Kemenag Gandeng British Council Perkuat Pengajaran Bahasa Inggris di Madrasah
Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan komitmen memperkuat kualitas pengajaran bahasa Inggris di madrasah melalui kolaborasi dengan British Council. Program ini menargetkan peningkatan kompetensi guru hingga dampak global bagi lulusan madrasah.
RINGKASAN BERITA:
-
Kemenag gandeng British Council tingkatkan kualitas pengajaran bahasa Inggris di madrasah.
-
Program CPD digelar daring 8 minggu dengan 42 jam pembelajaran intensif.
-
Target jangka panjang: lulusan madrasah mampu bersaing di pasar global.
RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Kementerian Agama memperkuat kualitas pengajaran bahasa Inggris di madrasah dengan menggandeng British Council, sebagai bagian dari strategi meningkatkan daya saing lulusan di tingkat global.
Kolaborasi ini ditegaskan Menteri Agama Nasaruddin Umar usai penutupan Program Continuing Professional Development (CPD) di Auditorium H.M. Rasjidi Kementerian Agama, Kamis (26/2/2026).
“Khusus untuk pengajaran bahasa Inggris, kami akan meminta partisipasi dari British Council untuk memperkuat kualitasnya. Bukan hanya dari sisi bahasa, tetapi juga metodologi dan pedagoginya,” ujar Menag.
Ia menekankan bahwa bahasa tidak dapat dipisahkan dari budaya. Menurutnya, pemahaman terhadap budaya di balik bahasa Inggris, termasuk budaya United Kingdom, menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran.
Menag menyebut indikator keberhasilan program ini bukan hanya pada peningkatan kemampuan guru, tetapi juga pada dampak jangka panjang terhadap lulusan madrasah.
Targetnya antara lain semakin banyak alumni madrasah yang mengakses perguruan tinggi terkemuka dunia, mampu bersaing di pasar kerja global, serta meningkatnya literasi bahasa internasional di masyarakat.
“Tanpa bahasa Inggris, sulit bersaing secara global. Kalau kemampuan bahasa Inggris kita baik, tenaga kerja Indonesia tidak lagi berada di sektor berupah rendah, tetapi bisa masuk ke pekerjaan profesional,” tegasnya.
Country Director Indonesia dan Director Southeast Asia British Council, Summer Xia, menyatakan kolaborasi ini sejalan dengan fokus global British Council dalam penguatan kapasitas guru bahasa Inggris.
“Model ini berkelanjutan. Kami memberikan pendanaan awal melalui pilot, tetapi tujuan akhirnya agar program ini dimiliki dan dijalankan oleh sistem pendidikan Indonesia sendiri,” ujarnya.
Ia menjelaskan pendekatan yang digunakan tidak hanya berupa pelatihan, tetapi juga penguatan sistem, termasuk modul moderasi, monitoring, mentoring, serta pembangunan komunitas praktik guru.
Program CPD dilaksanakan secara daring selama delapan minggu dengan total 42 jam pembelajaran intensif di luar jam kerja utama guru.
Metode online memungkinkan jangkauan nasional sekaligus memberikan fleksibilitas bagi peserta dari berbagai daerah.
Ke depan, model daring akan dipertahankan dengan pendekatan hibrida, termasuk pertemuan luring sebagai bentuk pengakuan atas capaian guru dan motivasi partisipasi yang lebih luas.
British Council menegaskan komitmennya untuk melanjutkan dan memperluas program bersama Kementerian Agama dalam kerangka Kemitraan Strategis UK–Indonesia. (*)