Umri Perkuat Ideologi Pegawai Baru, 30 Dosen dan Tendik Ikuti Baitul Arqam
Universitas Muhammadiyah Riau (Umri) menggelar Baitul Arqam bagi dosen dan tenaga kependidikan baru sebagai upaya memperkuat pemahaman Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK). Kegiatan ini diharapkan membentuk sumber daya manusia yang profesional sekaligus memiliki semangat dakwah dan loyalitas terhadap Persyarikatan Muhammadiyah.
RINGKASAN BERITA:
- Sebanyak 30 dosen dan tenaga kependidikan baru Umri mengikuti Baitul Arqam untuk memperkuat pemahaman Al-Islam dan Kemuhammadiyahan.
- Rektor Umri menegaskan sivitas akademika tidak hanya menjalankan tugas profesional, tetapi juga menjadi bagian dari gerakan dakwah Muhammadiyah.
- Ketua MPKSDI PP Muhammadiyah menyebut setiap aktivitas dosen dan tenaga kependidikan di kampus merupakan bagian dari amal jariyah dan pengabdian kepada umat.
RIAUCERDAS.COM, PEKANBARU - Universitas Muhammadiyah Riau (Umri) terus memperkuat pembinaan ideologi dan karakter bagi sumber daya manusianya melalui kegiatan Perkaderan Baitul Arqam yang diikuti dosen dan tenaga kependidikan baru di lingkungan kampus.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya menanamkan nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) sejak awal pengabdian di perguruan tinggi Muhammadiyah.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 5–6 Juni 2026, di Kampus Utama Umri itu diikuti 30 peserta yang terdiri dari 20 dosen dan 10 tenaga kependidikan.
Seluruh peserta merupakan pegawai baru, dengan rincian tujuh laki-laki dan 23 perempuan.
Rektor Umri, Dr. H. Saidul Amin, M.A., mengatakan Baitul Arqam memiliki posisi strategis dalam membangun semangat pengabdian sekaligus memperkuat identitas sivitas akademika sebagai bagian dari gerakan dakwah Muhammadiyah.
Menurutnya, perguruan tinggi Muhammadiyah tidak hanya berperan sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai wadah kaderisasi yang membentuk karakter Islami dan berkemajuan.
“Melalui kegiatan Baitul Arqam ini, kami ingin memperkuat ruh bermuhammadiyah di lingkungan Umri. Dosen dan tenaga kependidikan bukan hanya menjalankan tugas profesional, tetapi juga menjadi bagian dari gerakan dakwah dan pengembangan peradaban Islam berkemajuan,” ujarnya.
Ia berharap peserta dapat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan serius sehingga nilai-nilai AIK dapat diterapkan dalam budaya kerja, pelayanan akademik, serta kehidupan sehari-hari di lingkungan kampus.
“Kami ingin seluruh sivitas akademika Umri memiliki semangat pengabdian, integritas, dan loyalitas yang kuat terhadap Persyarikatan serta terus berkontribusi dalam memajukan Umri menjadi perguruan tinggi unggul dan berdaya saing,” tuturnya.
Perkaderan tersebut menghadirkan Ketua Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Bachtiar Dwi Kurniawan, sebagai narasumber utama.
Dalam pemaparannya, Bachtiar menegaskan bahwa Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), khususnya di sektor pendidikan, merupakan instrumen penting dalam menjalankan misi dakwah sekaligus membangun peradaban Islam yang berkemajuan.
Ia mengingatkan bahwa keberadaan Umri merupakan amanah besar yang harus dijalankan dengan kesamaan visi dan komitmen oleh seluruh unsur kampus.
Bagi dosen dan tenaga kependidikan, bekerja di Umri bukan sekadar mencari nafkah atau menerima gaji bulanan.
Setiap administrasi yang dirapikan, setiap ilmu yang diajarkan, dan setiap pelayanan yang diberikan kepada mahasiswa merupakan bagian dari amal jariyah yang pahalanya terus mengalir.
"Seluruh sivitas akademika adalah bagian dari gerakan dakwah Muhammadiyah,” ungkap dia.
Selain memperkuat pemahaman ideologi Muhammadiyah, Baitul Arqam juga menjadi sarana membangun solidaritas antarsivitas akademika, meningkatkan loyalitas terhadap institusi, serta memperkuat budaya kerja yang berlandaskan nilai-nilai Islam.
Melalui program perkaderan tersebut, Umri menegaskan komitmennya untuk melahirkan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan yang tidak hanya unggul secara profesional, tetapi juga memiliki integritas, semangat pengabdian, dan komitmen dakwah dalam mendukung kemajuan Persyarikatan Muhammadiyah serta pembangunan bangsa. (*)