Panas Ekstrem Mengancam, Indonesia Perlu Sistem Peringatan Dini Heat Stroke

Pakar kesehatan UGM menilai Indonesia perlu segera memiliki sistem peringatan dini dan pedoman nasional menghadapi panas ekstrem. Langkah tersebut dinilai penting karena kenaikan suhu akibat perubahan iklim meningkatkan risiko heat stroke dan berbagai gangguan kesehatan lainnya.

Panas Ekstrem Mengancam,  Indonesia Perlu Sistem Peringatan Dini Heat Stroke
Ilustrasi cuaca panas. (Sumber: Diolah dengan AI)

RINGKASAN BERITA:

  • Pakar UGM mendorong Indonesia segera memiliki sistem peringatan dini nasional untuk menghadapi ancaman panas ekstrem.
  • Kenaikan suhu rata-rata 1 derajat Celsius dikaitkan dengan peningkatan 15,5 persen kunjungan ibu dan anak ke layanan kesehatan primer.
  • Heat stroke dapat menyebabkan gangguan fungsi organ hingga kematian jika tidak segera ditangani, sehingga diperlukan edukasi dan kebijakan lintas sektor.

RIAUCERDAS.COMIndonesia dinilai perlu segera memiliki sistem peringatan dini (early warning system) dan pedoman nasional untuk menghadapi ancaman panas ekstrem yang semakin meningkat.

Dosen Departemen Perilaku Kesehatan, Lingkungan, dan Kedokteran Sosial Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Aditya Lia Ramadona, Ph.D., mengatakan perubahan iklim telah meningkatkan risiko gangguan kesehatan yang memerlukan respons kebijakan secara menyeluruh.

Menurut Ramadona, sistem peringatan dini tersebut harus disesuaikan dengan karakteristik masing-masing daerah karena kondisi panas di setiap wilayah Indonesia berbeda.

"Ambang panas di Jakarta, Yogyakarta, Makassar, Kupang, Medan, atau wilayah dataran tinggi tentu berbeda. Karena itu, sistem peringatan dini sebaiknya tidak hanya menggunakan suhu absolut, tetapi juga mempertimbangkan kelembapan, suhu malam, efek urban heat island, kerentanan penduduk, dan kapasitas layanan kesehatan," katanya dikutip dari laman UGM, Sabtu (11/7/2026).

Ia menambahkan, sistem tersebut tidak cukup hanya menyampaikan informasi cuaca panas, tetapi juga harus dilengkapi tingkat risiko dan langkah mitigasi, seperti edukasi masyarakat, penyesuaian jam sekolah dan jam kerja, kesiapan fasilitas kesehatan, perlindungan pekerja luar ruangan, hingga pembatasan aktivitas di waktu tertentu.

Ramadona menjelaskan, panas ekstrem kini menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat.

Meski kenaikan suhu rata-rata di Indonesia sekitar 0,5 derajat Celsius terlihat kecil, dampaknya terhadap tubuh manusia cukup besar, terutama di wilayah tropis dengan tingkat kelembapan tinggi.

Ia menyebut heat stroke merupakan bentuk gangguan kesehatan paling berat akibat paparan panas.

Kondisi tersebut terjadi ketika tubuh tidak lagi mampu mengendalikan suhu sehingga memengaruhi fungsi organ dan otak.

"Secara sederhana, ini terjadi ketika tubuh gagal mengendalikan suhu. Intinya, suhu tubuh naik cepat, mekanisme pendinginan seperti berkeringat tidak lagi efektif, lalu terjadi gangguan fungsi organ dan otak," ungkapnya.

Gejala heat stroke meliputi suhu tubuh sangat tinggi, kebingungan, bicara pelo, kejang, hingga kehilangan kesadaran.

Jika tidak segera ditangani, kondisi tersebut dapat berujung pada kematian.

