3.896 Siswa Ikuti Seleksi Bintang Sobat SMP 2026, Disiapkan Jadi Duta Budaya Sekolah
Kemendikdasmen menyeleksi 3.896 siswa dari 38 provinsi dalam Program Bintang Sobat SMP (BSS) 2026. Sebanyak 76 finalis terpilih untuk mengikuti pembekalan dan akan dikukuhkan sebagai Duta Budaya Sekolah Aman dan Nyaman guna mendorong terciptanya lingkungan belajar serta ruang digital yang positif.
RINGKASAN BERITA:
- Sebanyak 3.896 siswa dari 38 provinsi mengikuti seleksi Bintang Sobat SMP 2026, dengan 76 finalis terpilih.
- Finalis akan dikukuhkan sebagai Duta Budaya Sekolah Aman dan Nyaman setelah mengikuti pembekalan dan berbagai kegiatan nasional.
- Program ini mendorong lahirnya siswa sebagai peer influencers untuk melawan perundungan, membangun budaya digital sehat, dan menciptakan sekolah yang inklusif.
RIAUCERDAS.COM, TANGERANG - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyeleksi ribuan peserta dari seluruh Indonesia melalui Program Bintang Sobat SMP (BSS) 2026.
Dari 3.896 siswa yang mengikuti proses seleksi, sebanyak 76 finalis berhasil lolos dan akan dikukuhkan sebagai Duta Budaya Sekolah Aman dan Nyaman.
Program yang digagas Direktorat Sekolah Menengah Pertama (SMP) ini bertujuan melahirkan peer influencers, yakni siswa yang mampu menjadi teladan dan mengajak teman sebaya membangun perilaku positif, baik di lingkungan sekolah maupun di ruang digital.
Inisiatif tersebut juga sejalan dengan PP Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP TUNAS) serta Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 9 Tahun 2026 yang mendorong terciptanya ruang digital yang aman bagi anak.
Direktur SMP Kemendikdasmen, Maulani Mega Hapsari, mengatakan minat siswa mengikuti Bintang Sobat SMP tahun ini mengalami peningkatan.
Sebanyak 3.896 murid dari 38 provinsi mengikuti seleksi melalui tahapan administrasi, kurasi video, dan wawancara daring.
Dari seluruh peserta tersebut, terpilih 76 finalis yang berasal dari 36 provinsi, termasuk tiga siswa dari daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Para finalis mengikuti rangkaian puncak apresiasi Bintang Sobat SMP 2026 yang berlangsung pada 7–10 Juli 2026 di Gading Serpong, Tangerang, Banten.
"Kehadiran 76 anak-anak hebat di ruangan ini adalah bukti nyata masa depan cerah Indonesia. Mereka adalah potret anak-anak yang menolak menjadi korban zaman, tetapi memilih menjadi pelopor kebaikan di lingkungannya," kata Maulani, Selasa (7/7/2026).
Selama kegiatan, para finalis mengikuti Parade Budaya Nusantara, penguatan kapasitas, BSS Championship, validasi bakat, serta kunjungan edukatif ke Monumen Nasional, Kantor Kemendikdasmen, dan Istana Negara.
Pada akhir kegiatan, mereka akan dikukuhkan sebagai Duta Budaya Sekolah Aman dan Nyaman.
Staf Ahli Menteri Bidang Regulasi dan Hubungan Antar Lembaga Kemendikdasmen, Biyanto, mengatakan Bintang Sobat SMP memiliki tiga tujuan utama, yakni menghadirkan teladan di kalangan murid, membangun ekosistem informasi yang sehat, dan memperkuat budaya sekolah yang aman serta nyaman.
"Selempang BSS yang nanti melingkar di bahu kalian bukan hiasan, melainkan simbol amanah besar. Sepulangnya ke daerah masing-masing, kalian harus menjadi magnet kebaikan yang mengajak teman-teman menjauhi kekerasan, mencintai lingkungan, dan berprestasi," pesannya kepada para finalis.
Sementara itu, Staf Ahli Menteri Bidang Manajemen Talenta Kemendikdasmen, Mariman Darto, menilai tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental dan sosial.
Karena itu, peran teman sebaya dinilai penting dalam menciptakan lingkungan sekolah yang inklusif.
"Suarakan kepedulian kepada sesama. Lawan bullying dan jangan membentuk kelompok yang eksklusif. Bangun suasana yang membuat setiap anak merasa diterima. Sekolah harus menjadi inisiator lahirnya relasi sosial yang sehat bersama guru, orang tua, dan seluruh warga sekolah," ungkapnya.
Melalui Program Bintang Sobat SMP 2026, Kemendikdasmen berharap semakin banyak siswa yang berperan sebagai penggerak budaya digital yang sehat sekaligus menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan inklusif. (*)