Kasus Keracunan MBG Capai 33 Ribu Siswa, Pakar Soroti Kesiapan dan Skala Produksi
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menghadapi sorotan setelah puluhan ribu siswa diduga mengalami keracunan. Pakar menilai persoalan utama ada pada kesiapan dan skala produksi yang terlalu besar sejak awal.
RINGKASAN BERITA:
- Lebih dari 33 ribu siswa diduga mengalami keracunan terkait program MBG.
- Pakar menilai target produksi 3.000 porsi per hari terlalu tinggi sejak awal.
- Fokus program disarankan pada kelompok rentan agar lebih aman dan efektif.
RIAUCERDAS.COM - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang ditujukan untuk meningkatkan gizi pelajar justru menghadapi tantangan serius terkait keamanan pangan, seiring munculnya puluhan ribu kasus dugaan keracunan sejak awal pelaksanaan.
Data dari Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia mencatat sedikitnya 33.626 pelajar mengalami keracunan yang diduga berkaitan dengan program MBG sepanjang 2025 hingga April 2026.
Angka ini menimbulkan kekhawatiran terhadap kesiapan implementasi program secara nasional.
Guru Besar Teknologi Pangan dari Universitas Gadjah Mada, Sri Raharjo, menyebut kejadian keracunan terjadi hampir setiap bulan sejak program berjalan.
“Hanya mungkin satu dua bulan saja yang tidak ada laporan. Selebihnya hampir setiap bulan ada, dengan jumlah kasus yang fluktuatif,” ujarnya dikutip dari laman UGM, Minggu (26/4/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut mencerminkan belum optimalnya kesiapan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam memastikan keamanan makanan.
Ia menilai persoalan tidak terjadi di satu wilayah saja, melainkan tersebar di berbagai daerah.
Sri juga menyoroti target produksi yang dinilai terlalu tinggi, yakni hingga 3.000 porsi per hari per SPPG.
Dengan sasaran puluhan juta siswa, kebutuhan fasilitas diperkirakan mencapai puluhan ribu unit.
Ia menilai kebijakan tersebut terlalu dipaksakan tanpa melalui tahapan uji kapasitas secara bertahap.
“Dari situ bisa diambil pelajarannya terkait kemampuan handle 500, hasilnya nanti bisa untuk menetapkan apakah cukup siap dinaikkan tiga kali lipat selanjutnya. Tahapan ini tidak diantisipasi karena terburu-buru tadi,” katanya.
Selain aspek kebijakan, Sri menyoroti risiko teknis dalam proses pengolahan makanan, khususnya pada menu berbahan ayam yang banyak digunakan.
Dalam produksi massal, ratusan potong ayam harus dimasak dalam waktu singkat, dengan jeda konsumsi yang bisa berlangsung beberapa jam.
“Jika makanan tidak diolah dengan benar sejak awal, risiko kontaminasi semakin besar,” ujarnya.
Ia menjelaskan, metode pengolahan juga berpengaruh terhadap keamanan pangan.
Ayam yang direbus hingga matang merata dinilai lebih aman dibandingkan dimasak langsung dalam jumlah besar dengan metode tertentu yang berpotensi tidak menghasilkan panas merata.
“Relatif sulit untuk memastikan setiap bahan dari ratusan potong dalam satu wajan matang semua. Berarti ada risiko sebagian dari potongan tadi mungkin tidak mampu mematikan katakan kuman atau bakteri penyebab penyakit,” tuturnya.
Faktor lain yang turut berpengaruh adalah kelelahan tenaga kerja akibat produksi dalam jumlah besar setiap hari, yang dapat menurunkan ketelitian dalam proses pengolahan makanan.
Di sisi lain, Sri menilai pendekatan program perlu lebih terarah dengan memprioritaskan kelompok yang paling membutuhkan, seperti anak dengan risiko stunting, dibandingkan menjangkau seluruh siswa secara serentak.
“Kalau difokuskan pada kelompok yang benar-benar membutuhkan, jumlahnya jauh lebih kecil dan secara keamanan pangannya lebih bisa dikelola,” ujarnya.
Temuan ini menjadi catatan penting bagi pelaksanaan program MBG ke depan, agar tujuan peningkatan gizi pelajar tetap tercapai tanpa mengabaikan aspek keamanan pangan. (*)


