Kasus Percobaan Bunuh Diri Mahasiswa Berulang, BK UMM Ungkap Akar Masalah Bukan Sekadar Akademik

Rentetan percobaan bunuh diri mahasiswa menyoroti krisis kesehatan mental, terutama pada mahasiswa rantau. BK UMM menegaskan akar masalah sering kali bukan akademik, melainkan rendahnya ketahanan mental dan dukungan sosial.

Kasus Percobaan Bunuh Diri Mahasiswa Berulang, BK UMM Ungkap Akar Masalah Bukan Sekadar Akademik
Kepala Bimbingan dan Konseling (BK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Cahyaning Suryaningrum, M.Si., Psikolog. (Sumber: UMM)

RINGKASAN BERITA:

  • Mahasiswa rantau rentan mengalami masalah psikologis akibat tuntutan adaptasi dan minim dukungan sosial.

  • Tekanan akademik kerap hanya menjadi pemicu, sementara akar masalah banyak berasal dari kondisi keluarga.

  • Lingkungan teman sebaya dan coping mechanism sehat berperan penting dalam pencegahan.


RIAUCERDAS.COM, MALANG -
Rentetan kasus percobaan bunuh diri di kalangan mahasiswa yang terjadi berulang, bahkan di lokasi yang sama, memunculkan alarm serius tentang kesehatan mental generasi muda.

Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi mahasiswa tidak bisa lagi dipandang sebagai masalah individu, melainkan krisis psikologis yang memerlukan perhatian bersama, terutama bagi mahasiswa rantau.

Kepala Bimbingan dan Konseling (BK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Cahyaning Suryaningrum, M.Si., Psikolog, menyebut mahasiswa rantau memiliki kerentanan tinggi karena harus beradaptasi dengan lingkungan baru tanpa dukungan langsung dari keluarga.

Ketika kemampuan adaptasi dan dukungan sosial rendah, risiko masalah psikologis meningkat.

“Mahasiswa rantau itu rentan karena mereka tidak tinggal bersama orang tua atau di lingkungan yang biasa mereka tempati. Mereka berisiko mengalami problem psikologis ketika dukungan sosial atau kemampuan adaptasinya rendah,” ujar Naning dilansir dari portal IMM.

Ia mengungkapkan, berdasarkan pengalaman di ruang konseling, tekanan akademik seperti tugas kuliah atau skripsi sering kali bukan penyebab utama.

Banyak kasus justru berakar dari rapuhnya ketahanan keluarga, sementara masalah akademik hanya menjadi pemicu dari beban emosional yang telah lama menumpuk.

Naning menegaskan bahwa bekal terpenting mahasiswa bukan hanya kecerdasan intelektual, tetapi ketahanan mental (resiliensi) untuk menghadapi ketidaknyamanan hidup.

Tanpa resiliensi, mahasiswa cenderung berpikir sempit saat berada dalam situasi tertekan.

“Tekanan akademik itu wajar dan bagian dari proses pendidikan. Dalam taraf tertentu justru penting agar mahasiswa lebih fokus. Yang menjadi dasar adalah sejauh mana seseorang memiliki ketahanan mental dan pemahaman tentang makna berjuang,” jelasnya.

Terkait pemilihan lokasi yang sama dalam beberapa kasus percobaan bunuh diri, Naning menilai hal itu berkaitan dengan kondisi psikologis individu yang sudah terdesak.

Paparan cerita atau pemberitaan sebelumnya dapat membentuk gambaran tertentu dalam pikiran mahasiswa yang rapuh, sehingga lokasi tersebut dianggap sebagai pilihan.

BK UMM mengedepankan pendekatan konseling berbasis pemberdayaan, di mana mahasiswa tidak hanya diajak memahami masalahnya, tetapi juga mengenali kekuatan diri dan sumber persoalan yang dihadapi.

“Kami ingin mahasiswa sadar bahwa mereka memiliki kapasitas untuk keluar dari masalah. Konselor berfungsi sebagai penguat, bukan satu-satunya tumpuan,” tegas Naning.

Ia juga menekankan pentingnya coping mechanism yang sehat, seperti berolahraga, mendengarkan musik, atau melakukan aktivitas sederhana yang disukai untuk menyalurkan emosi negatif sebelum menumpuk.

Selain peran profesional, lingkungan terdekat seperti teman kos dan teman sebaya dinilai menjadi garda terdepan pencegahan.

Sikap mendengarkan tanpa menghakimi, menjaga kerahasiaan, serta tidak menyepelekan masalah teman disebut sebagai langkah kecil yang berdampak besar. (*)