FOMO dan Promo Digital Picu Belanja Impulsif, Begini Cara Mengatasinya

Kemudahan berbelanja di era digital dinilai meningkatkan perilaku konsumtif masyarakat. Dosen Ekonomi Syariah Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Satria Utama, menyebut fenomena FOMO dan strategi promosi digital menjadi pemicu utama belanja impulsif yang dapat mengganggu kondisi keuangan.

FOMO dan Promo Digital Picu Belanja Impulsif, Begini Cara Mengatasinya
Ilustrasi. (Sumber: Diolah dengan AI)

RINGKASAN BERITA:

  • Dosen UMY menyebut fenomena FOMO sebagai pemicu utama meningkatnya belanja impulsif di era digital.
  • Promo seperti flash sale, diskon besar, dan konten viral dinilai mendorong masyarakat membeli barang tanpa perencanaan.
  • Masyarakat diimbau lebih bijak membedakan kebutuhan dan keinginan agar kondisi keuangan tetap sehat.

RIAUCERDAS.COMFenomena fear of missing out (FOMO) dinilai menjadi salah satu faktor utama yang mendorong masyarakat semakin sering berbelanja tanpa perencanaan.

Di tengah derasnya arus informasi dan promosi di platform digital, masyarakat dituntut lebih bijak agar tidak terjebak dalam perilaku konsumtif yang berpotensi mengganggu stabilitas keuangan.

Pandangan tersebut disampaikan Dosen Ekonomi Syariah Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Satria Utama, M.E.I., saat mengulas perubahan pola belanja masyarakat di era digital.

Menurut Satria, perkembangan teknologi telah membuat penyebaran tren berlangsung sangat cepat melalui media sosial.

Kondisi itu diperkuat oleh berbagai platform e-commerce yang secara aktif menampilkan rekomendasi produk kepada pengguna.

FOMO, kata dia, muncul karena penyebaran informasi di media sosial berlangsung sangat cepat. 

Fenomena ini diperkuat oleh e-commerce yang agresif menawarkan produk. 

"Bahkan saat kita tidak mencari barang, platform tetap menampilkan rekomendasi yang memikat mata,” terangnya seperti dikutip dari laman UMY. Sabtu (4/7/2026).

Ia menjelaskan situasi tersebut mendorong munculnya perilaku impulsive buying atau belanja spontan tanpa perencanaan.

Berbagai strategi pemasaran digital seperti potongan harga, flash sale, promosi terbatas, hingga konten yang sedang viral dinilai semakin memperkuat dorongan masyarakat untuk membeli barang yang sebenarnya bukan kebutuhan utama.

“Awalnya kita tidak berniat membeli sesuatu. Namun dorongan belanja langsung muncul karena melihat barang sedang tren atau harganya diskon. Apalagi proses bayar sekarang sangat mudah melalui gawai. Transaksi selesai dalam hitungan menit tanpa harus datang ke toko,” tutur Satria.

Menurutnya, kemudahan transaksi digital membuat proses pengambilan keputusan menjadi jauh lebih singkat dibandingkan sebelumnya.

Jika dahulu seseorang masih memiliki waktu untuk mempertimbangkan kembali sebelum membeli barang, kini seluruh proses dapat dilakukan secara instan melalui telepon genggam.

Satria menegaskan bahwa teknologi digital bukanlah penyebab utama meningkatnya perilaku konsumtif.

Tantangan sesungguhnya terletak pada kemampuan masyarakat mengendalikan diri dalam menghadapi berbagai tawaran yang terus muncul setiap hari.

Ia mengingatkan pentingnya membedakan antara kebutuhan dan keinginan agar keputusan keuangan tidak didasarkan pada dorongan emosional semata.

"Era digital membuat akses terhadap barang menjadi semakin mudah. Di sisi lain, godaan untuk boros juga semakin besar. Masyarakat harus lebih bijak menyikapi tawaran yang muncul agar keputusan keuangan tetap didasarkan pada kebutuhan," tandas Satria. (*)