Pupuk Organik dari Sampah TPA Buantan Besar Berpotensi Buka Lapangan Kerja Baru di Siak
Pengolahan sampah menjadi pupuk organik di TPA Buantan Besar, Kabupaten Siak, dinilai tidak hanya mampu mengurangi penumpukan sampah, tetapi juga berpotensi menciptakan sumber ekonomi baru dan membuka lapangan kerja bagi masyarakat. DPRD Siak bahkan siap membantu pengurusan legalitas usaha agar pengembangan produksi semakin optimal.
RINGKASAN BERITA:
- Pupuk organik "Siak Nusantara" hasil olahan sampah dinilai berpotensi menciptakan lapangan kerja dan sumber pendapatan baru bagi masyarakat.
- Dari 20 ton sampah yang masuk ke TPA setiap hari, baru sekitar 5 ton yang dapat diolah karena keterbatasan fasilitas.
- DPRD Siak siap membantu pengurusan legalitas usaha untuk mendukung pengembangan produksi dan pemasaran pupuk organik.
RIAUCERDAS.COM, SIAK - Upaya mengolah sampah menjadi pupuk organik di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Buantan Besar, Kecamatan Siak, mulai menunjukkan potensi ekonomi yang menjanjikan.
Selain membantu mengurangi volume sampah yang menumpuk setiap hari, program tersebut juga dinilai mampu menciptakan peluang usaha dan lapangan kerja baru bagi masyarakat sekitar.
Produk pupuk organik yang dipasarkan dengan merek “Siak Nusantara” itu mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah.
Pengelolaannya dilakukan oleh kelompok Bank Sampah Buantan Besar yang saat ini terus berupaya meningkatkan kapasitas produksi.
Anggota DPRD Siak, Sujarwo, mengatakan pihaknya bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) serta Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD) Kabupaten Siak kembali meninjau lokasi pengolahan sampah untuk melihat langsung perkembangan produksi dan kebutuhan yang diperlukan kelompok pengelola.
“Ini kali kedua saya meninjau lokasi pengelolaan sampah menjadi pupuk organik bersama dinas terkait. Kami ingin melihat langsung dan mendata apa saja yang perlu disesuaikan untuk mendukung kelompok bank sampah agar produksinya semakin meningkat,” ujarnya, Rabu (3/6/2026).
Menurut Sujarwo, program tersebut memiliki prospek yang sangat baik karena mampu mengubah sampah menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus membantu mengatasi persoalan kapasitas TPA yang terus bertambah.
“Kalau saya melihat langsung di lokasi, yang mereka produksi ini sangat berpotensi berhasil dan bisa dikembangkan lebih besar lagi. TPA seharusnya menjadi tempat pengelolaan sampah, bukan sekadar tempat pembuangan sampah,” kata dia.
Ia menjelaskan, volume sampah yang masuk ke TPA Buantan Besar saat ini mencapai sekitar 20 ton per hari.
Namun dari jumlah tersebut, kelompok pengelola baru mampu mengolah sekitar 5 ton sampah menjadi pupuk organik karena keterbatasan fasilitas produksi.
Kendala utama yang dihadapi saat ini adalah keterbatasan tempat pengolahan dan belum tersedianya mesin produksi yang lebih modern.
Jika kebutuhan tersebut dapat dipenuhi, kapasitas pengolahan sampah diyakini akan meningkat secara signifikan.
“Mereka masih terkendala tempat dan mesin yang lebih canggih. Kalau fasilitas itu terpenuhi, produksi bisa ditingkatkan dan sampah tidak lagi menumpuk hingga overload,” jelasnya.
Sujarwo menambahkan, pengembangan usaha pupuk organik berbasis sampah memiliki manfaat ganda karena selain mendukung pelestarian lingkungan, juga berpotensi menciptakan sumber pendapatan baru bagi masyarakat.
Bahkan, DPRD Siak menyatakan siap membantu kelompok pengelola dalam proses pengurusan izin usaha agar produk yang dihasilkan memiliki legalitas yang kuat dan dapat dipasarkan lebih luas.
“Ini bisa membuka peluang kerja juga bagi masyarakat kita. Kami juga siap membantu proses pengurusan izin usahanya agar bisa berkembang lebih besar,” tutur dia.
Saat ini, produk pupuk organik “Siak Nusantara” mulai menarik perhatian pasar.
Sejumlah permintaan dalam jumlah besar telah berdatangan, menunjukkan peluang pengembangan usaha yang cukup besar di masa mendatang.
Dengan dukungan pemerintah daerah serta peningkatan sarana produksi, pengolahan sampah menjadi pupuk organik di TPA Buantan Besar diharapkan mampu menjadi solusi pengurangan sampah sekaligus menggerakkan ekonomi berbasis lingkungan di Kabupaten Siak. (*)