Indonesia-Australia Perkuat Kerja Sama Pendidikan dan Moderasi Beragama

Menteri Agama Nasaruddin Umar membahas penguatan kerja sama pendidikan dan moderasi beragama dengan Asisten Menteri Luar Negeri Australia Matt Thistlethwaite. Salah satu agenda yang disiapkan adalah kolaborasi dengan sejumlah universitas di Australia yang ditargetkan mulai berjalan tahun depan.

Indonesia-Australia Perkuat Kerja Sama Pendidikan dan Moderasi Beragama
Menteri Agama Nasaruddin Umar menunjukkan lukisan yang mengabadikan momen kebersamaannya dengan Paus Fransiskus kepada Asisten Menteri Luar Negeri Australia, Matt Thistlethewaite, saat berkunjung ke Masjid Istiqlal, Jakarta. (Sumber: Kemenag)

RINGKASAN BERITA :

  • Indonesia dan Australia menjajaki kerja sama dengan sejumlah universitas yang ditargetkan mulai berjalan tahun depan.
  • Menag Nasaruddin Umar menyiapkan Konferensi Internasional Asosiasi Imam Besar untuk memperkuat kolaborasi global melawan radikalisme.
  • Australia mencatat sekitar 25.000 mahasiswa Indonesia sedang menempuh pendidikan di negaranya sebagai bagian penting hubungan antarmasyarakat kedua negara.

RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Indonesia dan Australia berkomitmen mempererat hubungan bilateral melalui penguatan kerja sama di bidang pendidikan dan moderasi beragama.

Salah satu langkah yang tengah dipersiapkan adalah kolaborasi antara Indonesia dengan sejumlah universitas di Australia yang ditargetkan mulai terealisasi pada tahun depan.

Komitmen tersebut dibahas dalam pertemuan Menteri Agama Nasaruddin Umar dengan Asisten Menteri Luar Negeri Australia, Matt Thistlethwaite di Masjid Istiqlal, Jakarta, Rabu (15/7/2026).

Pertemuan itu juga dihadiri Presiden Australian National Imams Council (ANIC) Shady Alsuleiman dan Duta Besar Australia untuk Indonesia Rod Brazier.

"Kami sedang menjajaki kerja sama dengan sejumlah universitas di Australia. Mudah-mudahan mulai tahun depan kolaborasi tersebut dapat direalisasikan. Australia adalah negara tetangga kami, sehingga hubungan akademik maupun keagamaan perlu terus diperkuat," ungkap Menag.

Dalam kesempatan itu, Nasaruddin Umar memaparkan pengalaman Indonesia dalam mengembangkan moderasi beragama yang kini menjadi perhatian berbagai negara.

Menurutnya, pendekatan keislaman moderat yang dikembangkan Indonesia banyak dijadikan rujukan dalam membangun kehidupan beragama yang damai tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar agama.

"Kami membangun cara pandang keislaman yang moderat. Banyak negara mengundang kami untuk berbagi pengalaman karena kami memiliki metodologi khusus dalam menjelaskan Islam dengan perspektif yang modern, tanpa meninggalkan nilai-nilai dasarnya," kata Menag yang juga Imam Besar Masjid Istiqlal.

Ia menjelaskan Indonesia telah menjalin kerja sama dengan berbagai pemerintah dan lembaga internasional di Amerika Serikat, Eropa, hingga kawasan Skandinavia dalam memperkuat moderasi beragama.

Selain itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga memberikan kepercayaan kepadanya untuk memimpin International Grand Imam Association.

Menag juga mengungkapkan bahwa Indonesia tengah mempersiapkan Konferensi Internasional Asosiasi Imam Besar yang dijadwalkan berlangsung bulan depan.

Forum tersebut akan mempertemukan para ulama dunia guna memperkuat kolaborasi internasional dalam mencegah berkembangnya radikalisme melalui pendekatan keilmuan dan dialog.

"Insyaallah, bulan depan kami akan menyelenggarakan Konferensi Internasional Asosiasi Imam Besar. Konferensi tersebut akan dihadiri oleh banyak ulama terkemuka dunia, termasuk Imam Besar Masjidil Haram, Syekh Sudais, yang dijadwalkan menjadi pembicara utama," terang Menag.

Ia menambahkan bahwa salah satu tujuan utama penyelenggaraan konferensi tersebut adalah memperluas kerja sama global dalam menghadapi tantangan radikalisme.

"Salah satu tujuan penyelenggaraan konferensi internasional yang akan kami adakan adalah membangun kerja sama global untuk mencegah berkembangnya radikalisme melalui pendekatan keilmuan, dialog, dan metodologi yang telah kami kembangkan di Indonesia," kata dia.

Sementara itu, Asisten Menteri Luar Negeri Australia Matt Thistlethwaite menilai penguatan kerja sama di bidang pendidikan dan moderasi beragama menjadi bagian penting dalam mempererat hubungan kedua negara.

"Saat ini terdapat sekitar 25.000 mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Australia, sehingga mereka juga menjalankan kehidupan beragama sebagai bagian dari komunitas kami. Mereka menjadi bagian penting dari hubungan people-to-people antara kedua negara," ujarnya.

Matt juga menyampaikan bahwa komunitas Muslim di Australia memiliki kontribusi besar dalam membangun kehidupan masyarakat yang saling menghormati dan menghargai keberagaman.

Karena itu, pemerintah Australia ingin terus memperkuat hubungan dengan Indonesia, termasuk melalui kolaborasi bersama para pemimpin agama.

"Saya secara rutin menghadiri berbagai kegiatan bersama komunitas Muslim, mulai dari acara Ramadan, buka puasa bersama (iftar), hingga perayaan Idulfitri. Mereka juga menjalankan peran yang sangat penting dalam menumbuhkan sikap saling menghormati, menerima perbedaan, dan mempererat persahabatan di tengah masyarakat Australia," lanjutnya.

Ia turut memberikan apresiasi kepada Presiden Australian National Imams Council (ANIC), Shady Alsuleiman, yang dinilai berperan besar dalam membangun hubungan baik antara komunitas Muslim Australia dan Indonesia.

"Anda telah mengulurkan tangan persahabatan kepada Australia. Kami menerimanya dengan penuh rasa hormat dan berharap dapat terus bekerja sama dengan Anda di masa mendatang," terang Matt. (*)