Sering Stres Saat Lebaran? Psikolog Bagikan Cara Jaga Kesehatan Mental di Hari Raya
Lebaran tak selalu membawa kebahagiaan bagi semua orang. Psikolog IPB Nur Islamiah membagikan tips mengelola stres, mulai dari menetapkan batas diri hingga menjaga keseimbangan emosional.
RINGKASAN BERITA:
- Stres saat Lebaran bisa dipicu tekanan sosial, pertanyaan pribadi, dan aktivitas yang padat.
- Menetapkan batas diri dan memberi ruang pribadi penting untuk menjaga kesehatan mental.
- Psikolog menyarankan tetap menjaga koneksi dengan orang terdekat untuk mengurangi stres dan kesepian.
RIAUCERDAS.COM - Hari Raya Idulfitri identik dengan momen berkumpul bersama keluarga dan mempererat silaturahmi.
Namun di balik suasana hangat tersebut, tidak sedikit orang yang justru mengalami tekanan, rasa tidak nyaman, hingga kelelahan secara fisik dan emosional.
Berbagai pertanyaan pribadi yang kerap muncul saat berkumpul, seperti soal pernikahan, pekerjaan, hingga pencapaian hidup, sering kali menjadi pemicu stres bagi sebagian orang.
Selain itu, perubahan rutinitas selama Lebaran, aktivitas sosial yang padat, serta ekspektasi budaya turut memperbesar potensi kelelahan mental.
Psikolog sekaligus dosen IPB University, Nur Islamiah, menjelaskan bahwa kondisi tersebut merupakan hal yang umum terjadi dan perlu dikelola dengan baik.
Menurutnya, salah satu langkah penting adalah mengatur ekspektasi diri dan menetapkan batas psikologis atau psychological boundaries.
“Kita tidak punya kewajiban dan memang tidak mungkin bisa menyenangkan semua orang. Sering kali kita merasa harus selalu tersenyum, melayani tamu, dan menjaga suasana,” ujarnya.
Ia menyarankan agar setiap individu mengenali batas diri, termasuk dalam memilih interaksi sosial dan mengambil waktu istirahat sejenak tanpa rasa bersalah.
“Menetapkan batas waktu dan energi untuk bersosialisasi bukan berarti tidak menghargai orang lain, melainkan bentuk upaya menjaga kesehatan mental,” jelasnya.
Lebih lanjut, Nur Islamiah menekankan pentingnya menyediakan ruang untuk diri sendiri di tengah padatnya aktivitas silaturahmi.
“Memberi ruang bukan berarti menjauh, tetapi cara untuk memelihara kapasitas emosional. Tanpa ruang itu, kita lebih mudah merasa lelah, tersinggung, bahkan merasa kosong meski dikelilingi banyak orang,” paparnya.
Ia menambahkan, keseimbangan antara kebersamaan dan waktu pribadi sangat penting.
Hal sederhana seperti bangun lebih pagi untuk menikmati suasana tenang atau beristirahat sejenak di kamar dapat membantu menjaga kondisi emosional.
Dalam menghadapi pertanyaan sensitif dari keluarga, ia menyarankan untuk memberikan jawaban yang sopan namun tetap menjaga privasi.
“Misalnya dengan mengatakan ‘masih dalam proses, mohon doanya’, itu sudah cukup tanpa harus menjelaskan terlalu jauh,” katanya.
Nur Islamiah juga mengingatkan agar tidak mengabaikan perasaan lelah atau tertekan yang muncul selama Lebaran.
“Tidak apa-apa merasa lelah di tengah suasana yang bahagia. Validasi perasaan itu penting. Carilah cara sederhana untuk menenangkan diri, seperti berjalan sebentar, berwudu, atau beribadah,” ujarnya.
Bagi individu yang merayakan Lebaran seorang diri, ia menyebut rasa kesepian sebagai hal yang wajar.
Untuk itu, menjaga koneksi dengan orang terdekat tetap penting dilakukan, meski hanya melalui panggilan video.
“Hubungi orang yang disayangi, jangan memendam semuanya sendirian,” pesannya.
Ia menegaskan, Lebaran bukanlah ajang untuk terlihat paling bahagia atau paling sukses, melainkan momentum untuk kembali pada keseimbangan diri dan makna kebersamaan.
“Kita tidak harus selalu kuat dan tidak perlu merasa harus sempurna. Memberi ruang untuk diri sendiri justru merupakan bentuk kekuatan emosional yang matang,” tutupnya. (*)



