Resiliansi, Eko-Teologi, dan Citizen Science Jadi Strategi Baru Mitigasi Bencana

BRIN menegaskan pentingnya integrasi resiliansi, eko-teologi, dan citizen science dalam mitigasi bencana. Pendekatan ini dinilai mampu menghadirkan pemulihan holistik, partisipatif, dan berorientasi jangka panjang, sekaligus menggeser paradigma dari reaktif menjadi proaktif.

Resiliansi, Eko-Teologi, dan Citizen Science Jadi Strategi Baru Mitigasi Bencana
Kondisi lokasi bencana longsor di Bandung Barat beberapa waktu lalu. BRIN membuka gagasan eko-teologi sebagai fondasi moral dalam mitigasi dan pemulihan bencana. (Sumber: Kemendikdasmen)

RINGKASAN BERITA:

  • Eko-teologi dan citizen science memperkuat dimensi etis sekaligus keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan risiko bencana.
  • Restorasi lingkungan dan penguatan spiritual komunitas dinilai sama pentingnya dengan pemulihan fisik dan ekonomi.
  • Studi masa depan dan perencanaan skenario dibutuhkan agar penanganan bencana tidak lagi bersifat reaktif.

RIAUCERDAS.COMPendekatan terpadu berbasis ketahanan masyarakat, nilai etis-spiritual, dan partisipasi warga dalam pengelolaan data dinilai menjadi kunci memperkuat mitigasi dan pemulihan pascabencana.

Gagasan tersebut mengemuka dalam Weekly Webinar Series – Update Sumatera ke-8 bertema “Resiliansi, Eko-Teologi, dan Citizen Science Pascabencana” yang diselenggarakan Pusat Riset Kependudukan BRIN di Jakarta.

Forum ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan untuk membahas isu penanganan pengungsi, relokasi, serta solusi jangka panjang setelah bencana.

Kepala Pusat Riset Kependudukan BRIN, Ali Yansyah Abdurrahim, menegaskan bahwa eko-teologi harus diposisikan sebagai fondasi moral dalam mitigasi dan pemulihan bencana, bukan sekadar diskursus normatif.

Menurutnya, kesadaran menjaga alam sebagai ciptaan Tuhan melalui prinsip keseimbangan dan keadilan menempatkan manusia sebagai penjaga harmoni ekologis.

Dalam konteks tersebut, mitigasi bencana menjadi bagian dari tanggung jawab etis dan spiritual.

Ali juga menekankan bahwa pemulihan tidak dapat dilakukan secara parsial.

Pascabencana, trauma tidak hanya dialami manusia secara fisik dan psikologis, tetapi juga terjadi pada ekosistem.

Karena itu, restorasi lingkungan, penguatan praktik keagamaan yang membangun harapan, serta pendekatan berbasis komunitas dinilai penting dalam proses penyembuhan kolektif.

Ia turut menyoroti peran pengetahuan lokal dan memori kolektif masyarakat dalam respons kebencanaan.

Tradisi lisan, simbol budaya, hingga sistem tanda alam sering kali lebih efektif mendorong respons cepat dibanding sistem formal yang cenderung kaku. 

Integrasi kearifan lokal dengan teknologi modern disebut dapat memperkuat sistem peringatan dini agar lebih relevan dan diterima masyarakat.

Konsep citizen science juga dinilai membuka ruang demokratisasi pengetahuan.

Warga tidak lagi dipandang sebagai objek kebijakan, melainkan sebagai pengamat lingkungan, pengumpul data, dan aktor utama dalam mitigasi risiko berbasis informasi.

Dalam forum yang sama, Suhadi Cholil, dosen Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, memaparkan keterkaitan krisis ekologi dan bencana katastrofik dalam perspektif “Ekoteologi Islam dan Foresight dalam Bencana Katastrofik”.

Ia menilai bencana ekologis, khususnya di Sumatera, tidak terlepas dari degradasi lingkungan yang berlangsung sistematis selama puluhan tahun.

Data deforestasi dan kerusakan hutan, menurutnya, menjadi indikator kuat bahwa krisis tersebut merupakan hasil interaksi kompleks antara kebijakan, kepemimpinan politik, dan budaya konsumtif masyarakat.

Suhadi menawarkan ekoteologi Islam sebagai kerangka etis yang bertumpu pada konsep amanah, khalifah, mizan (keseimbangan), serta larangan berbuat kerusakan.

Namun, ia mengingatkan bahwa nilai normatif saja tidak cukup tanpa kebijakan konkret dan strategi implementatif.

Ia juga memperkenalkan pendekatan foresight atau studi masa depan sebagai instrumen strategis untuk membaca berbagai kemungkinan dan menyiapkan respons kebijakan sejak dini.

Pendekatan ini menekankan pentingnya berpikir melampaui siklus politik lima tahunan agar penanganan bencana tidak bersifat reaktif.

Metode seperti environmental scanning, perencanaan skenario, dan backcasting dinilai dapat menjembatani visi normatif dengan kebijakan konkret.

Melalui pendekatan tersebut, visi “Nusantara Seimbang 2045” berbasis prinsip keseimbangan ekologis dapat ditarik ke masa kini untuk menentukan langkah investasi, kebijakan, dan inovasi yang konsisten dengan tujuan jangka panjang.

Secara keseluruhan, forum tersebut menegaskan bahwa krisis lingkungan adalah persoalan multidimensional yang mencakup aspek teknis, sosial, politik, dan spiritual.

Integrasi eko-teologi dan foresight dipandang mampu mendorong transformasi paradigma penanggulangan bencana dari pendekatan reaktif menjadi proaktif dan berorientasi masa depan. (*)