Pakar Ungkap Alasan Warteg Fancy Digemari Gen Z, Harga Mahal Tak Jadi Masalah

Fenomena “warteg fancy” yang kini menjamur di berbagai kota dinilai sebagai bentuk inovasi bisnis kuliner untuk menjawab perubahan perilaku konsumen. Guru Besar Ilmu Konsumen IPB University Prof Ujang Sumarwan menyebut pengalaman makan, suasana nyaman, dan citra sosial menjadi faktor utama yang membuat konsumen rela membayar lebih.

Pakar Ungkap Alasan Warteg Fancy Digemari Gen Z, Harga Mahal Tak Jadi Masalah
Ilustrasi. (Sumber: Diolah dengan AI)

RINGKASAN BERITA: 

  • Tren warteg fancy dinilai menjual pengalaman makan, bukan sekadar makanan.
  • Gen Z disebut menjadi pasar utama karena menyukai tempat makan unik dan cozy.
  • Enam bulan pertama menjadi masa krusial untuk menentukan tren ini bertahan atau tidak.

RIAUCERDAS.COMTren “warteg fancy” yang belakangan ramai di berbagai kota dinilai bukan sekadar soal makanan, melainkan strategi bisnis kuliner yang menjual pengalaman dan suasana, terutama untuk menarik minat konsumen muda seperti generasi Z.

Guru Besar Ilmu Konsumen IPB University, Prof Ujang Sumarwan, mengatakan kemunculan konsep tersebut merupakan bentuk kreativitas pelaku usaha dalam merespons perubahan selera pasar yang terus bergerak.

Menurutnya, inovasi menjadi kebutuhan utama dalam industri kuliner karena konsumen selalu mencari sesuatu yang baru.

“Konsumen selalu menginginkan hal-hal baru. Warteg fancy ini adalah bentuk kreativitas pengusaha dalam memenuhi kebutuhan tersebut,” ujar Ujang dikutip dari laman IPB University, Kamis (23/4/2026).

Ia menjelaskan, munculnya tren warteg fancy dipengaruhi oleh kombinasi berbagai faktor, mulai dari kebutuhan fungsional, kenyamanan, hingga citra sosial yang melekat pada sebuah tempat makan.

Dalam dunia bisnis kuliner, kata dia, inovasi tidak hanya hadir dari tampilan fisik seperti desain interior atau konsep tempat, tetapi juga dari sisi nonfisik seperti pelayanan yang lebih baik.

“Konsumen akan membandingkan berbagai pilihan tempat makan. Mereka mencari sesuatu yang baru, nyaman, dan tetap terjangkau. Di sinilah terjadi pertemuan antara kebutuhan konsumen dan strategi pelaku usaha,” jelasnya.

Ujang menilai pengalaman makan kini menjadi faktor penting dalam memengaruhi keputusan pembelian.

Konsumen tak lagi hanya mempertimbangkan rasa makanan, tetapi juga suasana yang mendukung kenyamanan.

“Ketika konsumen merasa cocok dengan rasa dan tempat, harga sering kali menjadi nomor dua. Konsumen bersedia mengeluarkan anggaran lebih untuk mendapatkan pengalaman yang berbeda,” kata Ujang.

Fenomena ini disebut sangat relevan dengan karakter konsumen masa kini, khususnya gen Z yang cenderung mengejar pengalaman unik dan tempat makan dengan suasana nyaman atau cozy.

Terkait harga yang cenderung lebih tinggi dibanding warteg biasa, Ujang menilai hal itu wajar karena persepsi konsumen kerap mengaitkan harga dengan kualitas.

“Ketika harga lebih tinggi, konsumen cenderung menganggap kualitas produk dan layanan juga lebih baik. Sebaliknya, harga yang terlalu murah justru bisa menimbulkan kecurigaan,” jelasnya.

Meski begitu, ia mengingatkan tren ini belum tentu bertahan lama. Keberlangsungannya sangat ditentukan oleh respons pasar dalam beberapa bulan pertama.

“Semuanya ditentukan oleh respons konsumen. Jika responsnya positif, konsep ini bisa bertahan dalam jangka panjang. Namun jika tidak, sangat mungkin tren ini hanya bersifat sementara,” tutur dia.

Menurut Ujang, enam bulan pertama menjadi masa penentu apakah konsep bisnis seperti warteg fancy mampu bertahan atau justru meredup.

Ia menekankan bahwa inovasi berkelanjutan menjadi kunci utama agar bisnis kuliner tetap relevan di tengah konsumen yang dinamis.

“Bisnis kuliner harus terus berinovasi. Konsumen akan selalu membandingkan dan mencari pengalaman baru. Di situlah tantangan sekaligus peluang bagi pelaku usaha,” tutupnya. (*)