Program Revitalisasi Sekolah 3T Tembus 14 Ribu Satuan
Program revitalisasi sekolah Kemendikdasmen telah menjangkau lebih dari 14 ribu satuan pendidikan, terutama di wilayah 3T dan daerah terdampak bencana, dengan target pemerataan layanan pendidikan berkualitas di seluruh Indonesia.
RINGKASAN BERITA:
- Revitalisasi menjangkau 14.072 satuan pendidikan hingga 2025.
- Fokus pada wilayah 3T, perbatasan, dan daerah terdampak bencana.
- Program berlanjut 2026 untuk pemerataan pendidikan nasional.
RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah terus memperluas pemerataan layanan pendidikan lewat Program Revitalisasi Satuan Pendidikan, terutama di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Hingga 2025, program ini telah menjangkau lebih dari 14 ribu satuan pendidikan di seluruh Indonesia.
Program yang diluncurkan pada Hari Pendidikan Nasional 2025 tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan layanan pendidikan yang aman, layak, dan berkualitas bagi seluruh anak bangsa, termasuk wilayah terdampak bencana dan daerah terpencil.
Salah satu penerima manfaat adalah PAUD Murmas Kertaraharja di Dusun Kertaraharja, Desa Genggelang, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat.
Wilayah ini sebelumnya mengalami kerusakan parah akibat gempa bumi 7,0 SR pada 2018.
Melalui program revitalisasi, PAUD tersebut mendapatkan pembangunan ruang kelas baru, ruang UKS, toilet ramah anak, serta arena bermain edukatif dengan total anggaran lebih dari Rp563 juta.
Kepala sekolah PAUD Murmas, Azizah Safitri, menyampaikan bahwa revitalisasi meningkatkan kenyamanan belajar dan motivasi guru.
Dia mwnyebut, dengan revitalisasi para guru juga lebih nyaman dan termotivasi dalam melaksanakan pembelajaran karena lingkungan yang aman dan fasilitas yang menjadi memadai.
"Semua murid dapat belajar dengan aman, nyaman, dan ceria, dengan dukungan fasilitas bermain yang menunjang perkembangan motorik, sosial-emosional, dan kognitif anak secara optimal,” ungkap Azizah.
Program serupa juga dirasakan SMAN 3 Fatuleu di Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur.
Sekolah ini menerima bantuan revitalisasi lebih dari Rp1,05 miliar, meliputi rehabilitasi ruang kelas, toilet, laboratorium TIK, hingga pembangunan laboratorium IPA baru.
Kepala sekolah SMAN 3 Fatuleu, Yosef Kono, menyebut revitalisasi membawa dampak signifikan bagi semangat belajar siswa dan kualitas pembelajaran.
Selain meningkatkan sarana pendidikan, skema swakelola revitalisasi juga memberi efek ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Selama sekitar 120 hari pembangunan, aktivitas ekonomi lokal meningkat, melibatkan pelaku UMKM, penyedia bahan bangunan, hingga pengrajin mebel.
Dampak revitalisasi juga dirasakan di kawasan perbatasan timur Indonesia, seperti Distrik Towe yang berbatasan langsung dengan Papua Nugini di Kabupaten Keerom, Papua Pegunungan.
SMP Negeri 1 Towe menerima bantuan lebih dari Rp2,6 miliar untuk pembangunan ruang kelas, laboratorium, ruang administrasi, rumah dinas guru, UKS, dan rehabilitasi toilet.
Kepala sekolah Laurensius Wiku menyebut program tersebut menjadi investasi jangka panjang bagi pendidikan di wilayah perbatasan.
“Terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, serta seluruh pihak yang terlibat. Revitalisasi yang kami terima sangat bermanfaat dan menjadi investasi jangka panjang untuk pemajuan Indonesia khususnya peserta didik Papua,” tutur Laurensius.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, menegaskan bahwa revitalisasi satuan pendidikan akan terus diperkuat pada 2026.
Hal itu disampaikan dalam Konsolidasi Nasional di Depok, 10 Februari 2026.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Menengah tahun 2025, total 14.072 satuan pendidikan telah menerima program revitalisasi.
Jumlah tersebut terdiri dari 1.515 PAUD, 6.328 SD, 3.989 SMP, dan 2.240 SMA, dengan 949 sekolah berada di wilayah timur Indonesia dan kawasan 3T.
Kemendikdasmen memastikan program ini akan terus diperluas agar semakin banyak sekolah di wilayah tertinggal dan terdampak bencana mendapatkan fasilitas pendidikan layak.
Upaya tersebut menjadi bagian dari komitmen menghadirkan pendidikan bermutu untuk semua sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia unggul di masa depan. (*)