk mendeteksi kandungan antioksidan.

Atas konsistensinya mengembangkan metode analisis pangan sejak 2012, Widiastuti Setyaningsih meraih Encouragement Award dari Hitachi Global Foundation pada pekan lalu.

Penghargaan internasional tersebut diberikan atas kontribusinya dalam pengembangan analisis kimia untuk pengujian pangan.

Widiastuti berharap inovasi ini tidak hanya berhenti di laboratorium, tetapi dapat diimplementasikan di industri, laboratorium pemerintah, hingga lembaga pengawas, serta menjadi dasar penguatan kebijakan keamanan pangan berbasis data ilmiah.

“Harapan saya, riset ini benar-benar hadir untuk menjawab persoalan nyata di masyarakat dan memperkuat perlindungan konsumen,” pungkasnya. (*)