BRIN Kembangkan Sel Surya Ramah Lingkungan dari Minyak Kayu Putih

BRIN mengembangkan teknologi semikonduktor organik berbasis minyak kayu putih untuk aplikasi sel surya berbiaya rendah. Inovasi ini diharapkan menjadi alternatif ramah lingkungan pengganti pelarut toksik dalam industri semikonduktor.

May 25, 2026 - 13:42
 0
BRIN Kembangkan Sel Surya Ramah Lingkungan dari Minyak Kayu Putih
BRIN mengembangkan teknologi semikonduktor organik berbasis minyak kayu putih untuk aplikasi sel surya berbiaya rendah. (Sumber: BRIN)

RINGKASAN BERITA: 

  • BRIN mengembangkan sel surya ramah lingkungan berbasis minyak kayu putih.
  • Teknologi ini menggantikan pelarut toksik seperti klorobenzena dan kloroform.
  • Material semikonduktor organik lebih ringan dan cocok untuk bangunan di wilayah rawan gempa.

RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Pemanfaatan minyak kayu putih kini tidak hanya terbatas pada kebutuhan kesehatan dan industri rumah tangga.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Sistem Nanoteknologi (PRSN) mengembangkan teknologi semikonduktor organik berbasis minyak kayu putih untuk mendukung produksi sel surya yang lebih ramah lingkungan dan murah.

Inovasi tersebut dikembangkan sebagai solusi alternatif pengganti penggunaan pelarut kimia berbahaya yang selama ini banyak digunakan dalam industri semikonduktor organik.

Peneliti Ahli Muda PRSN BRIN, Mohamad Insan Nugraha menjelaskan semikonduktor organik saat ini memiliki potensi besar untuk pengembangan perangkat sel surya karena mampu menghasilkan efisiensi tinggi.

Namun, proses pembuatannya masih bergantung pada bahan pelarut toksik seperti klorobenzena dan kloroform.

“Semikonduktor organik yang banyak diaplikasikan saat ini, meskipun efisiensinya bisa mencapai lebih dari 17 persen, masih difabrikasi menggunakan pelarut toksik seperti klorobenzena dan kloroform,” ujar Insan dikutip dari laman BRIN, Senin (25/5/2026).

Sebagai pengganti bahan kimia tersebut, tim peneliti BRIN memanfaatkan minyak kayu putih yang dinilai lebih aman bagi lingkungan dan memiliki ketersediaan melimpah di Indonesia.

“Kami menggunakan minyak kayu putih karena lebih ramah lingkungan dan ketersediaannya sangat melimpah di Indonesia,” kata dia.

Dalam proses fabrikasi, peneliti menggunakan metode spin coating untuk membentuk lapisan semikonduktor organik mulai dari hole transporting layer hingga electron transporting layer sebelum dilakukan deposisi elektroda.

Menurut Insan, proses tersebut relatif cepat dan hemat energi karena dapat dilakukan pada suhu rendah.

“Dalam waktu kurang dari satu jam, kami dapat memfabrikasi sel surya hingga lapisan electron transporting layer dengan suhu rendah di bawah 100 derajat Celcius,” ujar Insan.

Selain lebih murah dalam proses produksi, material semikonduktor organik juga memiliki bobot yang jauh lebih ringan dibandingkan material berbasis silikon.

Keunggulan tersebut dinilai cocok diterapkan pada bangunan di Indonesia, terutama di daerah rawan gempa karena tidak memberikan beban berat pada struktur atap rumah maupun genteng.

“Materialnya sangat ringan sehingga berpotensi lebih aman diaplikasikan pada atap rumah atau genteng di wilayah rawan gempa,” katanya.

Saat ini, pengembangan teknologi sel surya berbasis minyak kayu putih masih berada pada tahap laboratorium.

BRIN pun membuka peluang kerja sama dengan industri untuk mempercepat pengembangan hingga tahap produksi massal dan implementasi yang lebih luas.

“Harapannya, teknologi sel surya semikonduktor organik ini dapat dikembangkan pada skala lebih besar dan dimanfaatkan secara luas di Indonesia,” tandasnya. (*)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow