Pakar Desak PLN Audit Sistem Proteksi Usai Blackout Massal Sumatra
Pakar sistem tenaga listrik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Rahmat Adiprasetya Al Hasibi, meminta PT PLN segera melakukan audit menyeluruh terhadap sistem proteksi jaringan listrik Sumatra pasca blackout massal pada Mei 2026. Audit dinilai menjadi langkah paling mendesak untuk mencegah gangguan serupa terulang.
RINGKASAN,BERITA:
- Pakar UMY menilai audit sistem proteksi menjadi langkah paling mendesak pasca blackout massal Sumatra.
- PLN didorong melakukan simulasi rutin untuk memetakan titik rawan gangguan saat beban puncak.
- Investasi teknologi WAMS dan penyimpanan energi berbasis baterai dinilai penting untuk memperkuat keandalan sistem listrik masa depan.
RIAUCERDAS.COM - PT PLN (Persero) didorong segera melakukan audit menyeluruh terhadap sistem proteksi jaringan listrik Sumatra setelah terjadinya pemadaman massal atau blackout yang melanda sejumlah wilayah pada 22–24 Mei 2026.
Desakan tersebut disampaikan pakar sistem tenaga listrik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Ir. Rahmat Adiprasetya Al Hasibi, S.T., M.Eng., IPM., ASEAN Eng.
Menurutnya, evaluasi teknis secara komprehensif menjadi langkah paling penting untuk memperkuat keandalan sistem kelistrikan di Pulau Sumatra.
Rahmat menilai pernyataan bahwa kejadian serupa tidak akan terulang belum cukup tanpa diikuti pemeriksaan dan perbaikan menyeluruh terhadap sistem yang ada.
Ia mengingatkan bahwa tanpa evaluasi bertahap dan terstruktur, jaringan interkoneksi Sumatra masih berpotensi menghadapi gangguan dengan pola yang sama di kemudian hari.
“Yang perlu dilakukan pertama dan paling mendesak adalah audit terhadap pengaturan sistem proteksi yang ada saat ini. Kemudian, evaluasi skema respons frekuensi pada setiap generator di jaringan Sumatra,” kata Rahmat dikutip dari laman UMY, Minggu (31/5/2026).
Selain audit sistem proteksi, Rahmat juga menyoroti pentingnya pemeriksaan jalur bebas transmisi atau right of way pada jaringan tegangan tinggi.
Menurutnya, koridor transmisi harus dipastikan bebas dari hambatan fisik maupun vegetasi yang dapat mengganggu operasional sistem kelistrikan.
Pemeriksaan tersebut dinilai krusial terutama pada jalur transmisi yang menjadi tulang punggung interkoneksi kelistrikan Sumatra.
Dalam upaya mitigasi risiko, Rahmat juga meminta PLN melakukan simulasi ulang terhadap berbagai skenario gangguan besar, khususnya saat sistem berada pada kondisi beban puncak.
Menurutnya, simulasi berkala diperlukan agar operator memiliki peta kerentanan sistem yang lebih akurat dan mampu mengambil langkah antisipatif sebelum gangguan berkembang menjadi pemadaman luas.
“Kita perlu mengetahui titik mana yang paling rentan apabila gangguan besar kembali terjadi saat beban puncak. Simulasi seperti ini harus dilakukan secara berkala, bukan hanya setelah terjadi insiden,” kata,dia.
Untuk jangka panjang, Rahmat mendorong investasi pada teknologi pemantauan jaringan yang lebih modern melalui penerapan Wide Area Measuring System (WAMS).
Teknologi tersebut memungkinkan operator memantau kondisi jaringan listrik secara real-time dalam cakupan wilayah yang luas sehingga potensi gangguan dapat dideteksi lebih cepat sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih besar.
Di sisi lain, ia juga menekankan pentingnya memperbesar porsi pembangkit listrik yang memiliki fleksibilitas tinggi dalam sistem kelistrikan Sumatra, seperti Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dan Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG).
Menurut Rahmat, kedua jenis pembangkit tersebut lebih responsif dalam menyesuaikan perubahan beban listrik yang terjadi secara cepat.
Sejalan dengan meningkatnya penggunaan energi terbarukan, ia menilai investasi pada teknologi penyimpanan energi berbasis baterai juga menjadi kebutuhan yang tidak bisa lagi ditunda.
Kalau penetrasi energi terbarukan semakin tinggi, tutur Rahmat, variabilitas dalam sistem juga akan semakin besar.
"Karena itu, kita membutuhkan pembangkit yang fleksibel dan sistem penyimpanan energi yang memadai. Ini bukan lagi pilihan yang bisa terus ditunda,” tandasnya. (*)