Bahaya Konten Digital Berulang pada Anak: Pakar Ingatkan Risiko “Brain Drop” di Masa Golden Age

Paparan konten digital yang monoton pada anak usia dini berisiko menghambat perkembangan otak. Pakar UI menekankan pentingnya variasi stimulasi agar koneksi saraf berkembang optimal.

Bahaya Konten Digital Berulang pada Anak: Pakar Ingatkan Risiko “Brain Drop” di Masa Golden Age
Ilustrasi (Sumber: Freepik)

RINGKASAN BERITA: 

  • Paparan konten digital berulang dapat memicu fenomena brain drop pada anak usia dini.
  • Variasi stimulasi sangat penting untuk membentuk koneksi saraf dan perkembangan kognitif.
  • Orang tua perlu menyeimbangkan penggunaan teknologi dengan aktivitas sosial dan fisik anak.

RIAUCERDAS.COM - Fenomena kecanduan konten digital pada anak kini tak hanya berdampak pada perilaku, tetapi juga berpotensi mengganggu perkembangan otak di masa krusial pertumbuhan.

Guru Besar Universitas Indonesia (UI), Rose Mini Agoes Salim, mengingatkan adanya risiko kondisi yang disebut “brain drop” akibat paparan rangsangan yang monoton dan berulang.

Menurut Rose, masa usia dini atau golden age merupakan periode ketika otak anak berada dalam kondisi paling optimal untuk menyerap berbagai informasi.

Namun, kondisi ini justru rentan terganggu apabila anak hanya menerima jenis stimulasi yang terbatas.

“Pada masa golden age, otak anak sangat terbuka terhadap berbagai rangsangan. Tapi jika yang diterima hanya itu-itu saja, maka kemampuan lain tidak terstimulasi,” ujar Rose, dilansir dari InfoPublik, Rabu (18/3/2026).

Ia menjelaskan, brain drop merujuk pada kondisi ketika kapasitas perkembangan otak tidak mencapai potensi maksimal karena kurangnya variasi pengalaman.

Dampaknya dinilai lebih kompleks dibandingkan gangguan fisik, karena berkaitan langsung dengan pembentukan fungsi kognitif.

Paparan berulang terhadap konten digital tertentu, seperti gim atau tayangan yang sama, dinilai dapat membuat anak terpaku pada satu jenis aktivitas.

Hal ini berisiko menghambat perkembangan kemampuan lain yang seharusnya terbentuk melalui pengalaman yang beragam.

“Yang membuat otak berkembang bukan ukuran, tetapi banyaknya koneksi antar-saraf. Koneksi itu terbentuk dari variasi pengalaman dan stimulasi,” jelasnya.

Rose menambahkan, keterbatasan variasi aktivitas dapat menghambat pembentukan koneksi antar-saraf di otak.

Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kemampuan berpikir, kreativitas, hingga keterampilan sosial anak.

Untuk itu, ia menekankan pentingnya keseimbangan dalam memberikan stimulasi kepada anak.

Interaksi sosial, aktivitas fisik, serta eksplorasi lingkungan nyata perlu dihadirkan sebagai pelengkap penggunaan teknologi digital.

Dalam konteks kebijakan, pemahaman ini dinilai penting untuk mendukung implementasi perlindungan anak di ruang digital, termasuk melalui regulasi seperti PP Tunas.

Pendekatan yang dilakukan tidak hanya sebatas membatasi akses, tetapi juga memastikan kualitas tumbuh kembang anak tetap terjaga.

“Anak perlu pengalaman yang beragam agar koneksi otaknya berkembang optimal. Teknologi bisa dimanfaatkan, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya sumber stimulasi,” pungkasnya. (*)