Campak pada Orang Dewasa Bisa Lebih Berbahaya, Dokter Ingatkan Risiko Komplikasi Serius
Dokter RSUP Hasan Sadikin Bandung mengingatkan bahwa campak pada orang dewasa dapat menimbulkan komplikasi serius seperti pneumonia hingga radang otak, sehingga vaksinasi tetap menjadi langkah pencegahan paling efektif.
RINGKASAN BERITA:
- Campak pada orang dewasa dapat menimbulkan komplikasi serius, termasuk pneumonia dan ensefalitis.
- Indonesia masih termasuk negara dengan jumlah kasus campak cukup tinggi.
- Vaksinasi MMR satu hingga dua dosis menjadi langkah pencegahan paling efektif.
RIAUCERDAS.COM - Penyakit Campak tidak hanya menyerang anak-anak, tetapi juga dapat dialami orang dewasa dengan risiko komplikasi yang lebih berat.
Dokter Rudi Wisaksana dari RSUP Hasan Sadikin Bandung mengingatkan bahwa kasus campak pada orang dewasa dapat menimbulkan masalah kesehatan serius, terutama bagi mereka yang tidak memiliki kekebalan atau belum menerima vaksinasi lengkap.
Rudi yang juga menjabat Ketua Perhimpunan Pengendalian Infeksi Indonesia cabang Bandung menjelaskan bahwa gejala campak pada orang dewasa pada dasarnya mirip dengan yang terjadi pada anak-anak.
Penyakit ini disebabkan oleh virus RNA dari keluarga Paramyxoviridae yang sangat mudah menular melalui droplet saluran pernapasan.
"Campak merupakan salah satu penyakit yang tingkat penularannya sangat tinggi. Virus dapat menyebar melalui batuk atau bersin dan menular dari orang ke orang,” ujarnya dikutip dari InfoPublik, Jumat (13/3/2026).
Ia menjelaskan bahwa masa inkubasi campak rata-rata berlangsung sekitar 10 hari.
Setelah itu, pasien memasuki fase prodromal selama tiga hingga lima hari yang ditandai gejala infeksi saluran pernapasan.
Tahap berikutnya ditandai munculnya ruam khas yang biasanya bermula dari wajah kemudian menyebar ke seluruh tubuh.
Kondisi ini umumnya disertai demam tinggi serta rasa lemah pada tubuh.
Berdasarkan laporan kesehatan global, kasus campak masih menjadi perhatian serius di berbagai negara.
Data pada 2024 menunjukkan peningkatan kasus campak, sementara penyakit lain seperti gondongan dan rubella justru cenderung mengalami penurunan.
Indonesia sendiri tercatat sebagai salah satu negara dengan jumlah kasus campak yang cukup tinggi.
Secara geografis, kasus paling banyak ditemukan di wilayah Pulau Jawa dan Pulau Sumatra, meskipun penyebaran juga mulai terlihat di Bali, Nusa Tenggara Barat, serta beberapa wilayah di Sulawesi.
Rudi menambahkan bahwa campak pada orang dewasa sering kali menunjukkan tingkat keparahan yang lebih tinggi dibandingkan pada anak-anak.
Salah satu penyebabnya adalah sebagian orang dewasa tidak memiliki kekebalan karena lahir sebelum program imunisasi campak diterapkan secara luas di Indonesia pada sekitar tahun 1980-an.
“Tidak semua orang dewasa memiliki riwayat vaksinasi lengkap, sehingga risiko terkena campak tetap ada dan perjalanan penyakitnya bisa lebih berat,” jelasnya.
Pada orang dewasa, gejala campak juga dapat muncul secara tidak khas atau atipikal.
Ruam dapat muncul dengan pola berbeda dan gejala klasik seperti batuk, pilek, serta konjungtivitis tidak selalu muncul secara lengkap sehingga diagnosis kadang menjadi lebih sulit.
Sekitar 30 persen kasus campak pada orang dewasa dapat berkembang menjadi komplikasi.
Salah satu komplikasi yang paling sering terjadi adalah pneumonia atau radang paru.
Pneumonia dapat muncul akibat infeksi virus secara langsung maupun infeksi bakteri sekunder.
Kondisi ini dapat menimbulkan kerusakan paru yang luas dan pada beberapa kasus membutuhkan perawatan intensif.
Selain pneumonia, sejumlah komplikasi lain juga dapat terjadi, di antaranya radang otak atau ensefalitis yang berpotensi menyebabkan kerusakan otak permanen, gangguan fungsi hati, diare berat, trombositopenia, infeksi telinga, hingga gagal ginjal.
"Pada kasus yang jarang namun fatal, campak juga dapat menyebabkan Subacute Sclerosing Panencephalitis (SSPE) yang muncul beberapa tahun setelah infeksi," jelasnya.
Risiko penyakit yang lebih berat juga meningkat pada kelompok tertentu seperti penderita gangguan sistem imun, pasien HIV, penderita kanker atau leukemia, pasien yang menjalani terapi imunosupresif, penderita diabetes, individu dengan kondisi gizi buruk, serta perempuan hamil.
Hingga kini belum tersedia terapi antivirus khusus untuk mengobati campak.
Penanganan yang diberikan umumnya bersifat suportif, seperti pemberian cairan yang cukup, obat penurun demam, vitamin A, antibiotik jika terjadi infeksi bakteri sekunder, serta isolasi pasien untuk mencegah penularan.
"Pasien biasanya perlu menjalani isolasi sejak empat hari sebelum muncul ruam hingga empat hari setelah ruam muncul karena pada periode tersebut penularan masih dapat terjadi," ungkapnya.
Vaksinasi
Upaya pencegahan paling efektif tetap melalui vaksinasi.
Rekomendasi imunisasi dewasa dari Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia menyarankan pemberian vaksin campak atau vaksin MMR sebanyak satu hingga dua dosis dengan jarak sekitar satu bulan.
Vaksin tersebut sangat dianjurkan bagi tenaga kesehatan, pelaku perjalanan internasional, mahasiswa atau pelajar yang tinggal di asrama, serta orang dewasa yang tidak memiliki bukti kekebalan terhadap campak.
Vaksinasi juga kerap menjadi syarat dalam sejumlah perjalanan internasional, termasuk kegiatan ibadah seperti haji dan umrah yang melibatkan kerumunan besar.
“Campak bukan penyakit ringan, terutama pada orang dewasa. Pencegahan terbaik tetap melalui vaksinasi agar komplikasi serius dapat dihindari,” ujarnya.
Di akhir pemaparannya, Rudi mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan dan melakukan pencegahan sejak dini.
“Manfaatkan masa sehat sebelum datang masa sakit. Pencegahan selalu lebih baik daripada pengobatan," pungkasnya. (*)