BRIN Kembangkan Sensor Cerdas Berbasis AI

BRIN mendorong pengembangan teknologi smart sensing dengan mengintegrasikan sensor elektrokimia dan kecerdasan artifisial (AI). Teknologi tersebut diharapkan menghasilkan sistem deteksi yang lebih cepat, akurat, dan adaptif untuk berbagai sektor, mulai dari kesehatan hingga industri.

BRIN Kembangkan Sensor Cerdas Berbasis AI
BRIN mengembangkan teknologi smart sensing dengan mengintegrasikan sensor elektrokimia dan kecerdasan artifisial untuk meningkatkan kecepatan dan akurasi deteksi. (Sumber: BRIN)

RINGKASAN BERITA:

  • BRIN mengembangkan teknologi smart sensing dengan mengintegrasikan sensor elektrokimia dan kecerdasan artifisial untuk meningkatkan kecepatan dan akurasi deteksi.
  • Peneliti BRIN berhasil mengembangkan miniatur elektroda berbasis ITO yang memiliki performa tinggi sebagai platform sensor generasi baru.
  • Teknologi ini berpotensi diterapkan di sektor kesehatan, lingkungan, industri, hingga sistem keamanan melalui kolaborasi riset dan hilirisasi inovasi.

RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mempercepat pengembangan teknologi sensor cerdas atau smart sensing melalui integrasi sensor elektrokimia dengan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI).

Sinergi kedua teknologi ini diproyeksikan mampu menghadirkan sistem penginderaan yang lebih presisi dan responsif untuk mendukung berbagai kebutuhan, seperti layanan kesehatan, pemantauan lingkungan, industri, hingga keamanan.

Komitmen tersebut disampaikan dalam kegiatan Sharing Ilmiah Sains dan Teknologi Elektronika serta Manfaatnya (SISTEM) Volume 3 Tahun 2026 yang digelar Pusat Riset Elektronika (PRE) BRIN di Bandung, Selasa (7/7/2026).

Forum bertema "Smart Sensing Era: Sinergi Miniatur Sensor Elektrokimia dan Artificial Intelligence" itu mempertemukan peneliti, akademisi, dan pelaku industri untuk memperkuat kolaborasi pengembangan teknologi.

Kepala Pusat Riset Elektronika BRIN, Prof. Yusuf Nur Wijayanto, mengatakan forum ilmiah seperti SISTEM menjadi sarana penting untuk mempercepat inovasi teknologi elektronika melalui kolaborasi lintas disiplin.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Program Studi Teknik Elektro Universitas Garut, Helfy Susilawati, menjelaskan bahwa kecerdasan artifisial kini telah berkembang menjadi bagian penting dalam berbagai inovasi teknologi.

"AI tidak lagi hanya dimanfaatkan sebagai teknologi komputasi, tetapi telah menjadi komponen penting dalam pengembangan berbagai solusi inovatif yang mampu meningkatkan efisiensi, akurasi, dan produktivitas," katanya dikutip dari laman BRIN, Kamis (9/7/2026).

Menurut Helfy, penerapan AI telah berkembang pada berbagai bidang, seperti sistem absensi berbasis pengenalan wajah dan gerakan tangan, alat bantu penyandang tunanetra melalui pengolahan citra, smart traffic light, sistem pendeteksi pelanggaran lalu lintas, hingga penggunaan drone untuk pencarian korban di kawasan pegunungan.

Ia menilai kolaborasi lintas disiplin menjadi faktor penting agar inovasi berbasis AI tidak berhenti pada tahap prototipe, melainkan dapat diterapkan secara luas sesuai kebutuhan masyarakat dan dunia industri.

Sementara itu, Peneliti Ahli Madya PRE BRIN, Gandi Sugandi, memaparkan hasil pengembangan miniatur elektroda sensor elektrokimia berbasis Indium Tin Oxide (ITO) yang diintegrasikan pada substrat kaca.

Menurutnya, material ITO memiliki konduktivitas listrik tinggi sekaligus transparansi optik yang baik sehingga memungkinkan pengembangan sensor multi-modal yang menggabungkan fungsi elektrokimia dan optik dalam satu platform.

Teknologi tersebut mendukung berbagai metode pengukuran modern, seperti spektroelektrokimia, fotoelektrokimia, dan elektrokemiluminesensi.

Gandi menjelaskan proses penelitian meliputi tahap perancangan, fabrikasi, hingga karakterisasi elektroda menggunakan metode Cyclic Voltammetry (CV) dan Electrochemical Impedance Spectroscopy (EIS).

Hasil pengujian menunjukkan elektroda ITO memiliki resistansi rendah, efisiensi transfer elektron yang tinggi, serta stabilitas yang lebih baik dibandingkan sejumlah elektroda komersial.

"Hasil penelitian menunjukkan bahwa miniatur elektroda ITO memiliki karakteristik kelistrikan yang sangat baik dan siap digunakan sebagai platform sensor multi-modal terintegrasi untuk pengembangan sensor generasi berikutnya," kata Gandi.

Ia menambahkan, penggabungan sensor elektrokimia dengan AI membuka peluang lahirnya sistem smart sensing yang mampu melakukan deteksi secara otomatis, cepat, dan akurat untuk berbagai aplikasi, termasuk sektor kesehatan, pemantauan lingkungan, otomasi industri, dan sistem keamanan.

Lewat penyelenggaraan SISTEM Volume 3 Tahun 2026, PRE BRIN berharap kolaborasi antara peneliti, perguruan tinggi, dan industri semakin kuat sehingga mampu mempercepat hilirisasi hasil riset elektronika sekaligus mendukung transformasi digital di Indonesia. (*)