Ramadona menilai rendahnya kesadaran masyarakat dipengaruhi anggapan bahwa cuaca panas merupakan hal biasa karena Indonesia beriklim tropis.

Padahal, kenaikan suhu dalam skala kecil pun dapat meningkatkan beban layanan kesehatan.

Ia mengungkapkan hasil penelitiannya yang menunjukkan kenaikan suhu rata-rata mingguan sebesar 1 derajat Celsius berkorelasi dengan peningkatan 15,5 persen kunjungan ibu dan anak ke layanan kesehatan primer.

"Riset-riset heat-health menunjukkan bahwa kenaikan suhu kecil saja dapat meningkatkan beban layanan kesehatan. Studi kami di Yogyakarta menemukan kenaikan 1°C suhu rata-rata mingguan berasosiasi dengan peningkatan 15,5% kunjungan ibu-anak di layanan primer," terangnya.

Selain minimnya pemahaman mengenai heat stroke, komunikasi kesehatan terkait ancaman panas ekstrem juga dinilai belum berkembang.

Masyarakat lebih mengenal istilah dehidrasi atau kelelahan akibat panas sehingga gejala awal heat stroke kerap tidak dikenali.

Ramadona juga menyoroti risiko paparan panas di dalam rumah.

Berdasarkan penelitian mahasiswa Program Magister Kesehatan Masyarakat FK-KMK UGM, suhu di rumah responden lansia pada lokasi Program Kampung Iklim (ProKlim) DIY justru lebih tinggi dibandingkan suhu yang dicatat stasiun BMKG.

"Temuan ini menunjukkan bahwa menggunakan suhu luar sebagai satu-satunya indikator dapat meremehkan paparan panas yang sebenarnya dialami masyarakat," kata dia.

Ia menegaskan perlindungan terhadap masyarakat tidak cukup mengandalkan perubahan perilaku individu.

Menurutnya, risiko panas juga dipengaruhi kualitas rumah, kepadatan permukiman, ruang hijau, jenis pekerjaan, akses terhadap air minum, listrik, sistem pendingin, hingga kesiapan layanan kesehatan.

"Perubahan perilaku individu penting, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya strategi. Risiko panas juga dipengaruhi oleh kualitas rumah, kepadatan permukiman, ruang hijau, jenis pekerjaan, akses terhadap air minum, listrik, sistem pendinginan, hingga kesiapan fasilitas kesehatan," ungkap Ramadona.

Untuk pekerja luar ruangan, Ramadona menyarankan penyesuaian jam kerja agar aktivitas berat dilakukan pada pagi atau sore hari, penyediaan waktu istirahat di tempat teduh, ketersediaan air minum dan elektrolit, serta penerapan sistem saling mengawasi antarrekan kerja guna mengenali gejala heat stroke lebih dini.

Sementara bagi kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, anak-anak, dan penyandang penyakit kronis, diperlukan pendekatan yang lebih proaktif melalui edukasi, pemantauan kesehatan, peningkatan ventilasi rumah, hingga penyediaan ruang teduh di lingkungan masyarakat.

Di akhir pemaparannya, Ramadona menegaskan bahwa panas ekstrem kini bukan lagi sekadar persoalan cuaca, melainkan telah menjadi isu kesehatan masyarakat yang membutuhkan dukungan kebijakan lintas sektor.

Kesimpulannya, tutur dia, masyarakat Indonesia memang perlu menyesuaikan kebiasaan terhadap panas ekstrem.

"Tetapi perubahan itu hanya akan berhasil jika didukung oleh sistem, mulai dari aturan kerja, desain kota, rumah yang lebih adaptif terhadap iklim, layanan kesehatan yang siap, hingga komunikasi risiko yang jelas," pungkasnya. 

Menurutnya, panas ekstrem bukan lagi sekadar cuaca yang tidak nyaman, melainkan sudah menjadi isu kesehatan masyarakat dan ketahanan sosial. (*)