Tim Olimpiade Fisika Indonesia Cetak Lompatan Prestasi di IPhO 2026, Raih 5 Medali

Tim Olimpiade Fisika Indonesia mencatat peningkatan prestasi pada International Physics Olympiad (IPhO) 2026 di Kolombia dengan membawa pulang satu medali emas, dua perak, dan dua perunggu. Kemendikdasmen menilai capaian tersebut menjadi bukti keberhasilan pembinaan talenta nasional yang berkelanjutan.

Tim Olimpiade Fisika Indonesia Cetak Lompatan Prestasi di IPhO 2026, Raih 5 Medali
Tim Olimpiade Fisika Indonesia yang ikut pada ajang 56th International Physics Olympiad (IPhO) 2026 di Bucaramanga, Kolombia tiba di Bandara Soekarno Hatta pada Selasa (14/7/2026). (Sumber: Kemendikdasmen)

RINGKASAN BERITA:

  • Indonesia mencatat peningkatan prestasi di IPhO 2026 dengan meraih satu medali emas, dua perak, dan dua perunggu.
  • Kemendikdasmen menilai capaian tersebut merupakan hasil pembinaan talenta nasional yang berkelanjutan dan akan didukung melalui pengembangan karier pendidikan para peserta.
  • Para peraih medali mengungkap tantangan selama kompetisi di Kolombia, mulai dari perbedaan waktu hingga tekanan saat ujian, namun tetap berhasil mengharumkan nama Indonesia.

RIAUCERDAS.COM, TANGERANG - Tim Olimpiade Fisika Indonesia mencatat lonjakan prestasi pada ajang 56th International Physics Olympiad (IPhO) 2026 di Bucaramanga, Kolombia.

Indonesia berhasil membawa pulang lima medali yang terdiri atas satu emas, dua perak, dan dua perunggu, meningkat dibandingkan capaian tahun sebelumnya yang meraih tiga medali perunggu dan dua honorable mention.

Keberhasilan lima pelajar tersebut disambut Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) setibanya di Bandara Soekarno-Hatta, Kota Tangerang, Banten, Selasa (14/7/2026).

Penyambutan dilakukan oleh Staf Ahli Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bidang Manajemen Talenta, Mariman Darto, bersama Kepala Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas), Maria Veronica Irene Herdjiono.

Mariman Darto yang mewakili Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah menyampaikan apresiasi atas perjuangan para peserta yang telah mengharumkan nama Indonesia di ajang internasional.

“Bapak Menteri secara khusus menitipkan salam dan ucapan terima kasih banyak. Beliau memberikan atensi yang begitu besar kepada para murid kita yang telah berjuang di ajang International Physics Olympiad ini,” tutur Mariman.

Menurutnya, prestasi tersebut diharapkan menjadi pijakan bagi para peserta untuk berkembang menjadi peneliti, inovator, maupun pemimpin masa depan yang mampu memberikan kontribusi bagi bangsa.

Ia juga menegaskan pemerintah berkomitmen mendukung keberlanjutan pendidikan para delegasi, termasuk melalui kesempatan melanjutkan studi di perguruan tinggi terbaik sebagai bentuk apresiasi atas prestasi yang diraih.

Kepala Puspresnas, Maria Veronica Irene Herdjiono, mengatakan peningkatan hasil Indonesia tidak lepas dari sistem pembinaan yang dilakukan secara berjenjang, mulai dari tingkat sekolah hingga Pelatihan Nasional (Pelatnas).

“Melalui pengembangan potensi yang terus ditingkatkan, anak-anak akan mendapatkan manfaat nyata seperti Beasiswa Talenta Indonesia agar karier belajar mereka tetap terjamin,” jelas Irene.

Peraih medali emas, Evan Syatia To dari SMAK Penabur Gading Serpong, mengungkapkan tantangan utama yang dihadapi tim selama mengikuti kompetisi adalah perbedaan waktu hingga 12 jam dengan Indonesia.

Meski demikian, materi yang diperoleh selama Pelatnas membantunya menghadapi ujian teori maupun eksperimen.

Sementara itu, peraih medali perak Gusti Komang Abhika Atmaja dari SMAK Kesatuan Bangsa Yogyakarta mengaku sempat menargetkan medali emas.

“Target saya sebenarnya ingin dapat emas, tapi karena ada beberapa hal yang terjadi saat tes, akhirnya saya mendapatkan perak. Namun, saya telah memberikan yang terbaik bagi Indonesia,” ujarnya.

Peraih medali perak lainnya, Ackhava Adam Malonda dari SMA Wardaya Jakarta, mengaku bersyukur dapat meraih prestasi pada debut internasionalnya.

“Karena ini kali pertama bagi saya, mendapatkan medali apa pun sudah sangat baik, dan saya sangat bersyukur bisa meraih medali perak ini,” kata dia.

Adapun Arrow Dunatos Pascha Kristian dari SMAN Unggulan MH Thamrin Jakarta yang meraih medali perunggu menilai setiap hasil kompetisi memiliki nilai pembelajaran.

“Secara ideal kita ingin memberikan yang terbaik, namun membawa pulang medali apa pun adalah sebuah hikmah besar bagi kami,” katanya.

Hal senada disampaikan Juan Richie dari SMA Kristen Immanuel Pontianak yang juga meraih medali perunggu.

“Jujur target saya emas, namun karena ada duka dan kendala saat tes, saya meraih perunggu. Meski begitu, apa pun hasil yang kita dapatkan harus tetap disyukuri sebagai pencapaian bersama,” ungkap Juan.

Team leader dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI), Budhy Kurniawan, mengatakan tim Indonesia mampu menjaga semangat meski harus menempuh perjalanan selama 36 jam dan menjalani berbagai aturan selama kompetisi.

“Secara intelegensia, murid kita tidak kalah dengan negara lain. Yang kami pupuk terus adalah kestabilan emosi dan jiwa pemenang agar mereka tetap percaya diri menghadapi delegasi lain yang secara fisik mungkin lebih besar,” ternang Budhy.

Sementara itu, pembina dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Getbogi Hikmawan, menilai keberhasilan Indonesia merupakan hasil pembinaan yang terukur sehingga potensi para pelajar dapat berkembang secara optimal.

“Prestasi ini naik bukan hanya karena potensi anak-anak, tetapi juga bagaimana kita mengelola pola pendampingan yang mendorong mereka terus berkembang,” pungkas Getbogi.

Kemendikdasmen berharap capaian Tim Olimpiade Fisika Indonesia di IPhO 2026 dapat memotivasi lebih banyak pelajar untuk mencintai sains dan terus berprestasi di tingkat internasional. (*)