Mendikdasmen Abdul Mu'ti Ajak Sekolah Ciptakan Lingkungan Belajar Aman dan Menyenangkan

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti mengajak seluruh satuan pendidikan menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan menyenangkan menjelang dimulainya tahun ajaran baru serta Masa Pengenalan Lingkungan Satuan Pendidikan (MPLS) 2026. Langkah ini dinilai penting untuk mendukung proses adaptasi peserta didik, khususnya anak usia dini.

Mendikdasmen Abdul Mu'ti Ajak Sekolah Ciptakan Lingkungan Belajar Aman dan Menyenangkan
Mendikdasmen, Abdul Mu'ti foto bersama guru-guru di TK ABA Semesta di Daerah Istimewa Yogyakarta. (Sumber: Kemendikdasmen)

RINGKASAN BERITA:

  • Mendikdasmen Abdul Mu'ti mengajak seluruh sekolah menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan menyenangkan menjelang MPLS 2026.
  • TK ABA Semesta menerapkan masa adaptasi selama dua minggu dengan kegiatan bermain dan eksplorasi tanpa pembelajaran terstruktur.
  • Kemendikdasmen menekankan pentingnya kolaborasi sekolah dan orang tua agar proses transisi anak ke lingkungan sekolah berlangsung lebih baik.

RIAUCERDAS.COM, YOGYAKARTA - Menjelang dimulainya tahun ajaran baru dan pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Satuan Pendidikan (MPLS), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengajak seluruh sekolah menghadirkan lingkungan belajar yang ramah bagi peserta didik.

Upaya tersebut diharapkan menjadi fondasi dalam membangun rasa aman, percaya diri, dan semangat belajar anak sejak hari pertama masuk sekolah.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, menegaskan terciptanya lingkungan belajar yang positif membutuhkan kolaborasi antara sekolah, guru, orang tua, dan masyarakat agar setiap anak memperoleh pengalaman belajar pertama yang menyenangkan.

"Sesuai dengan arahan dari Bapak Presiden tentang membangun gerakan budaya yang ASRI: Aman, Sehat, Resik, dan Indah. Maka kami mengajak semua pihak yang menyelenggarakan pendidikan untuk menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman, baik lingkungan fisik, lingkungan sosial, lingkungan spiritual, dan lingkungan intelektual. Mudah-mudahan dengan pendekatan itu, semua dapat belajar dengan gembira dan sekolah dapat menjadi rumah kedua bagi anak-anak kita," tutur Abdul Mu'ti, Rabu (9/7/2026).

Menurutnya, lingkungan belajar tidak hanya berkaitan dengan kelengkapan sarana dan prasarana, tetapi juga tercermin dari interaksi yang hangat antara guru, peserta didik, dan orang tua sehingga sekolah menjadi ruang yang mendukung tumbuh kembang anak secara menyeluruh.

Kemendikdasmen menilai masa-masa awal sekolah, terutama bagi anak usia dini, merupakan fase penting untuk membangun rasa aman, mengenal lingkungan baru, serta menjalin kedekatan dengan guru dan teman sebaya. Karena itu, pelaksanaan MPLS diharapkan berorientasi pada proses adaptasi yang ramah anak.

Penerapan konsep tersebut dilakukan oleh TK ABA Semesta di Daerah Istimewa Yogyakarta. Sekolah tersebut menyiapkan masa adaptasi selama dua minggu bagi murid baru sebelum memasuki pembelajaran secara penuh.

Kepala TK ABA Semesta, Shofia Amalia, menjelaskan selama dua pekan pertama anak-anak lebih banyak dikenalkan dengan lingkungan sekolah melalui berbagai aktivitas yang sesuai dengan karakteristik usia dini.

Selama dua minggu pertama belum ada pembelajaran yang terstruktur.

Fokusnya adalah mengenalkan lingkungan sekolah, membangun kedekatan antara anak dan guru, serta menghadirkan berbagai kegiatan bermain dan eksplorasi agar anak merasa nyaman.

"Pada masa ini, guru juga melakukan observasi awal untuk memperoleh gambaran mengenai kemampuan, kebutuhan, dan karakteristik setiap anak sebagai dasar penyusunan kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan tahap perkembangannya," jelas Shofia.

Selama masa pengenalan tersebut, anak mengikuti berbagai kegiatan seperti bermain bersama, aktivitas fisik motorik, mendengarkan dongeng, membuat karya sederhana, hingga bermain bebas (free play) sebagai bagian dari proses penyesuaian dengan lingkungan sekolah.

Guru TK ABA Semesta, Ani Maghfiroh, mengatakan dukungan orang tua juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan adaptasi anak di sekolah.

"Ketika orang tuanya ikhlas melepas anak ke sekolah, percaya pada sekolah, maka proses transisinya akan menjadi lebih mudah," terang Ani.

Untuk memperkuat sinergi dengan keluarga, sekolah menggelar pertemuan bersama orang tua sebelum tahun ajaran dimulai guna menjelaskan program pembelajaran, tata tertib, serta peran keluarga dalam mendampingi perkembangan anak.

Sekolah juga akan menghadirkan program Ayah Bercerita sebagai bagian dari penguatan budaya literasi sejak usia dini.

Selain itu, kegiatan bercerita menjadi bagian dari pembelajaran sehari-hari untuk menumbuhkan minat baca, kemampuan berbahasa, dan kecintaan anak terhadap literasi.

Kemendikdasmen berharap praktik kolaborasi antara sekolah dan keluarga seperti yang diterapkan di TK ABA Semesta dapat menjadi inspirasi bagi satuan pendidikan lainnya dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, inklusif, dan menyenangkan bagi seluruh peserta didik. (*)

RIAUCERDAS.COM, YOGYAKARTA -