Vokasi UI Kembangkan Kurikulum Terapi Okupasi Berbasis Batik
Program Studi Terapi Okupasi Vokasi Universitas Indonesia menghadirkan kurikulum inovatif berbasis budaya nasional melalui konsep Batik Indonesian National Occupational Therapy Educational Curriculum (BINOTEC) yang terintegrasi dengan standar global World Federation of Occupational Therapists (WFOT), guna mencetak tenaga kesehatan berkelas internasional.
RINGKASAN BERITA:
- Vokasi UI padukan budaya batik dengan standar internasional WFOT
- Mahasiswa wajib tempuh lebih dari 1.200 jam praktik klinis
- Siapkan terapis okupasi berdaya saing global berbasis kearifan lokal
RIAUCERDAS.COM, DEPOK - Program Studi Terapi Okupasi Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia (UI) terus memperkuat posisinya sebagai pencetak tenaga kesehatan profesional yang adaptif terhadap tantangan global tanpa meninggalkan akar budaya nasional.
Melalui konsep Bridging Tradition and Innovation, Vokasi UI menghadirkan kurikulum Terapi Okupasi yang terintegrasi dengan standar internasional World Federation of Occupational Therapists (WFOT).
Inovasi tersebut diwujudkan melalui Batik Indonesian National Occupational Therapy Educational Curriculum (BINOTEC).
Kurikulum ini menggunakan filosofi membatik sebagai pendekatan pembelajaran, yang memaknai proses pendidikan mahasiswa dari tahap dasar hingga menjadi lulusan yang matang secara profesional dan etis.
Direktur Program Pendidikan Vokasi UI, Dr. Safrin Arifin, SKM., S.St., M.Sc., menegaskan bahwa integrasi standar global menjadi fondasi utama dalam pengembangan kurikulum Vokasi UI.
“Penguatan kurikulum kami arahkan untuk menjawab kebutuhan riil layanan kesehatan sekaligus memenuhi standar profesi internasional. Integrasi WFOT dalam BINOTEC memastikan lulusan siap praktik dan memiliki mobilitas global,” ujar Safrin dilansir dari portal UI.
Struktur pembelajaran dirancang bertahap selama delapan semester dengan pendekatan taksonomi Bloom yang dipadukan metafora batik.
Tahun pertama difokuskan pada pembentukan fondasi dasar, dilanjutkan pendalaman teori dan praktik klinis pada tahun kedua dan ketiga.
Pada tahun keempat, mahasiswa memasuki fase The Masterpiece sebagai puncak pembelajaran.
Pada tahap akhir tersebut, mahasiswa menjalani rotasi praktik di berbagai fasilitas kesehatan, termasuk wilayah rural, serta menyelesaikan proyek capstone.
Vokasi UI menetapkan kewajiban lebih dari 1.200 jam praktik klinis, melampaui standar minimal WFOT, dengan komposisi pembelajaran 60 persen praktik dan 40 persen teori.
Dosen Terapi Okupasi Vokasi UI, Hermito Gidion, A.Md.OT., S.Psi., M.Psi.T., menjelaskan bahwa pendekatan kontekstual menjadi nilai tambah utama lulusan Vokasi UI.
“Mahasiswa dilatih menerapkan standar global dalam konteks lokal. Di lingkungan dengan keterbatasan sumber daya, mereka tetap mampu memberikan layanan berkualitas melalui kreativitas, empati, dan penalaran klinis,” jelasnya.
Keunggulan lainnya terletak pada fokus terapi berbasis okupasi atau aktivitas bermakna dengan pendekatan Evidence-Based Practice, setara dengan standar negara maju seperti Kanada dan Belanda.
Mahasiswa juga didukung oleh 10 laboratorium tematik, termasuk laboratorium Virtual Reality, serta jaringan 40 mitra lahan praktik.
Ke depan, Vokasi UI mengembangkan konsep Terapi Okupasi 4.0 melalui integrasi kecerdasan buatan dan penguatan layanan geriatri.
Langkah ini mengukuhkan Prodi Terapi Okupasi Vokasi UI sebagai pusat unggulan pendidikan terapi okupasi di Asia Tenggara.
Menurut Hermito, mahasiswa belajar bahwa doing is healing. Aktivitas bermakna, katanya, adalah inti dari proses penyembuhan manusia. (*)