Revitalisasi Sekolah di Bandung, Wamendikdasmen Tinjau Kelas Digital SD Yayasan Amal Keluarga

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq meninjau langsung hasil revitalisasi sarana pendidikan dan penerapan pembelajaran digital di SD Yayasan Amal Keluarga, Kabupaten Bandung. Program ini dinilai membawa perubahan signifikan, baik dari sisi kenyamanan belajar maupun antusiasme siswa dan guru.

Revitalisasi Sekolah di Bandung, Wamendikdasmen Tinjau Kelas Digital SD Yayasan Amal Keluarga
Wamendikdasmen Fajar Riza Ul Haq menggunakan flat panel di hadapan para siswa saat kunjungan ke SD Yayasan Amal Keluarga, Kabupaten Bandung, Jumat (6/2/2026) kemarin. (Sumber: Kemendikdasmen)

RINGKASAN BERITA:

  • Revitalisasi sekolah didukung anggaran Rp180 juta untuk ruang kelas dan perpustakaan
  • Pembelajaran digital diperkuat dengan penggunaan Interactive Flat Panel (IFP)
  • Siswa dan guru merasakan peningkatan motivasi serta kualitas pembelajaran

RIAUCERDAS.COM, BANDUNG - Upaya peningkatan kualitas pendidikan dasar terus diperkuat pemerintah.

Hal itu terlihat dari kunjungan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq ke SD Yayasan Amal Keluarga, Kabupaten Bandung, Jumat (2/6/2026), untuk melihat langsung dampak revitalisasi sarana sekolah dan digitalisasi pembelajaran.

Sekolah tersebut menjadi salah satu penerima program Revitalisasi Satuan Pendidikan dengan dukungan anggaran sebesar Rp180 juta.

Dana itu dimanfaatkan untuk memperbaiki dua ruang kelas serta satu perpustakaan yang sebelumnya mengalami kerusakan cukup parah.

Tak hanya pembenahan fisik, sekolah juga mendapatkan dukungan transformasi pembelajaran digital melalui pemanfaatan Papan Interaktif Digital (PID) atau Interactive Flat Panel (IFP).

Perangkat ini digunakan untuk menciptakan suasana belajar yang lebih interaktif dan sesuai dengan karakter peserta didik saat ini.

Dalam kunjungannya, Wamen Fajar menyempatkan diri masuk ke ruang kelas dan berdialog langsung dengan guru serta siswa.

Ia menanyakan pemanfaatan sarana hasil revitalisasi, sekaligus melihat secara langsung bagaimana IFP digunakan dalam proses belajar mengajar.

Di hadapan siswa, Fajar juga menekankan pentingnya pembentukan karakter sejak usia dini.

Ia mengingatkan bahwa kebiasaan sederhana seperti menjaga kebersihan merupakan bagian dari 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat.

Menurutnya, membuang sampah pada tempatnya dan menjaga lingkungan bukan hanya soal kebersihan, tetapi juga bentuk tanggung jawab sosial yang harus ditanamkan sejak dini, baik di sekolah maupun di lingkungan rumah.

Sementara itu, Kepala SD Yayasan Amal Keluarga, Asep Miftahudin, mengungkapkan bahwa kondisi sekolah sebelum direvitalisasi berada dalam keadaan memprihatinkan.

Dampak pandemi COVID-19 membuat aktivitas sekolah sempat terhenti hampir dua tahun, sehingga banyak bangunan mengalami kerusakan.

Ia menjelaskan, kerusakan terparah terjadi pada ruang kelas dan perpustakaan.

Bahkan, demi keselamatan siswa, pihak sekolah sempat memindahkan kegiatan belajar ke ruang lain yang tidak ideal untuk proses pembelajaran.

Setelah program revitalisasi berjalan, kondisi tersebut berubah drastis.

Ruang kelas dan perpustakaan kini kembali layak digunakan, sehingga siswa dapat belajar dengan aman dan nyaman.

“Sekarang anak-anak sudah bisa belajar dengan tenang. Mereka terlihat lebih senang dan bersemangat datang ke sekolah,” ujar Asep.

Transformasi digital juga membawa dampak positif.

Kehadiran IFP dinilai mampu meningkatkan partisipasi siswa dalam pembelajaran sekaligus membantu guru menyampaikan materi dengan lebih variatif.

Hal serupa dirasakan Murti Kurnia, guru kelas IV. Ia menilai pembelajaran berbasis digital membuat siswa lebih antusias dan aktif mengikuti pelajaran.

“Anak-anak jadi lebih ceria dan termotivasi. Bahkan ada yang sebelumnya kurang bersemangat sekolah, sekarang justru tidak sabar ingin belajar karena tertarik dengan pembelajaran menggunakan layar interaktif,” ungkapnya.

Menurut Murti, digitalisasi pembelajaran penting agar siswa tidak tertinggal perkembangan zaman, terlebih tidak semua peserta didik memiliki akses perangkat digital di rumah.

Antusiasme juga datang dari siswa. Jovinka, siswi kelas II, mengaku senang belajar menggunakan IFP karena membuat pelajaran terasa lebih menyenangkan.

“Aku suka belajar matematika pakai IFP, soalnya seru dan bisa main sambil belajar sama teman-teman,” ujarnya polos.

Melalui program revitalisasi dan digitalisasi ini, pemerintah berharap kualitas pendidikan dasar dapat meningkat secara merata, sekaligus menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan relevan dengan perkembangan zaman. (*)