BRIN Siap Hilirisasi Radiofarmaka Kanker, Dua Produk Andalan Masuk Tahap Industri
BRIN mengungkap kesiapan dua radiofarmaka unggulan, Samarium-153 EDTMP dan Iodium-131 MIBG, untuk didorong ke tahap hilirisasi industri. Produk ini dinilai strategis untuk memperkuat kemandirian nasional dalam diagnosis dan terapi kanker, sekaligus meningkatkan kualitas hidup pasien.
RINGKASAN BERITA:
- Kebutuhan radiofarmaka di Indonesia sangat besar seiring lonjakan kasus kanker
- Radiofarmaka bekerja di tingkat molekuler dengan efek samping minimal
- BRIN membuka peluang kolaborasi industri untuk percepatan layanan kesehatan
RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap kesiapan dua produk radiofarmaka hasil riset dalam negeri untuk memasuki tahap hilirisasi industri.
Dua produk tersebut adalah Samarium-153 EDTMP dan Iodium-131 MIBG yang ditujukan untuk diagnosis dan terapi kanker.
Paparan ini disampaikan Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Radioisotop, Radiofarmaka dan Biodosimetri BRIN, Rohadi Awaludin, dilansir dari portal BRIN, Sabtu (7/2/2026).
Rohadi menjelaskan kebutuhan radiofarmaka di Indonesia sangat tinggi, terutama untuk penanganan kanker dan penyakit jantung.
Dengan jumlah kasus kanker yang mencapai ratusan ribu per tahun, ia menilai penyediaan radiofarmaka nasional menjadi bagian penting dari sistem layanan kesehatan terintegrasi.
Menurutnya, radiofarmaka memiliki keunggulan karena mampu mendeteksi penyakit pada tingkat fungsi dan molekuler.
Perubahan metabolisme, kata Rohadi, dapat teridentifikasi lebih awal sebelum muncul perubahan anatomi pada organ tubuh.
Dalam konteks terapi, radiofarmaka menerapkan prinsip targeted therapy, di mana zat aktif diarahkan langsung ke sel target.
Pendekatan ini membuat efek samping menjadi jauh lebih kecil dibanding terapi konvensional, sekaligus memungkinkan penerapan pengobatan berbasis personal atau personalized medicine.
Produk pertama yang dipaparkan adalah Samarium-153 EDTMP yang digunakan untuk terapi paliatif kanker dengan metastasis tulang.
Pasien dengan kondisi ini umumnya mengalami nyeri berat dan memerlukan obat pereda nyeri dosis tinggi.
Dengan terapi Samarium, satu kali pemberian dapat memberikan efek pengurangan nyeri hingga satu atau dua bulan.
Produk kedua adalah Iodium-131 MIBG yang digunakan untuk diagnosis sekaligus terapi kanker neuroblastoma, jenis kanker yang banyak menyerang anak-anak.
Radiofarmaka ini menggunakan dosis berbeda antara kebutuhan diagnostik dan terapi, serta telah memiliki dokumen perizinan lengkap.
Rohadi menilai potensi I-131 MIBG sangat besar karena belum banyak rumah sakit yang mampu menyediakannya.
Bahkan, ia menyebutkan pasien dari luar negeri pernah datang ke Indonesia untuk mendapatkan layanan terapi serupa.
Selain dua produk utama, BRIN juga mengembangkan berbagai radiofarmaka lain, di antaranya Lutetium-177 PSMA untuk kanker prostat, I-131 Rituximab untuk terapi kanker limfoma, radiofarmaka diagnosis infeksi, 131 I-Hippuran untuk fungsi ginjal, serta 99mTc-HIDA untuk evaluasi sistem hepatobilier.
Rohadi menegaskan seluruh riset tersebut membuka peluang luas bagi kolaborasi dengan mitra industri.
Kerja sama ini diharapkan dapat mempercepat pemanfaatan radiofarmaka hasil riset BRIN untuk mendukung layanan kesehatan nasional dan mengurangi ketergantungan pada produk impor. (*)